Masinton: 19 Desa Masih Terisolir, Tapteng Butuh Alat Berat dan Air Bersih

10 Desember 2025 13:33 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Masinton: 19 Desa Masih Terisolir, Tapteng Butuh Alat Berat dan Air Bersih
Selain persoalan akses, Bupati Tapteng Masinton Pasaribu juga meminta bantuan penyediaan air bersih bagi warga yang sudah mulai terserang penyakit. #kumparanNEWS
kumparanNEWS
Tim SAR gabungan mencari keberadaan jasad Divan, korban longsoran tebing Bukit Aek Matauli yang berdampingan dengan Perumahan Pandan Permai, Sibuluan Indah, Pandan, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Sabtu (6/12/2025). Foto: M Riezko Bima Elko P/Antara
zoom-in-whitePerbesar
Tim SAR gabungan mencari keberadaan jasad Divan, korban longsoran tebing Bukit Aek Matauli yang berdampingan dengan Perumahan Pandan Permai, Sibuluan Indah, Pandan, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Sabtu (6/12/2025). Foto: M Riezko Bima Elko P/Antara
Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu menyatakan hingga kini masih terdapat 19 desa dan satu kecamatan yang terisolir akibat banjir dan longsor besar sejak 25 November lalu.
Pemkab, kata Masinton, telah memperpanjang status tanggap darurat selama 14 hari ke depan karena akses ke sejumlah wilayah belum bisa ditembus.
Data yang dihimpun, 19 desa itu ialah Simarpinggan, Panggaringan, Sialogo, Parjalihotan Baru, Muara Sibuntuon, Bonan Dolok, Mardame, Naga Timbul, Rampa, Simaninggir, Nauli, Bair, Aloban, Mela Dolok, Tapian Nauli Saur Manggita, Sigiring-giring, Sait Nihuta Kalangan B, Hutanabolon, dan Sipange.
Masinton Pasaribu menegaskan, kebutuhan paling mendesak saat ini adalah alat berat untuk membuka akses dan menormalisasi aliran sungai yang tersumbat material kayu dan lumpur akibat banjir bandang.
“Sekarang kami perlu alat berat — eskavator, beko, beko loader lengkap dengan penjepit kayu,” ujarnya.
Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Menurut Masinton, tujuh aliran sungai di wilayah Tapanuli Tengah kini tertutup tumpukan gelondongan kayu dan sedimen lumpur. Akibatnya, aliran air keluar dari jalur sungai dan menggenangi rumah-rumah warga.
“Normalisasi (sungai) ini membutuhkan alat-alat berat. Karena sekarang sungai-sungai sungai itu sudah merembes mengalir tidak lagi dari alur sungai tapi bergeser ke jalan dan pemukiman warga. Gitu masyarakat enggak bisa menempati rumahnya karena terus dialiri air,” katanya.
Masinton memperkirakan jumlah kayu yang menumpuk di sepanjang sungai mencapai ratusan ribu kubik. Selama 9 bulan menjabat, ia melihat sendiri perbukitan di Tapteng sudah banyak dialihfungsikan menjadi lahan sawit, sementara hutan dibabat meninggalkan log-log kayu di sana.
Warga berjalan di atas sampah kayu gelondongan pasca banjir bandang di Desa Aek Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Sabtu (29/11/2025). Foto: Yudi Manar/ ANTARA FOTO
“Saya datang langsung ke perbukitan, lihat banyak bukit dikeruk… beberapa di kawasan hutan kayunya dipotongin pakai senso… ditanam sawit…Bahkan menurut data BPS, deforestasi di Tapanuli Tengah melonjak dari sekitar 16.000 hektar pada 2023 menjadi 40.800-an hektar lebih pada 2024,” ungkapnya.
Selain persoalan akses dan sungai, Masinton juga menyebut seluruh instalasi jaringan air bersih rusak total, dari pipa di hulu hingga sambungan rumah warga. Warga kini hanya mengandalkan air dari tangki bantuan, namun jumlahnya sangat terbatas. Karenanya ia membutuhkan bantuan pemerintah pusat untuk mengatasi persoalan air ini.
“Warga di beberapa titik pengungsian maupun yang mengungsi di tempat pengungsian ataupun yang menginap di rumah saudaranya, familinya, temannya, itu sudah mulai muncul apa tuh bintil-bintil apa tuh seperti cacar apa gitu kayak cacar air gitu loh bintil-bintil di tubuhnya. Di tangan maupun di badan tuh kan. Akibat sanitasi air bersih yang apa tadi,” ujarnya prihatin.
Prajurit TNI dari Satuan Tugas (Satgas) Yonif 122/Tombak Sakti (TS) Kodam I/BB menyalurkan bantuan logistik di Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapanuli Tengah, Selasa (2/12/2025). Foto: Dok. Puspen TNI
Pemerintah Tapteng, lanjutnya, kini tengah menyiapkan lahan aman dari banjir dan longsor untuk pembangunan hunian sementara bagi para pengungsi.
“Maka kami nanti tanggung jawab kami adalah menyiapkan lahan-lahan yang bisa untuk dijadikan hunian sementara, nanti biar pemerintah pusat lah yang bantu ngebangunnya gitu,” tutup Masinton.
Trending Now