Menkomdigi Sebut IoT Buat Petani Sragen Hemat Pupuk dan Tingkatkan Produktivitas

5 November 2025 15:28 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menkomdigi Sebut IoT Buat Petani Sragen Hemat Pupuk dan Tingkatkan Produktivitas
Penerapan teknologi IoT di Sragen menekan penggunaan pupuk padi hingga 50 persen sekaligus meningkatkan produktivitas dan menjaga ekosistem tanah.
kumparanNEWS
Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Meutya Hafid di The Ritz-Carlton, Jakarta pada Rabu (22/10/2025). Foto: Amira Nada Fauziyyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Meutya Hafid di The Ritz-Carlton, Jakarta pada Rabu (22/10/2025). Foto: Amira Nada Fauziyyah/kumparan
Penerapan teknologi Internet of Things (IoT) di sektor pertanian mampu menekan penggunaan pupuk padi hingga 50 persen di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.
Hal ini disampaikan Menteri Komunikasi dan Digitalisasi (Menkomdigi) Meutya Hafid saat menghadiri panen padi bersama petani di Desa Jetak, Sidoharjo, Sragen, Jawa Tengah, Rabu (5/11).
Meutya menjelaskan, penggunaan teknologi digital dalam pertanian dengan basis IoT atau kecerdasan buatan, tak hanya meningkatkan produktivitas, tapi juga menurunkan emisi karbon dan menjaga ekosistem tanah.
“Kalau kita mau kedaulatan pangan, teknologinya juga berdaulat. Jadi nanti padinya berdaulat. Startupnya juga kalau bisa, kalau sudah ada di tingkat lokal yang mampu, ya kita tidak perlu lagi memakai startup dari mancanegara supaya kita betul-betul berdaulat,” ujar Meutya.
Ia menjelaskan, proyek penerapan teknologi pertanian tersebut membantu petani mengetahui kondisi sawah secara real time, termasuk kebutuhan air, pupuk, dan suhu lahan.
Tekenologi itu berupa alat bernama Jinawi IoT, yang mampu mengukur kelembaban tanah dan merekomendasikan pemupukan yang lebih presisi sesuai kondisi tanah.
“Untuk memastikan bahwa ini betul-betul bisa meningkatkan produktivitas dan tadi kita lihat bahwa angkanya naik, produktivitas juga naik. Sementara untuk penggunaan pupuk tadi penurunannya sampai 50 persen bahkan mungkin lebih,” kata Meutya.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid saat panen padi di Desa Jetak, Sidoharjo, Sragen, Jawa Tengah, Rabu (5/11/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
“Dan tadi setelah berbincang dengan para petani setelah menggunakan IoT dan kecerdasan artifisial sederhana, ini sudah mampu mengurangi pemakaian pupuk sekitar 40 sampai 50% dengan produktivitas yang juga meningkat, emisi karbon yang lebih rendah. Jadi ini selain lebih produktif, untuk lingkungan juga lebih baik,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi Edwin Hidayat Abdullah, mengatakan sistem IoT Jinawi fokus pada pengelolaan unsur hara tanah, sehingga mampu menekan pemakaian pupuk secara signifikan.
“Kalau kita lihat memang IoT Jinawi ini lebih fokus pada unsur hara tanah, NPK dan juga pH. Di sini terjadi penurunan penggunaan pupuk. Kalau dalam catatan kami ini bisa sampai dengan 50%,” jelas Edwin.
“Tapi saya perhatikan di film tadi, dialog antara petani dengan penyuluhnya, mengatakan biasanya habis pupuknya 150 kilo, tapi sekarang cukup 71 kilo. Itu berarti lebih dari 50%,” sambungnya.
Salah satu petani padi, Tri Widodo, dari Kelompok Tani Trida Tani, Desa Kaliwedi, Kecamatan Gondang, mengaku penggunaan alat Jinawi membuatnya lebih hemat pupuk dan mudah memantau kondisi tanah.
“Saya sebelum pakai alat digital Jinawi itu, saya memupuk tanaman padi saya menggunakan pupuk Korea, Phonska, ZA, KCL sama CSP 36,” ujar Tri.
“Dan saya menggunakan pupuk itu, per satu hektarnya itu menggunakan pupuk 1 ton 50 kilo. Tapi setelah saya tahu ada alat Jinawi, saya menggunakannya, saya malah irit pupuk,” lanjutnya.
Selain irit pupuk, Tri mengaku alat tersebut juga dapat berguna untuk melihat kondisi lahan miliknya.
“Dan yang pakai alat Jinawi itu, saya bisa melihat tanah kita kekurangan zat apa saja. Zat asam, itu kita bisa lihat. Kelembabannya kita lihat, bisa. Terus setelah pakai alat Jinawi itu, saya hanya menggunakan pupuk per hektare-nya itu 650 kilogram,” jelas Tri.
“Hasilnya bagus. Tanahnya bagus, terus padinya subur, dan batangnya kuat, kokoh, anti roboh,” pungkas dia.
Trending Now