Menlu China: Pernyataan PM Jepang Sanae Takaichi soal Taiwan Melewati Batas!

24 November 2025 15:34 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menlu China: Pernyataan PM Jepang Sanae Takaichi soal Taiwan Melewati Batas!
Menlu China Wang Yi menyatakan pernyataan PM Jepang Sanae Takaichi soal Taiwan sangat mengejutkan dan melewati batas.
kumparanNEWS
Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi menjamu Mahmoud al-Aloul serta Mussa Abu Marzuk anggota senior gerakan Islam Palestina, Hamas, di Wisma Negara Diaoy, Beijing, China, Selasa (23/7/2024). Foto: PEDRO PARDO/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi menjamu Mahmoud al-Aloul serta Mussa Abu Marzuk anggota senior gerakan Islam Palestina, Hamas, di Wisma Negara Diaoy, Beijing, China, Selasa (23/7/2024). Foto: PEDRO PARDO/AFP
Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyatakan pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi soal Taiwan melewati batas. Wang mengatakan, pernyataan Takaichi itu sangat mengejutkan.
"Sangat mengejutkan bahwa pemimpin Jepang saat ini secara terbuka menyampaikan sinyal yang salah tentang upaya intervensi militer dalam isu Taiwan, mengatakan hal yang tidak seharusnya mereka katakan, dan melewati batas yang seharusnya tidak disentuh," kata Wang dalam pernyataan yang diunggah di situs Kemlu China, dikutip dari AP, Senin (24/11).
Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka berbincang dengan Presiden Turki Tayyip Erdogan, dan PM Jepang Sanae Takaichi saat sesi foto bersama pada hari pertama KTT G20 di Nasrec Expo Centre, Johannesburg, Afrika Selatan, Sabtu (22/11/2025). Foto: Thomas Mukoya/Reuters
Wang mengatakan, China harus menanggapi dengan tegas tindakan Jepang dan bahwa semua negara memiliki tanggung jawab untuk mencegah kebangkitan militerisme Jepang.
Takaichi pada awal bulan ini mengatakan serangan China terhadap Jepang dapat mengancam keselamatan negara dan dapat jadi dasar respons militer negara itu. Pernyataan Takaichi itu membuat hubungan kedua negara memanas.
Bahkan, China telah mengirim surat ke Sekjen PBB Antonio Guterres mengkritik pelanggaran hukum internasional berat dan norma-norma diplomatik yang dilakukan Takaichi.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menghadiri sesi pleno KTT Pemimpin G20 di Nasrec Expo Centre, Johannesburg, Afrika Selatan, Sabtu (22/11/2025). Foto: Leon Neal/Pool via REUTERS
"Jika Jepang berani melakukan intervensi bersenjata dalam situasi Selat Taiwan, maka itu adalah tindakan agresi," kata Wakil Tetap China untuk PBB Fu Cong dalam suratnya.
"China dengan tegas akan menjalankan hak membela diri sesuai Piagam PBB dan hukum internasional, serta dengan teguh mempertahankan kedaulatan dan integritas wilayahnya," kata Fu lagi.
Peta China, Jepang, dan Taiwan. Foto: Shutterstock
Bagi Beijing, Taiwan masuk dalam wilayah pemerintahan China -- dapat dicaplok secara paksa jika perlu. China keberatan dengan keterlibatan negara lain di Taiwan, utamanya AS yang merupakan pemasok utama senjata Taiwan. Taiwan juga adalah sekutu AS di Asia seperti Jepang dan Filipina.
Sikap Takaichi dinilai lebih tegas daripada sikap perdana menteri sebelumnya. Perdana menteri sebelum Takaichi memang menyatakan kekhawatirannya terhadap ancaman China ke Taiwan, tapi tidak pernah menyatakan kepada publik tentang bagaimana Jepang harus merespons.
Takaichi menolak menarik pernyataannya soal Taiwan, tapi menyatakan akan menghindari membicarakan skenario spesifik di masa mendatang.

Tidak Ada Pertemuan Jepang-China di KTT G20

Perdana Meteri China Li Qiang. Foto: FLORENCE LO / POOL / AFP
Sementara itu, Takaichi dan Perdana Menteri China Li Qiang tidak saling bertegur sapa selama KTT G20 di Afrika Selatan. Usai menghadiri KTT G20 perdananya, Takaichi mengatakan kepada wartawan belum mengatur pertemuan dengan Li.
"Sejak saya menjadi perdana menteri, niat Jepang untuk membangun hubungan yang saling menguntungkan, konstruktif, dan stabil tetap tidak berubah," kata Takaichi sebagaimana dilaporkan kantor berita Kyodo.
"Jepang terbuka berdialog dalam berbagai level," lanjut Takaichi.
"Ada kekhawatiran dan isu antara Jepang dan China. Inilah mengapa kita harus bekerja menguranginya, memahami satu sama lain, dan bekerja sama lebih erat. Tentu juga penting bagi Jepang untuk mengatakan apa yang perlu dikatakan kepada China," ujar Takaichi.
Trending Now