Menteri Wihaji: Trauma Healing Jadi Prioritas Pascabencana Sumatera
8 Desember 2025 23:38 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
Menteri Wihaji: Trauma Healing Jadi Prioritas Pascabencana Sumatera
Menteri Wihaji menegaskan trauma healing jadi prioritas pascabencana Sumatera setelah kebutuhan dasar terpenuhi, dengan TPK dan penyuluh dikerahkan membantu penyintas yang terdampak.kumparanNEWS

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN Wihaji, menegaskan bahwa trauma healing akan jadi fokus utama setelah kebutuhan dasar warga terdampak bencana di Sumatera terpenuhi. Ia menyebut banyak penyintas berpotensi mengalami trauma dan membutuhkan pendampingan psikologis segera setelah fase darurat berakhir.
βSetelah ini nanti akan pasti trauma healing. Ini yang penting. Karena ada beberapa yang bisa traumatis kalau enggak kita tindak lanjut,β ujarnya usai Rapat Koordinasi Komite Kebijakan Sektor Kesehatan (KKSK) 2025 di Kantor Kemendukbangga/BKKBN, Jakarta Timur, Senin (8/12).
Wihaji menyampaikan bahwa Tim Pendamping Keluarga (TPK) dan para penyuluh sudah terlatih menangani persoalan psikologis masyarakat. Menurut dia, pendamping keluarga yang sehari-hari melakukan pendampingan memiliki kemampuan untuk merespons kondisi warga yang terganggu secara emosional setelah bencana.
βAda beberapa yang memang sudah biasa menangani itu,β katanya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan primer tetap menjadi prioritas awal sebelum pendampingan lanjutan dilakukan.
βSekarang fokus kebutuhan primernya dulu. Kalau sudah primernya selesai, nanti sekunder. Ini termasuk kebutuhan sekunder,β ujar Wihaji.
Ia menyebut, trauma healing baru dapat dilakukan jika akses makanan serta bantuan dasar lainnya sudah tersalurkan.
Lebih jauh, Wihaji mengatakan seluruh penyuluh dan TPK telah diinstruksikan untuk membantu warga terdampak karena situasi ini merupakan persoalan kemanusiaan.
βKita punya penyuluh, TPK. Yang berdampak langsung, tolong dibantu. Yang tidak kena dampak, tolong untuk bahu-membahu, berjibaku, bantu mereka semampunya,β ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa beberapa penyuluh masih belum ditemukan karena berada di 4 desa yang hilang akibat bencana. Kementerian terus melakukan koordinasi dengan kantor perwakilan di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat untuk memantau situasi dan menggerakkan pendamping di wilayah yang lebih aman.
