Menyusuri Jejak Pahlawan Asal Jepara Ratu Kalinyamat di Kabupaten Malang

21 Agustus 2025 11:49 WIB
ยท
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menyusuri Jejak Pahlawan Asal Jepara Ratu Kalinyamat di Kabupaten Malang
Ratu Kalinyamat, pahlawan asal Kabupaten Jepara, telah dinobatkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden RI Joko Widodo pada 10 November 2023 lalu.
kumparanNEWS
Jalan Kalinyamat di Desa Jenggolo, Malang, Jawa Timur. Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Jalan Kalinyamat di Desa Jenggolo, Malang, Jawa Timur. Foto: kumparan
Ratu Kalinyamat, pahlawan asal Kabupaten Jepara, dinobatkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden RI Joko Widodo pada 10 November 2023 lalu. Selama berkuasa di tahun 1549-1579, Ratu Kalinyamat mengirimkan ribuan pasukan untuk melawan penjajah dari Portugis.
Nah, nama Kalinyamat rupanya telah menjadi nama jalan di Desa Jenggolo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Kalinyamat merupakan jalan kampung dengan status milik desa. Di kampung tersebut terdapat sekitar 400 kepala keluarga
Sekretaris Desa Jenggolo, Sunarko mengatakan tidak diketahui pasti pada tahun berapa nama jalan ini ditetapkan. Jalan tersebut sudah bernama Kalinyamat sejak tahun 1970an sewaktu ia masih kecil.
"Nggak ada (catatan tahun ditetapkan), dari awal saya tahunya sudah Kalinyamat," ujar Sunarko saat ditemui di lokasi, Rabu (20/8).
Jalan Kalinyamat di Desa Jenggolo, Malang, Jawa Timur. Foto: Dok. kumparan
Selama beberapa dekade, nama jalan di Desa Jenggolo tidak mengalami perubahan. Hanya ada satu ruas jalan baru yang diberi nama Pajajaran, menyesuaikan tema kerajaan di nama-nama jalan Desa Jenggolo.
Selain Kalinyamat dan Pajajaran, Desa Jenggolo memiliki jalan dengan nama Sumedang, Kahuripan, Dhoho, Blambangan, Majapahit, hingga Tumapel. Sunarko sendiri tak mengetahui pasti awal mula penamaan jalan dengan tema kerajaan ini.
"Setahuku saya nggak ada aturan untuk penamaan jalan desa. Itu semua peninggalan sejak lama. Bahkan dulu ditulis menggunakan aksara Jawa," jelas Sunarko.
Jalan Kalinyamat di Desa Jenggolo, Malang, Jawa Timur. Foto: Dok. kumparan

Ada 5 Jalan Kalinyamat di Maps

Berdasarkan analisis kumparan, jalan di Indonesia yang menggunakan nama pahlawan nasional mencapai 4.769 jalan. Jalan dengan nama pahlawan terbanyak adalah Sudirman di angka 310 jalan. Kemudian ada Kartini dengan jumlah jalan sebanyak 269. Diikuti Diponegoro dengan 240 jalan dan Ahmad Yani 207 jalan.
Bila dilihat dari sebarannya, pulau dengan jalan terbanyak ada di Pulau Jawa yaitu 2.559 jalan. Diikuti pulau Sumatera 864 jalan, serta Kalimantan 582 jalan.
Sementara itu, jumlah Jalan Kalinyamat di Indonesia ada 5 Yakni, 2 di Kabupaten Jepara, 1 di Kota Salatiga, 1 di Kabupaten Semarang, dan 1 di Kabupaten Malang.
Data-data tersebut kami peroleh dari OpenSourceMap (OSM) Indonesia yang disimpan dengan format .osm.pbf. File itu lalu kami proses menggunakan library pyosmium via bahasa pemrograman Python untuk mengekstraksi data jalan.
Setelah itu, nama-nama jalan dinormalisasi dengan regular expression dan unicodedata, lalu dibandingkan dengan daftar 206 pahlawan nasional menggunakan metode string similarity dari difflib.SequenceMatcher.ratio(). Hasilnya, jumlah jalan bernama Kalinyamat memang tidak sebanyak Jalan Soedirman yang jumlahnya 310 maupun Kartini yang jumlahnya 269.

Riwayat Ratu Kalinyamat

Potret di sebuah pertapaan Gunung Donorojo sering menjadi 'senjata' bagi mereka yang tak tahu tentang sosok Ratu Kalinyamat. Digambarkan secara harfiah telanjang, padahal tidak demikian maknanya.
Berdasarkan Babad Tanah Jawa, Ratu Kalinyamat bertapa telanjang dan menjadikan rambutnya yang terurai panjang itu sebagai kain penutup tubuhnya. Saat itu ia bersumpah selama hidupnya tidak mau memakai kain jika Arya Penangsang belum mati.
Lukisan Ratu Kalinyamat, karya Jatmiko. Foto: Dok. Pemerintah Kabupaten Jepara
Sebelumnya, anak buah Arya Penangsang memang dikisahkan pernah mengeroyok suami dari Ratu Kalinyamat, yaitu Pangeran Hadirin hingga tewas. Ratu Kalinyamat pun menyimpan dendam, lantaran perbuatan Arya.
Setelah kematian Arya Penangsang, Ratu Kalinyamat atu Retna Kencana memang dilantik menjadi penguasa Jepara dengan candra sengkala Trus Karya Tataning Bumi yang diperhitungkan sama dengan tanggal 12 Rabiul Awal atau bertepatan dengan 10 April 1549.
Demikian singkatnya menggambarkan Ratu Kalinyamat bukanlah sosok biasa.
Diperkirakan bahwa selama menjadi penguasa Jepara ia tidak tinggal di Kalinyamat, tetapi di sebuah tempat semacam istana di kota pelabuhan Jepara. Sumber-sumber Belanda awal abad ke-17 menyebutkan bahwa di kota pelabuhan itu terdapat semacam istana raja (koninghof).
Sumber-sumber primer tentang catatan penyerangan pasukan Ratu Kalinyamat ke Malaka dan Maluku yang dicatat oleh orang-orang Portugis. Foto: Dok. Istimewa
Ratu Kalinyamat digambarkan sebagai tokoh wanita yang cerdas, berwibawa, bijaksana, dan pemberani. Kewibawaan dan kebijaksanaannya tercermin dalam peranannya sebagai pusat keluarga Kesultanan Demak.
Meski ia sudah menjadi janda, Ratu Kalinyamat menjadi tumpuan bagi keluarga besar Kerajaan Demak. Walau Ratu Kalinyamat sendiri tidak berputera, namun ia dipercaya oleh saudara-saudaranya untuk mengasuh beberapa keponakannya.
Salah satu anak asuhnya ialah adiknya sendiri, Pangeran Timur, yang berusia masih sangat muda ketika Sultan Trenggana meninggal. Setelah dewasa, Pangeran Timur menjadi adipati di Madiun yang dikenal dengan nama Panembahan Madiun.
Ratu Kalinyamat juga pernah menjadi utusan Sultan Demak untuk minta bantuan Sultan Banten dalam perluasan wilayah ke Jawa Timur. Sumber Portugis mengatakan bahwa seorang musafir Portugis yang bernama Fernando Mendes Pinto, tiba di Banten pada tahun 1544 dan tinggal di sana selama dua bulan. Ia punya misi pergi ke Cina untuk menuntut ilmu.
Buku Ratu Kalinyamat. Foto: Fitra Andrianto/kumparan
Saat itu Ratu Kalinyamat diutus untuk menyampaikan suatu pesan atas nama raja kepada Raja Sunda, yang juga menjadi bawahan Demak. Disampaikan, dalam waktu satu setengah bulan bantuan militer harus sudah tiba di Jepara, dan sekaligus mempersiapkan perjalanan militer untuk menyerang Pasuruan, Jawa Timur yang masih dikuasai Raja Hindu.
Raja Banten dengan segera mempersiapkan segala sesuatunya untuk berangkat ke Jepara dengan mengerahkan 40 kapal yang membawa 7.000 awak. Terdiri dari 30 perahu dayung dan sepuluh kapal layar Melayu yang biasa dipakai untuk menelusuri pantai. Misi politik pun itu berhasil.
Itu sekelumit keheroikan Kalinyamat. Ia juga berhasil memimpin Jepara dengan pelabuhan sebagai nadinya.
Ratu Kalinyamat diperkirakan memerintah hingga 1579 dan meninggal di tahun yang sama. Penggantinya adalah putra angkatnya, Pangeran Jepara. Pada masa itu peranan Jepara mulai mengalami kemerosotan.
Trending Now