Melihat Kampung Delman di Jakbar yang Dulu Disebut Tempat 'Jin Buang Anak'
7 Desember 2025 17:52 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
Melihat Kampung Delman di Jakbar yang Dulu Disebut Tempat 'Jin Buang Anak'
Di balik gedung-gedung pencakar langit di Kemanggisan, Jakarta Barat, terselip puluhan kandang kuda. Kawasan ini kerap disebut sebagai Kampung Delman.kumparanNEWS

Di balik gedung-gedung pencakar langit di Kemanggisan, Jakarta Barat, terselip puluhan kandang kuda. Kawasan ini kerap disebut sebagai Kampung Delman.
Tepat berada di bantaran Kali Grogol, puluhan kandang itu digunakan para kusir delman yang biasa beroperasi di Monas untuk menyimpan dan merawat kudanya.
Koordinator Lapangan Peduli Kuda Pekerja, Nanang, bercerita bahwa kandang ini berdiri sekitar tahun 2000 silam. Lokasi ini dipilih karena dulu sempat terbengkalai.
Pada awal berdirinya, hanya ada enam kandang kuda. Di sekelilingnya, masih banyak pohon lebat yang menutupi. Tak sedikit juga masyarakat yang membuang sampah di lokasi itu.
"Awal di sini tuh bisa dibilang kayak tempat jin buang anak ," kata Nanang saat ditemui, Minggu (7/12).
Tempat jin buang anak adalah sebutan kiasan untuk lokasi yang sangat terpencil, jauh dan sepi, bahkan tidak ada penduduknya, yang dulu dianggap tak menarik.
Tadinya, ada juga kandang kuda lain yang berada di dekat SMAN 78 Jakarta atau sekitar dua kilometer dari lokasi. Namun, kandang itu tergusur sehingga para penghuninya mulai merapat ke Kampung Delman.
Dari seluruh kandang kuda di Jakarta, Nanang mengeklaim Kampung Delman menjadi lokasi dengan jumlah kuda paling banyak.
"Nah ya kurang lebih sekarang di sini kandang ada 30 ekor totalnya," jelas dia.
Nanang menuturkan, para pemilik kuda merupakan warga sekitar. Para pemilik kuda biasanya juga pengusaha delman. Namun, beberapa di antaranya sudah berusia lanjut sehingga tak mampu lagi berkeliling.
Menurut Nanang, para pemilik kuda merekrut seorang kusir untuk memanfaatkan kudanya. Kebanyakan dari mereka hanya beroperasi pada akhir pekan.
"Kita dinas operasinya itu hanya di Monas, Sabtu-Minggu aja. Di hari-hari biasa, pemilik atau kusir kadang membantu bersihin kandang, mandiin kuda, ngempanin," ucap Nanang.
Gali Lubang Tutup Lubang demi Perawatan Kuda
Di tengah perkembangan zaman, Nanang mengakui pendapatan narik delman tak lagi sebanding dengan biaya perawatannya. Ia menyebut, dalam sehari, biaya pakan kuda menghabiskan sekitar Rp 70 ribu.
Nominal itu terdiri dari pakan rumput yang sehari bisa menghabiskan Rp 50 ribu, belum termasuk penggantian tapal dan tali-temali yang terpasang di tubuh kuda.
"Itu kita hitung-hitung sehari kurang lebih Rp 70 ribu. Makanya kalau kita nggak punya duit bingung. Kadang-kadang juga kita bela-belain ngutang ya buat makan dia," ujar Nanang.
"Jadi gali tutup lubang, gali lubang. Tapi alhamdulillah sih berkah. Karena kita ngelakuin satwanya, ngelakuin kuda-kuda kita juga anggap kayak keluarga kita," tambah dia.
Nanang dan kawan-kawannya mengaku sangat terbuka jika pihak Pemprov Jakarta mau memberikan bantuan, baik untuk kuda maupun pemiliknya.
Mereka juga berharap pemerintah menyediakan lahan yang lebih layak untuk merawat para kuda pekerja ini.
"Ketika pemerintah mau memindahkan atau menyiapkan relokasi untuk kita, ya kenapa enggak. Kita siap aja dengan aturan-aturan mereka," tukasnya.
