Menyusuri Lahan Untuk Relokasi Pedagang Pasar Hewan Barito di Lenteng Agung
5 Agustus 2025 10:19 WIB
·
waktu baca 4 menit
Menyusuri Lahan Untuk Relokasi Pedagang Pasar Hewan Barito di Lenteng Agung
kumparan melihat langsung lahan milik Pemprov DKI yang akan dijadikan lokasi baru pedagang Pasar Hewan Barito. Bagaimana kondisinya? kumparanNEWS

Pagi ini, deru kendaraan di Jalan Raya Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, tak berhenti melintas. Begitu juga dengan kesibukan yang rutin terlihat di stasiun KRL Lenteng Agung.
Di seberangnya, tepatnya di bawah Jembatan Penyeberangan Orang (JPO), berdiri sebidang lahan luas yang disebut-sebut bakal menjadi rumah baru bagi para pedagang Pasar Hewan Barito.
Lokasinya berada di pinggir jalan raya, persis di sebelah tanda pemberhentian bus (bus stop) Stasiun Lenteng Agung 1. Namun, dari balik pagar besi yang sebagian sudah copot dan miring, pemandangan yang tersaji masih jauh dari bayangan sebuah pasar.
Plang hijau bertuliskan “Tanah milik Pemprov DKI Jakarta” berdiri miring, sementara di bagian dalam terpampang papan besar Satpol PP bertuliskan “Lahan ini akan dibangun”.
Pagar yang tergembok masih menyisakan beberapa celah terbuka. Dari luar, terlihat tanah lapang yang menjorok ke bawah tanpa tangga, hanya jalur tanah menurun. kumparan pun menyusuri jalanan tersebut. Sesekali harus berhenti sejenak karena ada beberapa tumbuhan yang tajam jika tak berhati-hati.
Daun-daun kering menutupi sebagian permukaan, bercampur dengan rumput liar, sampah plastik, bahkan pecahan keramik. Dinding-dinding masih penuh coretan dan mural, sementara di bagian tengah terdapat lapangan basket kecil. Di sisi belakang, lahan ini berbatasan langsung dengan permukiman warga.
Budi (44), pekerja toko olahraga yang tokonya tak jauh dari lokasi, mengaku sudah mendengar kabar soal rencana relokasi itu.
“Dengar-dengar kabar burung nih. Burung, burung. Ya pasar burung. Itu kan yang dipindahkan yang dari Blok M. Nah itu pasar burung mau dipindah kemari,” ujarnya saat ditemui kumparan di lokasi.
Meski begitu, Budi menyebut informasi yang beredar masih simpang siur.
“Iya, infonya sih gitu. Tapi kalau nanti jadinya seperti apa kita kurang tahu,” tambahnya.
Cerita berbeda datang dari Wayong (46), tukang ojek yang sudah lama mangkal di sekitar lahan tersebut. Ia mengenang perubahan kepemilikan tanah ini.
“Iya, mau dibangun. Dari masih belum dibangun juga saya udah di sini. Dari belum jadi tanah Pemda juga saya udah ada,” kata Wayong.
Bahkan, ia menyebut lahan ini dulunya milik pribadi.
“Bukan, tanah pribadi. Orang ini pernah jadi showroom,” ujarnya.
Bagi warga sekitar, wacana pasar baru ini belum banyak dibicarakan secara resmi, masih simpang siur. Yang terlihat baru sebatas papan proyek dan lahan kosong yang menunggu perubahan.
Sebelumnya, para pedagang Pasar Hewan Barito di Jalan Barito I, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, mengaku telah melakukan survei ke lokasi yang disebut-sebut sebagai tempat relokasi di kawasan Lenteng Agung (LA) —juga masih di kota yang sama.
Namun, mereka justru menemukan bahwa lokasi tersebut belum layak digunakan untuk berdagang karena hanya berupa tanah kosong.
Yuli (45), pedagang makanan dan hewan peliharaan yang telah berjualan di Pasar Barito sejak 2004, mengatakan bahwa lokasi relokasi tersebut tidak sesuai harapan. Ia menyebut belum ada bangunan atau fasilitas yang bisa digunakan para pedagang.
“Saya sudah survei ke sana, ternyata itu masih tanah kosong. Dan kemarin sih kelihatan kayak jurang itu, dah. Jadi, ya, pokoknya deket stasiun Lenteng Agung tuh sebelah,” kata Yuli saat ditemui di Pasar Barito, Senin (4/8).
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan pedagang Pasar Burung Barito, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, mulai pindah pada Minggu (3/8).
Pemindahan dilakukan menyusul rencana penggabungan tiga taman, yakni Taman Ayodya, Taman Langsat, dan Taman Leuser. Pembangunan akan ditandai dengan groundbreaking pada Jumat (8/8).
Ketiga taman yang terletak di kawasan Blok M ini akan diberi nama Taman Bendera Pusaka.
“Jadi seperti yang saya sampaikan ketika pemerintah Jakarta sudah memutuskan dan kami mempersilakan Wali Kota Jakarta Selatan dan jajarannya sudah melakukan sosialisasi. Sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Tanggal 3 (Agustus) ini adalah batas terakhir dan kami akan dalam waktu dekat menyelenggarakan groundbreaking,” kata Pramono di GOR Soemantri Brodjonegoro, Setiabudi, Jakarta Selatan, Senin (4/8).
