Menelusuri Jejak Ekowisata di Kampung Berseri Astra Pulau Pramuka

11 Juli 2025 15:33 WIB
·
waktu baca 6 menit
clock
Diperbarui 8 September 2025 15:43 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menelusuri Jejak Ekowisata di Kampung Berseri Astra Pulau Pramuka
Kampung Berseri Astra (KBA) di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu tak hanya memberdayakan masyarakat setempat, melainkan juga mendorong wisatawan untuk jaga lingkungan.
kumparanNEWS
Kampung Berseri Astra Pulau Pramuka. Foto: Kelik Wahyu Nugroho/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kampung Berseri Astra Pulau Pramuka. Foto: Kelik Wahyu Nugroho/kumparan
Pulau Pramuka di Kepulauan Seribu menjadi salah satu destinasi wisata laut yang mudah dijangkau dari Ibu Kota. Terletak sekitar 40 km dari Ancol, Jakarta Utara, pulau tersebut memiliki daya tarik ekowisata, mulai dari pembibitan terumbu karang hingga pusat pelestarian penyu yang berkelanjutan.
Dari Jakarta, para pengunjung bisa mengakses pulau tersebut dengan dua cara: menggunakan kapal tradisional (+/- 2,5 jam perjalanan) maupun speedboat (+/- 1 jam perjalanan). Kapal-kapal ini tersedia di Muara Angke maupun Dermaga Marina Ancol.
Begitu sampai di dermaga Pulau Pramuka, wisatawan akan disambut dengan air laut yang jernih, sehingga terumbu karang dan ikan tampak jelas. Tak jauh dari dermaga, tampak garis pantai yang menjadi lokasi tumbuhnya bibit terumbu karang. Membentuk siluet putih, lokasi ini tampak indah dengan perpaduan air laut yang jernih berwarna tosca dan hutan mangrove yang subur di sebelahnya.
Kampung Berseri Astra Pulau Pramuka. Foto: Kelik Wahyu Nugroho/kumparan
Asrinya Pulau Pramuka tak lepas dari usaha masyarakat dan pemerintah setempat dengan dukungan Astra untuk menghidupkan ekosistem berkonsep ekowisata. Sejak sepuluh tahun lalu, Astra membantu pemberdayaan masyarakat dan lingkungan melalui program Kampung Berseri Astra.
Mahariah seorang local champion atau tokoh penggerak Kampung Berseri Astra Pulau Pramuka menjelaskan proyek ekowisata sudah dimulai sejak 2003. Bersama Astra, masyarakat juga membangun RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak) Tanjung Elang Berseri yang berada di atas laut sebagai tempat kegiatan dan interaksi warga.
“Pulau pramuka yang mengawali ekowisata dari 2003. Dan itu dimulai dari kesadaran kita rusak. Misalnya, nelayan kalau ngambil (ikan) seenaknya, terus sanitasinya juga enggak bagus. Apa yang bisa kita lakukan? Nah, pilihannya ekowisata,” jelas Mahariah saat ditemui kumparan di Pulau Pramuka beberapa waktu lalu.
Mahariah, tokoh penggerak Kampung Berseri Astra Pulau Pramuka. Foto: Kelik Wahyu Nugroho/kumparan
Mangrove awalnya ditanam masyarakat setempat untuk menghalau abrasi. Mereka juga bahu-membahu merehabilitasi terumbu karang yang rusak. Dengan adanya ekowisata, wisatawan tak hanya bisa menyelam atau snorkeling, melainkan juga ikut merawat ekosistem dengan menanam bibit terumbu karang serta mangrove.
Kegiatan ini, kata Mahariah, menjadi contoh bagi pengembangan wisata konservasi di pulau lain yang masih dalam gugusan Kepulauan Seribu, seperti di Pulau Tidung, Pulau Kelapa dan Pulau Harapan.
“Kalau di Kepulauan Seribu kan wisatanya alam, otomatis mereka (wisatawan) harus punya rasa peduli sama lingkungan,” ujarnya.

Wisata Edukasi Konservasi Penyu di Taman Nasional

Kampung Berseri Astra Pulau Pramuka. Foto: Kelik Wahyu Nugroho/kumparan
Pulau seluas sekitar 16 hektare ini memiliki kawasan konservasi terpadu. Selain hutan mangrove, terdapat lokasi penangkaran penyu, tepatnya di Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu. Di sini, wisatawan bisa menjumpai penyu sisik dan penyu hijau yang dirawat dengan baik sebelum kembali dilepaskan ke laut.
Menurut petugas Pusat Sanctuary Penyu Taman Nasional Kepulauan Seribu, Yuliansyah, penyu sisik merupakan satwa endemik yang berkembang biak di kawasan pantai Kepulauan Seribu. Tak hanya merawat bayi penyu yang baru menetas, pihaknya juga merawat penyu yang terjerat jaring nelayan.
“Bisa menghasilkan 100-200 butir telur sekali bertelur. Bertelurnya cuma 2 tahun sekali paling cepat, paling lama 8 tahun sekali. Sehingga kita menganalisis mereka ini sulit untuk dikembangbiakkan,” jelasnya.
Populasi penyu di perairan Kepulauan Seribu, kata Yuliansyah, berperan penting sebagai indikator perairan yang baik dan juga menjaga ekosistem terumbu karang maupun lamun (sea grass). Semakin bersih perairan dari polusi air, maka penyu semakin senang ke permukaan laut.
Konservasi ini pula yang menjadi daya tarik wisata ke Pulau Pramuka. Jadi, wisatawan tak sekadar menikmati keindahan laut saja, melainkan juga dapat literasi tentang penyu. Ini merupakan langkah untuk meningkatkan perekonomian warga sekitar.

Literasi Hijau: Rumah Literasi dan Bank Sampah

Kampung Berseri Astra Pulau Pramuka. Foto: Kelik Wahyu Nugroho/kumparan
Mahariah bercerita, selain menghidupkan konservasi penyu, masyarakat juga memanfaatkan rumah literasi untuk mendongkrak semangat membaca anak-anak. Tak sampai di situ, rumah literasi tersebut berfungsi sebagai salah satu pusat kegiatan masyarakat.
“Kalau lebaran, ini kita bikin festival dokumentasi. Jadi, hasil (dokumentasi) dari yang mereka bikin itu ditayangkan. KIta undang masyarakat untuk menonton refleksi, mulai dari foto-foto (pulau) zaman dulu sampai sekarang,” ujar Mahariah.
Selain menghidupkan budaya membaca, masyarakat, khususnya kalangan anak muda Pulau Pramuka, juga didorong untuk bisa membuat konten baik fotografi atau videografi.
“Pendekatannya, mereka harus bangga jadi orang pulau dulu. Ditandai dengan merekam aktivitas sehari-hari. Dari sana mereka cari referensi dan akhirnya mereka mau baca,” jelasnya.
Di sisi lain Pulau Pramuka, di balik rumpun bakau, terdapat bank sampah yang aktif mendaur ulang sampah plastik. Selama ini, sampah memang menjadi masalah di perairan sekitar yang dapat membahayakan ekosistem laut.
Kampung Berseri Astra Pulau Pramuka. Foto: Kelik Wahyu Nugroho/kumparan
Mahariah menjelaskan, bank sampah yang disebut Lab Plastik itu mengolah sampah plastik domestik dari warga maupun yang terapung di laut menjadi eco brick dan solar. Sampah ini juga dihasilkan dari aksi bersih-bersih pantai yang dilakukan wisatawan.
Melalui pendampingan Astra, tim bank sampah mampu menghasilkan 20 liter solar per hari dari sampah plastik dengan mesin Pirolisis, teknologi pengubah sampah plastik menjadi BBM. Sampah-sampah harus dipilah sesuai jenisnya, kemudian masuk proses Pirolisis sehingga menjadi solar.
Abda, salah satu volunteer mengungkapkan, program ini berkolaborasi dengan nelayan. Lewat program 1 banding 3, para nelayan bisa menukarkan 3 kilogram sampah plastik yang mengapung di laut, menjadi satu liter solar untuk operasional perahu mereka.
“Ada plastik jenis PP, itu biasanya lebih worth it untuk diolah menggunakan mesin pirolisis ini. Juga hasilnya lebih bagus. Kalau kita olah plastik LDPE, bubble wrap, biasanya kalau kita olah plastik kondisi bersih, kemudian kering, itu bisa mendapatkan hasil 1 liter,” jelas Abda.
Kampung Berseri Astra Pulau Pramuka. Foto: Kelik Wahyu Nugroho/kumparan
Pemanfaatan Pirolisis tersebut menjadi contoh bahwa persoalan sampah plastik bisa diatasi. Namun bagi Mahariah, masih ada tantangan yang harus dihadapi, yakni minimnya input sampah.
“Persoalan kita, sampah kita tuh masih banyak di jalanan. Hitungan kita misalnya 7 ton, yang baru kita serap paling 2-3 ton. Artinya masih banyak di jalan yang harus kita cari caranya, supaya bisa keserap tuh sistem inputnya,” kata dia.
Selain perlunya kesadaran masyarakat, salah satu solusinya menurut Mahariah, adalah memaksimalkan bank sampah di Kepulauan Seribu yang kini terdigitalisasi. Astra telah mengembangkan digitalisasi bank sampah, sehingga masyarakat bisa memantau angka bank sampah secara real time.
Kampung Berseri Astra di Pulau Pramuka telah berjalan dan menjadi contoh bagi pulau-pulau lainnya. Mahariah berharap, inisiatif ekowisata dan bank sampah yang telah berjalan bisa menginspirasi wilayah lain agar lebih peduli terhadap sampah, terutama sampah yang berujung ke laut.
“PR kita, terutama sampah kiriman. Itu kan bukan sampah rumah tangga, ya. Laut kan enggak bisa milah, apalagi bekas banjir. Jadi, kenapa kita intervensi sampah? Karena mangrove kita hancur gara-gara sampah. Itu kita tanam ulang,” jelas Mahariah.
Trending Now