Maya Tamimi: Dari Kenangan Laut Masa Kecil hingga Perjuangan Jaga Lingkungan

22 September 2025 16:06 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Maya Tamimi: Dari Kenangan Laut Masa Kecil hingga Perjuangan Jaga Lingkungan
Pada momen kumparan Green Initiatives Conference 2025, Maya Tamimi dari Unilever berbagi insight soal menjaga laut dari sampah plastik.
kumparanNEWS
Head of Division Environment & Sustainbility Unilever Indonesia Maya Tamimi menyampaikan paparan saat sesi panel dalam kumparan Green Initiative Conference 2025 di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (17/9/2025). Foto: Wahyu
zoom-in-whitePerbesar
Head of Division Environment & Sustainbility Unilever Indonesia Maya Tamimi menyampaikan paparan saat sesi panel dalam kumparan Green Initiative Conference 2025 di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (17/9/2025). Foto: Wahyu
Laut bukan hanya bentangan air asin yang luas bagi Maya Tamimi, seorang pecinta lingkungan yang kini menjabat Head of Division Environment & Sustainability Unilever Indonesia Foundation.
Menurut dia, laut adalah rumah kedua yang merekatkan kenangan masa kecilnya. Dalam sesi Greensight kumparan Green Initiatives Conference 2025 di Hotel Borobudur Jakarta, Rabu (17/9), Maya berbagi kisah personal yang menjadi alasan kuat mengapa ia memilih jalan hidup untuk peduli pada laut dan lingkungan.
“Setiap melihat laut, ingatan saya langsung terlempar ke masa kecil. Saat-saat di mana ayah saya mengajak kami pergi ke laut. Bukan sekadar tempat bermain, tapi tempat di mana adanya kenangan paling berharga dalam hidup saya. Biasanya, ayah memancing, kami berenang di air yang bersih dan segar. Laut itu terasa seperti dunia kami sendiri, bebas dan penuh kebahagiaan,” tuturnya.
Satu hal yang paling membekas, lanjutnya, adalah kebiasaan sang ayah membawa drum biru berisi air. Setelah puas bermain di laut, ia dan saudara-saudaranya akan diguyur dengan air dari drum itu, ritual sederhana yang kini justru menjadi simbol kedekatannya dengan laut.
Ilustrasi pantai yang indah dan bersih. Foto: Shutterstock
Kecintaan pada laut membawanya menekuni studi di bidang Perikanan dan Biologi Laut. Dari situ, Maya berkesempatan menyelami indahnya bawah laut di berbagai daerah, mulai dari Kepulauan Seribu, Bali, Sulawesi, Maumere, hingga Great Barrier Reef di Australia.
Namun, seiring waktu, kesadaran pahit datang menghampiri. Ketika ia ingin memperkenalkan keindahan laut kepada anak-anaknya, Maya mendapati laut yang dulu bersih kini penuh sampah.
“Pantai yang dulu jadi tempat bermain kini terlalu kotor untuk dikunjungi. Untuk menemukan laut yang nyaman, saya harus pergi jauh dan bahkan di sana, kondisinya tak seindah dulu,” terangnya.
Kesadaran itulah yang membuatnya yakin bahwa sesuatu harus dilakukan. Jalan hidup kemudian membawanya bergabung dengan Unilever Indonesia. Lebih dari sepuluh tahun, Maya mengabdikan diri pada isu lingkungan, khususnya plastik dan sampah.
“Pertanyaan yang sering muncul di benak saya, mungkin juga teman-teman semua, adalah: kenapa ya kita masih menggunakan plastik?” ujarnya. Pertanyaan itu tidak berhenti di situ, melainkan menjadi pendorong bagi Maya dan timnya untuk terus mencari solusi agar plastik tidak menjadi masalah, melainkan tetap menjadi bagian dari solusi.
Ilustrasi sampah plastik di pantai. Foto: Shutter Stock
Ia menjelaskan, tantangan di Indonesia sangat unik. Wilayah yang begitu luas, jalur distribusi produk yang panjang, hingga kebiasaan konsumsi masyarakat membuat plastik masih dibutuhkan. Namun, tantangan ini sekaligus peluang untuk menciptakan inovasi yang lebih ramah lingkungan.
Di Unilever, langkah nyata dimulai dari rumah. Edukasi tentang pemilahan sampah menjadi prioritas, karena plastik sebenarnya bisa didaur ulang jika tidak bercampur sisa makanan.
Sejak awal 2000-an, Unilever telah membina 4.000 Bank Sampah, tempat warga bisa menabung sampah, menimbang, mencatat, dan mendapatkan nilai ekonomi dari sampah yang dikumpulkan.
Selain itu, hadir pula U-Refill, gerai penjualan produk tanpa kemasan sekali pakai. Konsumen cukup membawa wadah sendiri dan bisa membeli produk home care dengan kemasan isi ulang. Dukungan terhadap TPS3R, pelapak, serta titik pengumpulan sampah juga terus diperkuat.
Head of Division Environment & Sustainbility Unilever Indonesia Maya Tamimi menyampaikan paparan saat sesi panel dalam kumparan Green Initiative Conference 2025 di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (17/9/2025). Foto: Wahyu
Hasilnya terlihat nyata. Sejak 2020, jumlah sampah plastik yang berhasil dikumpulkan dan diproses meningkat signifikan. Seperti pada 2024, Unilever Indonesia telah mengumpulkan dan memproses 90.000 ton sampah plastik lebih banyak daripada yang digunakan untuk menjual produknya. Namun, Maya menekankan upaya ini tidak bisa hanya dilakukan oleh satu pihak.
“Kami butuh kolaborasi untuk menghasilkan solusi yang terus berdampak dan mencapai tujuan lebih cepat bersama pemerintah, NGO, perusahaan lain, dan masyarakat,” tegasnya.
Di sisi produsen, tim R&D Unilever terus berinovasi dengan prinsip Less plastic, Better plastic, No plastic—mengurangi volume plastik, menggunakan bahan yang lebih mudah didaur ulang, bahkan mencari alternatif tanpa plastik.
Menurut Maya, edukasi ke konsumen juga tak kalah penting. Plastik terbaik pun akan tetap menjadi masalah jika dibuang sembarangan. Karena itu, perubahan perilaku di tingkat rumah tangga menjadi kunci. “Perubahan besar dimulai dari langkah kecil. Dari rumah kita, dari kebiasaan sehari-hari,” pesannya.
Tak kalah penting, Maya mengajak seluruh pihak untuk melihat sampah bukan sekadar masalah, melainkan peluang untuk berbuat baik.
“Mari kita memilah sampah. Mari kita menjaga lingkungan kita. Karena laut bukan hanya kenangan masa kecil saya, tapi warisan yang harus kita jaga untuk anak-anak kita,” pungkasnya.
Trending Now