Menteri LH Ungkap 23 Daerah Aliran Sungai di Sumatera Rusak Imbas Banjir
3 Desember 2025 13:53 WIB
·
waktu baca 3 menit
Menteri LH Ungkap 23 Daerah Aliran Sungai di Sumatera Rusak Imbas Banjir
Aceh dan Sumatera Barat memiliki kawasan yang datar. Sehingga, dampak bencana menjadi lebih besar lagi. kumparanNEWS

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyebut, ada 23 daerah aliran sungai (DAS) yang terdampak banjir bandang di Aceh, Sumut, dan Sumbar.
Hanif menjelaskan, karakteristik masing-masing DAS berbeda sehingga dampak dari banjirnya juga berbeda. Ia mencontohkan kawasan Batang Toru, Tapanuli, dan Sibolga yang memiliki landscape berbentuk V, menjadikan kawasan itu rawan longsor.
“Jadi dari kejadian hidrometeorologi tersebut pada siklon tropis senyar, ada 23 DAS terdampak bencana di Sumatera, yaitu meliputi di DAS Batang Toru, kemudian daerah Sumatera Barat, dan di Aceh,” ucap Hanif saat rapat kerja bersama Komisi XII DPR di DPR pada Rabu (3/12).
“Jadi ini memang menjadi khusus untuk DAS Batang Toru, karena DAS Batang Toru memiliki karakteristik landscape yang sangat rentan, karena berupa landscape seperti V landscape, kemudian Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan ada di tengah-tengahnya. Sementara kegiatan di sisi bukitnya sudah tidak memadai untuk mendukung kapasitas lingkungannya,” jelas Hanif.
“Sehingga pada saat hujan yang tidak tinggi pun, meskipun pada saat kejadian hutan di Batang Toru tercatatkan di angka 300 mm, artinya ada curah hujan yang cukup ekstrem turun ke situ. Kemudian di sebelahnya, Sibolga, itu curah hujannya lebih daripada Batang Toru, tercatatkan hampir 400 mm atau sangat ekstrem, yang kemudian menjadikan Sibolga menjadi rawan longsor yang menimbulkan korban jiwa yang tidak sedikit,” tambahnya.
Sementara, Aceh dan Sumatera Barat memiliki kawasan yang datar. Sehingga, dampak bencana menjadi lebih besar lagi.
“Kemudian untuk Aceh, sebenarnya catatan curah hujannya juga sangat tinggi, di angka 400 mm, namun demikian karena bentuknya flat, sehingga rusaknya lebih tinggi yang dihadirkan oleh DAS Batang Toru,” ucap Hanif.
“Demikian juga Padang, karena memang landscape-nya pendek, maka juga menimbulkan kerusakan yang luar biasa,” tambahnya.
Ia pun menjelaskan soal volume air yang turun pada saat kejadian bencana. Menurutnya, volume air pada saat itu mencapai miliaran kubik.
“Jadi ini total air yang turun pada hari itu berdasarkan catatan curah hujannya, jadi rata-rata di angka ada 2,6 miliar kubik, kemudian sampai di angka 4,9 miliar kubik. Ini angka yang cukup sangat besar, kalau kita jumlah sampai di angka 9,7 miliar kubik, dalam daerah aliran sungai di Aceh,” ucap Hanif.
“Tentu ini melumpuhkan sendi-sendi ekonomi Aceh, karena airnya menjadi bencana banjir bandang,” tambahnya.
Volume Air Hujan Lebih Banyak dibanding Kawasan Hutan
Menurutnya, banjir bandang terjadi akibat besarnya volume air tidak diimbangi dengan kawasan hutan yang memadai. Ia mengungkap, kawasan yang terkena banjir sudah kehilangan belasan ribu hektare kawasan hutan.
“Kemudian kami ingin sampaikan bahwa dalam kondisi tersebut di Aceh terjadi pengurangan tutupan hutan dari tahun 1990 sampai 2024 sebesar 14.000 hektare. Tentu angka ini sangat berpengaruh,” ucap Hanif.
“Di Batang Toru, terdapat pengurangan hutan sampai di angka di slide nomor 51. Ada pengurangan hutan sejumlah 19.000 hektare. Selanjutnya di DAS Sumatera Barat, kita juga kehilangan hutan di angka 10.521 hektare,” tambahnya.
