Menyusuri Gemerlap Shanghai: Menuju Kota Serba 15 Menit
23 Mei 2025 14:31 WIB
·
waktu baca 6 menit
Menyusuri Gemerlap Shanghai: Menuju Kota Serba 15 Menit
Shanghai merupakan salah satu kota terbesar di dunia.kumparanNEWS

Shanghai merupakan salah satu kota terbesar di dunia. Bisa dibilang, kota di China ini merupakan kota paling sibuk dan padat. Tercatat ada 24 juta jiwa tinggal di sini per tahun 2025. Ini berdasarkan data dari pemerintah setempat yang kumparan himpun.
Semua ada di Shanghai. Mulai dari pusat keuangan, bisnis, teknologi, penelitian, pariwisata hingga budaya. Termasuk politik.
Perkembangan kota Shanghai terasa begitu pesat. Terlihat jelas perbedaan kota ini pada tahun 1990an dengan 2025. Pemerintah pusat dalam hal ini Beijing, mendukung penuh pembangunan agar kota ini bisa adaptif dengan perkembangan zaman dan teknologi.
Jika dibandingkan dengan Jakarta, tidak perlu ditanya lagi karena sangat jelas perbedaannya. Meski kota ini padat, masyarakatnya masih bisa diatur dengan tertib.
Kemacetan adalah hal lumrah, namun masih dalam batas toleransi. Selain itu, hampir seluruh kendaraan di sini sudah beralih menggunakan kendaraan berbasis listrik atau EV. Jelas berbeda dengan Jakarta yang masih banyak bertumpu kendaraan konvensional.
Sepanjang jalan, hampir tidak terlihat ada gelandangan yang meminta-minta, meskipun ada, jumlahnya bisa dihitung jari. Petugas kepolisian yang bertugas sangat responsif dan tepat waktu.
Lantas bagaimana dan apa rahasianya kota Shanghai bisa begitu cepat dan maju dibandingkan Jakarta?
kumparan berkesempatan mengunjungi Shanghai Urban Planning Exhibition Center pada 20 Mei. Kunjungan ini dalam rangkaian acara undangan resmi dari Partai Komunis China (CPC). CPC mengundang sejumlah partai politik di Asia termasuk Asia Tenggara dan beberapa media untuk melihat langsung bagaimana kehidupan dan sehari-hari masyarakat China dan pengelolaan Partai Komunis.
Shanghai Urban Planning Exhibiton Center terletak di Renmin Avenue Nomor 100, Distrik Huangpu. Begitu masuk ke dalam, kami langsung diperlihatkan berbagai ukuran miniatur kota Shanghai. Ukurannya pun beragam, yang jelas, seluruh bangunan yang ada di kota ini ada. Bahkan bangunan yang akan mereka dirikan.
Blueprint Pembangunan Kota yang Jelas
Shanghai tidak ujug-ujug menjadi kota metropolitan seperti sekarang. Pembangunannya ternyata sudah direncanakan sejak jauh yang dituangkan dalam blueprit yang jelas.
‘Revolusi’ pembangunan Shanghai dimulai sejak 1992. Dari kota nelayan menuju metropolitan, diinisiasi oleh Presiden China kala itu Deng Xiaoping.
Shanghai diplot sejak 90an menjadi kota percontohan pembangunan China. Hasilnya, sesuai harapan bahkan bisa dibilang melampaui target. Terlihat transformasi Shanghai dari kota kecil yang dahulu ‘kotor dan bau’ kini menjadi bersih.
Sepanjang jalan, gedung pencakar langit tegak berdiri. Jika di Jakarta, kurang lebih persis seperti sepanjang Jalan Jenderal Sudirman-Thamrin dan kawasan Senopati Jakarta Selatan. Meski sudah sukses, pembangunan Shanghai terus dilakukan bahkan dilanjutkan oleh Presiden Xi Jinping.
Komite Kota CPC Shanghai baru-baru ini pada 2025, meluncurkan proposal merumuskan rencana 5 tahun ke-14. Fokus pada pembangunan ekonomi dan sosial nasional dan tujuan jangka panjang hingga 2035.
Bluprint Shanghai menargetkan
kemajuan penting dalam transformasi digital perkotaan. Shanghai diplot jadi pusat ekonomi internasional, keuangan, perdagangan, pengiriman dan inovasi sains dan teknologi.
Menuju Kota 15 Menit
Melalui konsep pembangunan yang baru ini, Shanghai mencanangkan kehidupan serba 15 menit atau konsep ‘15 minute community life circle’. Pemerintah ingin masyarakat bisa hidup dengan cepat, aman dan nyaman meski hidup di tengah-tengah gedung pencakar langit.
“Lingkaran kehidupan komunitas selama 15 menit adalah “pekerjaan mendasar’ yang melibatkan area yang lebih luas dan menguntungkan lebih banyak orang,” sebagaimana yang dijelaskan Shanghai Urban Planning Exhibiton Center.
Shanghai Urban Planning Exhibiton Center menuturkan, saat ini ada lebih dari 15.000 perumahan di Shanghai di mana sekitar 15% rumah dibangun antara tahun 1949 dan 1988, sekitar 38% rumah komersial dibangun antara tahun 1989 dan 2000.
Melihat data ini, tidak heran pemerintah gencar melakukan pembangunan hingga pemugaran bangunan. Terlihat sepanjang jalan banyak pembangunan bangunan yang dilakukan pemerintah.
Menariknya, pembangunan yang sedang dilakukan oleh sejumlah pekerja tidak sampai membuat arus lalu lintas atau kegiatan masyarakat terganggu.
Hasil penelusuran kami, rata-rata untuk mobilitas perpindahan tempat menggunakan kendaraan online cukup cepat. Hampir mendekati 15 menit seperti yang ditargetkan pemerintah. Jika pun ada kemacetan, tidak parah seperti Jakarta.
Selain itu, seluruh titik jalan sudah menerapkan konsep green building. Tanaman hijau dan pepohonan selalu ada di sepanjang jalan. Membuat suasana di Shanghai terasa sangat asri.
Pembayaran Serba Digital
Bagi masyarakat luar atau pendatang pasti terbesit pikiran bagaimana jika kita ingin bertransaksi membeli barang atau kebutuhan pokok di sini? Ternyata sebagian besar metode pembayaran sudah menggunakan digital.
Mayoritas pedagang sudah menyediakan pembayaran e-money melalui alipay atau di Indonesia seperti QRIS. Meski begitu, mereka juga masih menerima pembayaran konvensional menggunakan uang kertas.
Kemudahan pembayaran ini diterapkan untuk semua kegiatan tidak hanya perdagangan. Termasuk transportasi hingga wisata. Oleh sebab itu, para pendatang atau wisatawan tidak perlu khawatir mengenai masalah ini.
Kendala Bahasa
Tidak ada gading yang tak retak. Itu lah peribahasa yang cocok untuk menggambarkan gemerlap Kota Shanghai dengan segala kemajuannya. Meski sudah sangat maju dan modern, kota ini tak lepas dari kekurangan. Salah satunya bahasa.
Mayoritas masyarakat lokal hanya berbicara menggunakan Bahasa Mandarin hanya sedikit yang bisa berbahasa Inggris. Jika kalian tidak mengerti atau andal berbahasa Mandarin, sudah dipastikan akan mengalami sedikit kesulitan.
Satu-satunya cara adalah menggunakan bahasa isyarat. Kami pun beberapa kali berbelanja menggunakan bahasa isyarat.
Tidak Ada Masyarakat ‘Rese’
Sepanjang penelusuran jalan, begitu banyak sepeda yang disimpan begitu saja termasuk sekuter listrik. Kendaraan ini disediakan oleh pemerintah, masyarakat dan pendatang bisa bebas jika ingin memakainya namun harus sewa. Semua sepeda di sini sudah memiliki barcode sehingga bisa dengan mudah dilacak lokasinya.
Tidak terlihat ada ‘Pak Ogah’ yang biasa mangkal di pinggiran jalan seperti di Indonesia. Bendera ataupun embel-embel sejenisnya pun tidak ada. Hanya ada satu yang jelas terlihat, bendera lambang CPC khas dengan ‘Palu Arit’. Pemasangannya pun diatur dan tidak dipasang bebas seperti di Indonesia. Hanya ada di tempat-tempat tertentu.
Ada 800-an WNI
Berdasarkan keterangan KJRI Shanghai, tercatat ada sekitar 800an WNI tinggal di sini. Mereka mayoritas merupakan pelajar.
“Jumlah WNI 800-an berdasarkan data Pemilu 2024,” kata Konjen KJRI Shanghai Berlianto Situngkir ketika ditemui pad Kamis (22/5).
“Sebagian besar mereka mahasiswa atau pengusaha,” tutur dia.
KJRI Shanghai yang baru berdiri sejak 2012 ini menjelaskan, sebelum pandemi COVID-19, tercatat ada lebih dari 2.000 WNI tinggal di sini. Namun hampir setengah dari mereka pulang dan melanjutkan kuliah secara daring.
“Kebanyakan yang pulang mereka lanjut secara daring hingga lulus,” ucap Berlianto.
Berlianto menjelaskan, WNI yang tinggal di sini berkelakuan baik. Bahkan, selama 3 tahun dirinya menjabat di Shanghai, belum pernah menerima laporan atau menangani WNI bermasalah.
