Menteri LH soal Pabrik Tahu Sidoarjo Berbahan Bakar Sampah: Jangan Sembrono

27 Mei 2025 11:49 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri LH soal Pabrik Tahu Sidoarjo Berbahan Bakar Sampah: Jangan Sembrono
"Jadi pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten tidak boleh kemudian sembrono, tidak kemudian lempar-lemparan," kata Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq.
kumparanNEWS
Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, saat meninjau TPA Suwung di Kota Denpasar, Bali, Selasa (27/5/2025) Foto: Denita BR Matondang/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, saat meninjau TPA Suwung di Kota Denpasar, Bali, Selasa (27/5/2025) Foto: Denita BR Matondang/kumparan
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq meminta Pemprov Jawa Timur dan Pemkab Sidoarjo bekerja sama menangani pabrik tahu yang menggunakan sampah sebagai bahan bakar.
Dia berharap Pemprov dan Pemkab tak sembrono dan tak saling lempar untuk menangani tata kelola produksi tahu di Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Sidoarjo, tersebut.
"Jadi pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten tidak boleh kemudian sembrono, tidak kemudian lempar-lemparan," kata Hanif di sela-sela meninjau TPA Suwung di Kota Denpasar, Bali, Selasa (27/5).
Hanif bahkan mengancam mempidanakan kepala daerah yang tak serius menangani produksi tahu berbahan bakar itu, terutama bila terjadi kelalaian yang menyebabkan timbulnya korban jiwa.
Salah satu pasal yang dilayangkan adalah Pasal 112 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
"Kalau itu yang terjadi saya akan mengenakan pasal 112 UU 32 tahun 2009 (tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup), kepada pejabat pemerintah yang karena kelalaiannya menimbulkan korban jiwa, tidak terkecuali untuk kasus Sidoarjo," sambungnya.
Sampah plastik yang digunakan untuk bahan bakar pengolahan produksi tahu. Foto: Dok. Istimewa
Hanif mengaku sudah menerjunkan tim untuk menangani penggunaan bahan bakar sampah di pabrik tahu tersebut. Namun, Hanif belum bisa memastikan apakah seluruh pabrik tahu sudah berhenti beroperasi.
"Saya sedang tugaskan tim, karena memberhentikan itu ada ribuan orang yang harus kita koordinasi," katanya.
Hanif berencana menggunakan teknologi biodigester sebagai sebagai bahan bakar alternatif kepada pengusaha pabrik tahu itu. Biodigester ini mampu mengolah sampah organik menjadi biogas.
Nantinya, Menteri LH akan bekerja sama dengan Perusahaan Gas Negara (PGN) membantu peralihan bahan bakar para pengusaha pabrik tahu, dari sampah ke bahan organik. Teknologi biodigester, kata Hanif, sudah diterapkan di Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
"Jadi limbahnya itu bisa dikelola dengan biodigester dan mampu menghasilkan listrik untuk membakar tahunya, ini sedang jalan, nanti kita akan coba replikasi di Sidoarjo," katanya.
Pemda Sidoarjo bersama dengan pengusaha industri kecil dan menengah (IKM) tahu Desa Tropodo, Kecamatan Krian, menandatangani kesepakatan tidak menggunakan bahan bakar sampah. Foto: Dok. DLH Sidoarjo
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sidoarjo, Bahrul Amig, mengatakan selama ini para pelaku industri pabrik tahu di Desa Tropodo itu menggunakan bahan bakar sampah yang sebagian besar berbahan plastik dan karet. Alasannya karena untuk menghemat biaya.
Bahan bakar sampah tersebut diperoleh para pelaku industri dari para pengepul.
Pemda Sidoarjo bersama dengan pengusaha industri kecil dan menengah (IKM) tahu Desa Tropodo, Kecamatan Krian, menandatangani kesepakatan tidak menggunakan bahan bakar sampah. Foto: Dok. DLH Sidoarjo
Amig menjelaskan bahwa Pemda Sidoarjo sebenarnya telah mengeluarkan surat edaran Nomor: 660/8238/438.5.11/2022 tentang larangan sampah plastik, karet, dan sejenisnya sebagai bahan bakar untuk usaha dan/atau kegiatan pada tahun 2022.
Namun, para pelaku usaha industri pabrik tahu masih tetap beroperasi menggunakan bahan bakar sampah.
"Jadi sebenarnya sudah cukup lama ya ini. Ya, jadi sebenarnya kita penekanannya bukan plastiknya tetapi bahan bakar yang menimbulkan potensi kebakaran tinggi itu kan kayak karet, bahan stirofoam terus kemudian bahan-bahannya kayak itu bekas sandal," kata Amig kepada kumparan, Kamis (15/5).
Trending Now