Menapaki Dukuh Atas, Berpindah Antarmoda Transportasi, Tanpa 'Jembatan Donat'

19 Oktober 2025 14:16 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menapaki Dukuh Atas, Berpindah Antarmoda Transportasi, Tanpa 'Jembatan Donat'
Pemprov DKI akan membuat jembatan donat penghubung antarmoda transportasidi Dukuh Atas. Bagaimana warga saat ini berpindah dari satu moda ke moda lainnya?
kumparanNEWS
Suasana patung Jenderal Sudirman yang berdiri menunjukkan sikap hormat, di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Sabtu (4/10/2025). Foto: Fadhil Pramudya/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana patung Jenderal Sudirman yang berdiri menunjukkan sikap hormat, di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Sabtu (4/10/2025). Foto: Fadhil Pramudya/kumparan
Dukuh Atas sudah lama dikenal sebagai titik sibuk pergerakan warga dengan transportasi publik di Jakarta. Setiap hari, banyak orang berpindah dari MRT ke KRL, dari LRT ke TransJakarta, atau sebaliknya.
Meski sudah menjadi simpul utama mobilitas warga, konektivitas antarmoda di kawasan ini masih belum sepenuhnya mulus. Salah satu yang sedang digagas Pemprov DKI Jakarta, yakni pembangunan jembatan melingkar atau jembatan donat untuk menyambungkan semua moda transportasi di sana.
Suasana Stasiun KRL Sudirman, Jakarta Pusat, Minggu (19/10/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
kumparan mencoba menyusuri akses konektivitas antarmoda ini pada Minggu (19/10) siang. Dari Halte TransJakarta Galunggung, penumpang yang ingin ke Stasiun LRT Dukuh Atas perlu keluar halte, menyeberang jalan, lalu berjalan sekitar lima menit di sisi Waduk Setiabudi.
Jalurnya memang sudah tertata, tapi aroma khas waduk kadang tercium di sepanjang jalan menuju stasiun.
Suasana Stasiun LRT Dukuh Atas, Jakarta Pusat, Minggu (19/10/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Setibanya di stasiun LRT, tantangan belum selesai. Letak stasiun cukup tinggi. Setidaknya ada 84 anak tangga dari pintu bawah hingga ke dalam stasiun.
Perjalanan terasa lebih lancar saat beralih dari Stasiun LRT Dukuh Atas ke Stasiun KRL Sudirman. Jalurnya sudah terhubung lewat Jembatan Penyeberangan Multiguna (JPM) Dukuh Atas yang cukup nyaman dan tertata. Hanya saja, jaraknya masih lumayan jauh, sekitar enam menit berjalan kaki dari ujung ke ujung.
Suasana Stasiun KRL Sudirman, Jakarta Pusat, Minggu (19/10/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Keluar dari Stasiun KRL Sudirman, penumpang yang ingin menuju Stasiun MRT Dukuh Atas BNI atau Stasiun Kereta Bandara BNI City masih harus turun ke jalan terlebih dahulu sebelum bisa masuk ke area stasiun berikutnya.
Jaraknya hanya sekitar tiga sampai lima menit, tapi tetap memaksa pengguna berpindah level dan jalur.
Jalur-jalur berpindah itu menunjukkan bagaimana Dukuh Atas telah menjadi simpul penting transportasi publik Jakarta, tapi juga sekaligus menegaskan mengapa integrasi antarmoda masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi kota ini.
Suasana stasiun MRT Dukuh Atas, Jakarta Pusat, Minggu (19/10/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan PT MRT Jakarta (Perseroda) tengah menyiapkan proyek jembatan melingkar atau bisa disebut jembatan donat karena terinspirasi donut bridge di Yokohama, Jepang.
Struktur melingkar jembatan itu bakal menghubungkan empat kuadran utama BNI, Landmark, UOB, dan Transport Hub yang selama ini terpisah oleh jalan raya dan sungai.
Pembangunan proyek itu ditargetkan rampung pada 2027. Proyek ini diklaim tidak akan menggunakan dana APBD.
Selain untuk pejalan kaki, sebagian area jembatan juga akan difungsikan untuk kegiatan komersial, seperti kafe dan kios UMKM.

Desain dan Inspirasi dari Jepang

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau TOD Dukuh Atas di acara peresmian Artotel Hub Simpang Temu di Transport Hub Dukuh Atas Jakarta pada Rabu (7/5). Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan
Rencana pembangunan jembatan berbentuk cincin itu muncul setelah Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau kawasan Dukuh Atas dan menilai integrasinya belum optimal.
Selama ini, konektivitas antarmoda di kawasan itu baru sebagian terwujud, salah satunya lewat Jembatan Penyeberangan Multiguna (JPM) yang menghubungkan LRT Jabodebek dengan KRL.
Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda) Tuhiyat menjelaskan bahwa desain jembatan melingkar terinspirasi dari struktur serupa di Yokohama, Jepang.
Jembatan ini akan dibangun dengan lebar sekitar 12 meter, tujuh meter untuk jalur pejalan kaki dan pesepeda, sementara lima meter sisanya akan dimanfaatkan untuk kegiatan komersial.
β€œSehingga nanti kalau ada di Stasiun Sudirman itu langsung terkoneksi ke sini, langsung terkoneksi ke jembatan. Jadi tidak perlu ke bawah. Jadi akan dimanjakan lah kira-kira orang untuk bisa berjalan,” jelas Tuhiyat.
MRT Jakarta memperkirakan 70 ribu orang per hari akan melintasi jembatan tersebut. Pembangunan juga akan dibiayai dengan skema kerja sama swasta (creative financing), tanpa menggunakan dana pemerintah daerah.
Trending Now