Menguak Peradaban Mataram Kuno di Situs Liyangan saat Letusan Dahsyat Sindoro
29 Oktober 2025 11:04 WIB
·
waktu baca 3 menit
Menguak Peradaban Mataram Kuno di Situs Liyangan saat Letusan Dahsyat Sindoro
Liyangan merupakan bagian penting dari jaringan peradaban Mataram Kuno di Jawa Tengah. Situs ini memiliki struktur teras dan saluran air yang menunjukkan adanya perencanaan ruang yang kompleks pada makumparanNEWS

Situs Liyangan di lereng Gunung Sindoro, Temanggung, kembali menjadi sorotan para arkeolog. Apa penyebabnya?
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Sugeng Riyanto, mengungkapkan hingga kini para peneliti belum menemukan indikasi korban jiwa saat terjadi letusan besar di situs tersebut pada masa lalu.
“Masyarakat Liyangan Kuno tampaknya sudah sempat menyelamatkan diri sebelum letusan besar terjadi. Mereka meninggalkan wilayahnya, tetapi warisan (peradabannya) tersimpan di bawah abu gunung,” ucap Sugeng dikutip dari situs resmi BRIN, Rabu (29/10).
Letusan besar diperkirakan terjadi di tahun 1.600-1.700 Masehi.
Sugeng menjelaskan, Liyangan merupakan bagian penting dari jaringan peradaban Mataram Kuno di Jawa Tengah. Situs ini memiliki struktur teras dan saluran air yang menunjukkan adanya perencanaan ruang yang kompleks pada masa itu.
“Liyangan bukan hanya satu titik permukiman, tetapi bagian dari lanskap budaya yang luas. Struktur teras dan saluran air menunjukkan adanya perencanaan ruang yang kompleks pada masa itu,” jelas Sugeng.
Menurut Sugeng, berdasarkan data arkeologi, zona inti situs seluas sekitar 10 hektare hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan kawasan budaya Liyangan yang mencapai 159 hektare.
Temuan talut, batur, dan sisa lumbung menunjukkan bahwa masyarakat saat itu telah memiliki sistem terasering dan pertanian berkelanjutan.
“Aspek permukiman, pertanian, dan peribadatan saling terhubung membentuk satu kesatuan kehidupan masyarakat masa itu,” ujarnya.
Sugeng berkata, bahwa penelitian di Liyangan juga menemukan artefak-artefak logam, peralatan rumah tangga, dan wadah keramik yang memiliki kemiripan dengan relief di Candi Borobudur. Hal ini menandakan kedekatan budaya antara Liyangan dan pusat peradaban Mataram Kuno.
“Material vulkanik menyegel peradaban Liyangan Kuno dan menjadikannya situs yang utuh untuk kita teliti hari ini,” ujarnya.
Sugeng menekankan pentingnya pelestarian berbasis masyarakat dan mengajak semua pihak untuk terlibat dalam pelestarian situs Liyangan. Dengan demikian, situs ini dapat menjadi sumber pengetahuan dan edukasi bagi masyarakat luas.
Bukti Keseimbangan Alam dan Manusia
Sementara itu, Kepala Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah (PRAPS) BRIN, Irfan Mahmud, menyebutkan menyebutkan bahwa situs liyangan menyimpan jejak kehidupan masyarakat masa klasik yang tertimbun material vulkanik.
Struktur bangunan, artefak logam, dan sisa bahan organik yang terbakar menjadi bukti bagaimana manusia masa lalu hidup berdampingan dengan alam, sekaligus menghadapi bencana yang menenggelamkan peradaban mereka.
Oleh karena itu, lanjut Irfan, situs ini menjadi kunci penting untuk memahami hubungan manusia dan kebencanaan pada masa Mataram Kuno.
"Riset lanjutan perlu dilakukan secara multidisiplin untuk menelusuri aspek biogenetik, lanskap antropogenik, dan arsitektur religius di wilayah tersebut," kata Irfan.
