Megawati: Penjajahan Kini Hadir Lewat Algoritma dan Data
·waktu baca 2 menit

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri berbicara mengenai tantangan dunia yang semakin cepat berubah di tengah arus teknologi yang kian pesat. Ia memberikan peringatan bahwa kolonialisme belum berakhir, tapi hanya berganti wajah.
“Jika dulu penjajahan hadir dengan meriam dan kapal perang, maka kini ia datang melalui algoritma dan data,” ujar Megawati dalam pidato kuncinya di seminar internasional 70 Tahun Konferensi Asia–Afrika (KAA) di Blitar, Jawa Timur, Sabtu (1/11).
Presiden ke-5 itu menegaskan bahwa kecerdasan buatan (AI), big data, dan sistem keuangan digital lintas batas telah melahirkan bentuk imperialisme baru. Menurutnya, negara-negara maju menjadi pemilik dan pengendali data sementara negara berkembang hanya menjadi pengguna algoritma yang telah diatur.
“Negara-negara maju menjadi pemilik data, sementara negara-negara berkembang menjadi sekadar konsumen algoritma. Manusia direduksi menjadi angka, data menjadi komoditas,” tegas Megawati.
Megawati menyebut tantangan digital bukan semata persoalan ekonomi, tapi persoalan kemanusiaan dan kedaulatan bangsa. Ia menilai, tanpa pengendalian terhadap teknologi dan data, kemerdekaan hakiki akan sulit tercapai.
“Dunia membutuhkan a new global ethics—aturan moral global baru—untuk menata kembali kekuasaan dalam ranah teknologi, ekonomi, dan informasi,” seru Megawati.
Lebih lanjut, Megawati juga menyebut bahwa nilai-nilai Pancasila bisa menjadi pedoman etik dunia digita. Ia menilai, kemajuan teknologi harus dibingkai dalam etika kemanusiaan.
“Dunia yang tidak diatur oleh algoritma tanpa hati nurani, tetapi oleh nilai-nilai Pancasila yang memuliakan kehidupan,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Megawati juga menyoroti terkait masih ketergantungan Indonesia dengan vendor asing. Menurut riset dari Universitas Indonesia pada 2025 ini menunjukkan bahwa 72 persen lembaga publik belum memiliki tata kelola data yang memadai.
Hal tersebut ditautkan Megawati bagaikan perlawanan melawan dekolonisasi pada 1955 dengan perjuangan menghadapi neokolonialisme digital abad 21. Menurutnya, bangsa Indonesia membutuhkan keberanian moral seperti yang pernah dilakukan oleh Proklamator, Soekarno.
“Kita membutuhkan keberanian moral seperti yang pernah ditunjukkan Bung Karno. Dunia kini memerlukan regulasi baru agar teknologi tidak menjadi alat penindasan bentuk baru,” kata Megawati.
“Dari Blitar ini, dari pusara Bung Karno, saya menyerukan kepada dunia: mari kita bangun dunia baru! Dunia yang tidak diatur oleh algoritma tanpa hati nurani,” tutup dia.
