Megawati: Dulu Marhaenisme Banyak Dikonotasikan dengan Komunisme
29 September 2023 17:38 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
Megawati: Dulu Marhaenisme Banyak Dikonotasikan dengan Komunisme
Megawati: Dulu Banyak yang Mengkonotasikan Marhaenisme adalah KomunismekumparanNEWS

Dalam Rakernas IV PDIP, Ketum Megawati Soekarnoputri, menyinggung soal tekad Indonesia, sebagai negara yang kaya raya, untuk mengurangi impor pangan. Megawati lalu bercerita soal ideologi Marhaenisme yang berangkat dari sosok petani bernama Marhaen.
"Dulu banyak orang yang mengkonotasikan kalau menyebut Marhaenisme kita ini Komunisme. Padahal, berarti orang itu tidak tahu sejarah dan tidak tahu apa sebenarnya Marhaen," tutur Megawati di Rakornas IV PDIP di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Jumat (29/9).
Ia lalu bercerita, Marhaen adalah seorang petani yang pernah ditemui oleh Presiden pertama RI, Sukarno, saat sedang berjuang di Jawa Barat. Saat itu, sempat ada dialog antara Bung Karno dengan Marhaen. Megawati lalu menirukan dialog tersebut.
"Siapa nama Bapak?" tanya Bung Karno.
"Marhaen, Pak," jawab petani itu dengan Bahasa Sunda, kata Megawati.
"Apakah sawah ini punya Bapak? Apakah padi ini punya Bapak?"
"Iya."
"Apakah benihnya punya Bapak?"
"Iya."
"Apakah cangkulnya punya Bapak?"
"Iya."
"Apakah ketika panen nanti, Bapak akan menjual sesuai kehendak Bapak?"
"Iya."
"Apakah Bapak bisa menghidupi keluarga Bapak dengan beras yang telah disediakan?"
"Iya."
Dari dialog itu, kata Megawati, Bung Karno lalu bertanya apakah Marhaen hidup dalam kecukupan. Marhaen lalu mengiyakan.
"Inilah yang sebenarnya filosofi dari Marhaenisme, dan ini yang ingin saya kenalkan ke Pak Presiden, Pak Wakil Presiden, dan kalau mau tahu, supaya jangan ada prasangka. Makamnya [Marhaen] itu ada, silakan cari di Kampung Cipagolo, Bandung. Jadi bukan omong kosong," tegas Megawati.
Megawati menegaskan, Bung Karno menggagas ideologi Marhaenisme karena ia ingin seluruh rakyat Indonesia, termasuk petani dan nelayan bisa menjadi sebuah sokoguru. Soko adalah tiang, guru adalah guru. Sehingga sokoguru bisa diartikan sebagai pelajaran bagi kemakmuran seluruh rakyat.
"Pak Marhaen itu adalah representasi wong cilik bersama petani, nelayan, serta mereka yang hidup dalam kemiskinan yang jadi dasar atau tujuan dari PDIP. Kita harus menjabarkan falsafah pembebasan ini ke dalam konsep demokrasi ekonomi," tutupnya.
