Mendikdasmen soal Bahasa Portugis Masuk Kurikulum: Tergantung Kesiapan Gurunya
26 November 2025 15:43 WIB
·
waktu baca 3 menit
Mendikdasmen soal Bahasa Portugis Masuk Kurikulum: Tergantung Kesiapan Gurunya
Mendikdasmen Abdul Mu’ti bicara terkait pendidikan bahasa asing di sekolah dasar. kumparanNEWS

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti bicara tentang kurikulum pendidikan bahasa asing di sekolah dasar. Ia menyebut, sudah dilakukan kajian mengenai pembelajaran bahasa asing.
Mu'ti menyebut, pelajaran Bahasa Inggris nantinya akan mulai diajarkan sejak kelas 3 SD pada 2027, didahului pelatihan guru pada 2026. Selain itu, sejumlah bahasa asing lain akan menjadi pilihan sesuai kesiapan sekolah.
Bagaimana dengan Bahasa Portugis yang sempat disinggung Presiden Prabowo dalam pertemuan dengan Presiden Brasil Lula da Silva bulan lalu?
“Jadi kami sudah melakukan kajian internal soal pembelajaran bahasa asing ya, tidak hanya Bahasa Portugis. Karena bahasa asing itu kan banyak ya,” kata usai rapat bersama Komisi X DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (26/11).
Ada lima bahasa asing yang saat ini paling banyak diajarkan, yakni Arab, Prancis, Mandarin, Jepang, dan sebagian sekolah telah mulai mengajarkan Bahasa Korea.
Terkait rencana Presiden Prabowo Subianto yang ingin bahasa Portugis diajarkan untuk memperkuat hubungan dengan Brasil, menurutnya hal itu menyesuaikan dengan kesiapan guru di sekolah.
“Dan nanti kemungkinan juga bisa diajarkan Bahasa Portugis. Tapi nanti sangat tergantung pada bagaimana kesiapan gurunya, juga bagaimana kesiapan sarana prasarananya,” ujar Mu’ti.
Bahasa dan Sastra Indonesia
Lebih lanjut Mu'ti menuturkan, pihaknya membuka peluang perubahan nama mata pelajaran Bahasa Indonesia menjadi “Bahasa dan Sastra Indonesia” untuk memastikan aspek sastra benar-benar diajarkan di sekolah.
“Mungkin ya, saya juga belum membahas secara detail di internal, tapi tadi saya sempat bicara singkat dengan Pak Wakil Menteri (Atip Latipulhayat) yang kami tugasi untuk menyiapkan rancangan perubahan Undang-Undang Sisdiknas. Mungkin nanti namanya diubah. Kalau sekarang kan hanya ‘Bahasa Indonesia’,” kata Mu’ti.
“Untuk memastikan bahwa sastra diajarkan, mungkin bisa diusulkan namanya nanti pelajaran ‘Bahasa dan Sastra Indonesia’. Mungkin bisa begitu. Untuk memastikan bahwa sastra termasuk di dalam pembelajaran Bahasa Indonesia,” lanjutnya.
Ia menegaskan usulan tersebut muncul karena banyak saran dari berbagai pihak agar sastra tidak tenggelam dalam cakupan Bahasa Indonesia semata.
“Ini kan bukan hanya satu saran ya, banyak sekali yang memang menyampaikan saran. Kalau Bahasa Indonesia kan mata pelajaran wajib, sudah ada kan sekarang ini,” ujarnya.
Komisi X Soroti Bahasa Indonesia Kacau Akibat Gadget
Dalam rapat yang sama, anggota Komisi X DPR dari PKB, Habib Syarief, menilai pembelajaran Bahasa Indonesia perlu pendekatan baru karena terjadi penurunan kualitas berbahasa di kalangan pelajar.
Ia menilai gadget telah mempengaruhi cara berbahasa anak-anak hingga menciptakan bahasa baru yang tidak sesuai kaidah.
Habib juga menekankan perlunya kajian pedagogis agar Bahasa Indonesia diajarkan dengan cara lebih tepat.
“Nampaknya selain kurikulum, Kemendikdasmen perlu ada satu kajian khusus tentang bagaimana pedagogisnya, cara mengajarkan Bahasa Indonesia yang baik,” tambahnya.
Ia menilai aspek sastra juga makin hilang dari perhatian generasi muda karena minimnya akses terhadap buku-buku klasik.
“Nah, mudah-mudahan ini bisa dikaji kembali. Dan anak-anak sekarang banyak yang tidak tahu, ya. Itu adalah sebuah kerugian besar,” tambahnya.
