djarum - Mira Marina

Merajut Cinta dalam Budaya Nusantara

8 September 2025 23:00 WIB
·
waktu baca 13 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Merajut Cinta dalam Budaya Nusantara
Semua orang punya cinta dalam hidupnya. Cinta mencari makna, menumbuhkan gelora, dan menjelma karya. Cinta yang kuat bak tradisi yang lestari. Ia mengalir melintasi zaman yang berganti. #kumparanNEWS
kumparanNEWS
Semua orang punya cinta dalam hidupnya. Cinta akan mencari makna, menumbuhkan gelora, dan menjelma karya. Ia menggerakkan jiwa dan menjadi nadi dalam kehidupan. Cinta yang kuat bagai tradisi yang lestari. Ia mengalir melintasi zaman yang berganti.
***
Menari adalah cinta pertama Hartati. Berawal dari sebuah panggung sederhana di kampungnya, Sumatera Barat, ketika mahasiswa KKN dari Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Padang Panjang menggelar sendratari yang membekas di benaknya dan membuatnya jatuh hati pada senitari.
Saat menonton pertunjukan yang dibawakan para mahasiswa ASKI—yang kini bernama Institut Seni Indonesia (ISI)—itu, Hartati cilik mulai membayangkan dirinya di atas panggung. Dari bangku penonton, ia larut dalam buaian musik, teater, dan tari yang disuguhkan oleh para mahasiswa tersebut. Hartati merasa panggung itu memanggilnya.
“Waktu itu saya masih SD. Semenjak itu, seperti ada cita-cita yang tersimpan [dalam diri] bahwa saya harus masuk ke sekolah seni,” kata Hartati kepada kumparan di kediamannya, Depok, Jawa Barat, Kamis (14/8).
Di rumahnya yang sejuk meski tanpa AC itu, ia bercerita tentang perjalanan hidupnya di dunia seni tari. Suaranya mengalir tegas di dalam ruangan yang berdinding bata merah tanpa lapisan semen dan cat.
Koreografer senior, Hartati. Foto: Febria Adha Larasati/kumparan
Hartati lahir di Jakarta, namun dibesarkan oleh kakek-neneknya di Kampung Muara Labuh, Solok Selatan, Sumatera Barat.
“Ibu saya orang Minang, Bapak orang Bandung. Mereka bertemu di Jakarta, dan saya lahir di Jakarta, kemudian dibawa nenek saya ke Solok Selatan,” tutur perempuan berdarah Minang itu.
Kakek dan neneknya ialah sosok penting bagi Hartati. Merekalah yang membuatnya teguh menekuni pilihan di panggung seni—dunia yang membawanya berkembang menjadi koreografer (penggubah/penata gerak tari), pengajar, sekaligus pendiri Yayasan Seni Tari Indonesia yang berupaya meningkatkan kapasitas seniman lokal Indonesia.
“Nenek selalu support saya untuk belajar menari, menyanyi, dan seterusnya,” katanya.
Hartati melihat koleksi foto pentas tari. Foto: Febria Adha Larasati/kumparan
Cita-cita masa kecil untuk menari ditapaki Hartati dengan masuk ke Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) di Padang selama empat tahun. Di situ, ia merasa jiwa seninya menemukan wadah.
Hartati beberapa kali diajak ikut pentas tari berskala nasional, salah satunya tarian karya koreografer Zuriati Zubir yang dipentaskan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta Pusat.
Pengalaman itu meneguhkan niat Hartarti untuk melanjutkan studi ke Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Di kampus seni itu, ia merampungkan pendidikan jenjang Diploma 3, D4, Strata 1, dan S2 yang seluruhnya di bidang tari.
IKJ, kampus Hartati. Foto: Shutterstock
“Semua linear—tari. Jadi otomatis dunia tari sudah menjadi bagian hidup saya,” ucap Hartati yang kini berusia 59 tahun dan kerap disapa ‘Uni Tati’.
Selain belajar di ruang akademik, Hartati juga ditempa di berbagai komunitas seni, terutama Gumarang Sakti Dance Company—kelompok tari asal Sumbar pimpinan Gusmiati Suid yang kerap memadukan unsur tradisional dan modern.
Hartati 20 tahun bergabung di sana, dan berinteraksi dengan banyak maestro tari Indonesia seperti Sardono W. Kusumo, Farida Oetoyo, Julianti Parani, dan Dedy Lutan. Semua pengalaman itulah yang membentuk karakter seni Hartati hingga kini.
Pembelajaran Hartati komplet sudah, dari teori di ruang kelas sampai praktik di pentas seni.
Menari adalah panggilan jiwa Hartati. Foto: Febria Adha Larasati/kumparan

Pahami Makna sebelum Gerakan

Hartati terdorong untuk mengajar seni tari lantaran cemas dengan masa depan seni tradisional Indonesia. Ia mengajar di IKJ pada 1991–1997, lalu vakum beberapa tahun, dan kembali mengajar pada 2007–2014. Saat itu pula ia berinteraksi dengan generasi milenial dan Gen Z.
Sebagai dosen seni tari, Hartati mesti mencari cara untuk mengajarkan tradisi itu secara menarik; menyesuaikan dengan minat dan cara belajar para milenial dan Gen Z.
Namun, satu hal sudah pasti: pelajaran pertama yang diberikan Hartati bukan pola gerak, melainkan pemahaman akan tradisi, budaya, lingkungan, dan masyarakat yang melahirkan tarian tersebut.
Hal tersebut penting karena tari bukan sekadar urusan panggung, tapi cara untuk menjaga identitas budaya. Dalam setiap tarian yang diciptakan leluhur, terkandung makna yang harus dipahami lebih dulu sebelum memulai gerakannya.
“Pengetahuan tentang latar belakang masyarakat dan alamnya akan memperkuat penari dalam menggerakkan tradisi yang dijaga itu,” terang Hartati.
Hartati menyelami seni tari sampai ke akarnya. Foto: Febria Adha Larasati/kumparan
Ia menegaskan, tarian bukan hanya hiburan atau pengisi acara seremonial. Tarian adalah medium untuk menyampaikan cerita, gagasan, atau perasaan.
Untuk melestarikan seni tari, ujarnya, butuh kepedulian dari berbagai pihak. Dan sejak 2009, ia mendapat dukungan dari Djarum Foundation untuk mengembangkan karya-karyanya meski dipentaskan terbatas.
Dukungan Bakti Budaya Djarum Foundation itu antara lain mencakup kolaborasi dengan seniman daerah dan regenerasi para koreografer dalam program-program seperti Festival MenTARI di Sumatera Barat, Festival Batanghari di Jambi, Festival Gurindam 12 di Kepulauan Riau, dan lain-lain.
“Dari pengalaman saya, Bakti Budaya Djarum Foundation sangat peduli dan support dengan dunia tari karena tidak membedakan seni ekspresi dari personal senimannya dengan dari masyarakatnya,” kata Hartati.
Kucing Hartati tertidur di meja sementara ia menari. Foto: Febria Adha Larasati/kumparan

Regenerasi Penari Jadi Tantangan

Tantangan terbesar yang dirasakan Hartati dalam melestarikan tari adalah mewujudkan regenerasi penari muda. Meski saat ini banyak kompetisi tari yang melibatkan anak muda, ia khawatir ajang-ajang semacam itu tidaklah cukup.
Dalam realita di lapangan, Hartati sering melihat banyak penari muda yang hanya aktif di level dasar sehingga sulit berkembang dan akhirnya meninggalkan dunia tari karena merasa tidak ada peluang untuk maju.
Menurut Hartati, perlu wadah selain lomba atau kompetisi untuk memelihara minat mereka akan tari sekaligus meningkatkan kemampuan mereka sampai level internasional. Wadah ini ia ibaratkan sebagai ‘ruang tengah’ dan ‘ruang atas’.
“Kita harus bersama-sama membangun ruang tengah buat mereka agar mereka bisa survive di dunia tari dan bisa tetap berkomunikasi dengan budaya dan tradisinya; kemudian siapkan ruang atas agar mereka bisa dikenal dunia,” papar Hartati.
Latihan tari tradisional di Omah Seni, Bintaro, Jakarta Selatan, Sabtu (16/8). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Melestarikan tarian tradisional juga diupayakan Mira Arismunandar melalui sanggar Gema Citra Nusantara (GCN) yang ia dirikan di Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Di sanggar ini, Mira mengajarkan berbagai tarian tradisional Nusantara kepada anak-anak. Gratis.
Sanggar tersebut memang bukan sumber penghasilan Mira. Ia mengandalkan pementasan di berbagai event untuk mengisi pundi-pundinya. Sementara di sanggarnya, ia hanya ingin melatih anak-anak yang berminat dan berbakat menari sejak usia dini.
Bagi Mira, keragaman tarian tradisional Indonesia—dengan iringan musik memikat—adalah warisan budaya yang tak ternilai dan tak boleh hilang. Ia ingin memastikan tari-tarian ini dikenal, dipelajari, dan dicintai oleh anak-anak muda.
Para penari muda berlatih di Omah Seni, Bintaro, Jakarta. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Meski menjaga tradisi, Mira mendekap perkembangan zaman. Ia tak keberatan dengan tarian modern, namun menekankan pentingnya kelestarian dan identitas tari tradisional.
“Tradisinya kita pelihara, kita jaga, kita lestarikan karena secara tidak langsung itulah jati diri kita sebagai bangsa Indonesia,” kata Mira di sanggarnya, Sabtu (16/8).
Ia selalu mengajarkan kepada murid-muridnya: tak ada tarian yang tidak indah, dan setiap gerakan memiliki tujuan dan cerita.
Untuk memastikan tarian tradisional bermakna, Mira selalu menekankan prinsip wiraga, wirama, dan wirasa sebagai fondasi setiap tarian.
Wiraga adalah penguasaan tubuh—bagaimana gerakan dilakukan dengan tepat. Wirama merupakan penghayatan irama—kemampuan menyesuaikan gerakan dengan musik agar tercipta harmoni. Sementara wirasa ialah perasaan dan ekspresi yang disalurkan melalui setiap gerakan.
Mira memimpin latihan tari tradisional di Omah Seni, Bintaro. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Regenerasi penari di sanggar Mira tak selalu mulus. Tak semua anak bisa disiplin dan bertahan walau pendaftaran tidak dipungut biaya.
“Jadi tergantung anaknya. Semua kembali ke niatnya,” kata Mira.
Saat sanggar binaan Mira pindah dari Cipete ke Pesanggrahan, jumlah murid juga berkurang. Sebelumnya, tiap gelombang pendaftaran per tahunnya mencapai 70 anak, namun sekarang hanya 50 anak.
Menurunnya jumlah pendaftar sanggar GCN antara lain karena lokasinya yang baru dianggap terlalu jauh bagi sebagian orang, dan beberapa anggotanya pindah ke sanggar lain.
Perkara berpindah-pindah sanggar juga dikhawatirkan Mira mengganggu regenerasi penari, sebab hal itu dapat mengganggu kontinuitas pembelajaran dan perkembangan kemampuan tari yang telah mereka capai.
Berlatih Tari Piring. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Di sanggar Mira, semua anak mendapat perlakuan sama. Penari berkebutuhan khusus pun mendapat kesempatan tampil dan belajar bersama. Kini ada dua anak berkebutuhan khusus yang aktif latihan menari tiap minggunya di CGN.
“Kami merangkul mereka untuk [menari] bersama. Karena mereka harus punya panutan yang jadi contoh,” kata Mira, menekankan misinya untuk menjaring sebanyak mungkin anak berbakat di dunia tari tanpa memandang latar belakang mereka.
Ia pun pernah bekerja sama dengan Yayasan Peduli Sindroma Down Indonesia untuk mengajak para penari berkebutuhan khusus tampil dalam pertunjukan Cantiknya Indonesiaku di Galeri Indonesia Kaya (GIK).
Gelar tari Cantiknya Indonesiaku oleh Gema Citra Nusantara di GIK. Foto: Indonesia Karya

Melebur Sekat demi Keutuhan Tarian

Hartati kerap memadukan tradisi dengan sentuhan modern. Sebagai penari dan koreografer Minang kontemporer, ia memasangkan gerak tari Minang dengan teknik balet maupun modern dance. Menurutnya, tarian tidak bisa disekat secara kaku ke dalam kategori tradisi atau modern.
Dari berbagai teknik yang Hartati pelajari, baik tari Jawa, Minang, silat, hingga balet, semua itu hanya alat bantu untuk mewujudkan ekspresi yang ingin ia hadirkan di atas panggung.
“Tiap tradisi punya teknik berbeda. Ketika kita mau ekspresi personal, yang kita mau adalah tubuh yang personal. Untuk itu kita butuh tools. Misalnya, tools yang memungkinkan kita untuk mengangkat kaki dengan tinggi, itu ada di teknik balet atau modern dance. Jadi itu yang saya gunakan,” ujar Hartati.
Pengalaman belajar langsung di New York selama enam bulan membuatnya kaya pengalaman akan teknik olah tubuh. Hartati menyerap setiap detail gerakan, dari modern dance, jazz, hingga balet.
Menari sepenuh hati. Foto: Febria Adha Larasati/kumparan
Hartati menyatakan, beberapa detail gerakan tari modern atau kontemporer bisa menyempurnakan keindahan tari tradisional. Ibaratnya, tiap tradisi atau teknik tari adalah kosakata untuk tubuh.
“Keberuntungan mempelajari banyak hal adalah: ketika kita bikin karya, mereka (teknik yang telah dipelajari) akan menjadi vocabulary yang kita butuhkan. Misal, sekeras apa harus mengentakkan kaki? Semelayang apa tubuh kita? Dan melayang yang bagaimana? Apakah yang seperti balet? Nah, semua teknik jadi bisa dimanfaatkan [untuk mewujudkan gerak tari yang ideal],” papar Hartati.
Salah satu karya kontemporer Hartati ialah ‘Jarum dalam Jerami’, tari yang menafsirkan tradisi Minangkabau dalam konteks kekinian. Hartati mengambil inspirasi dari gurunya, Gusmiati Suid, yang menciptakan tari ‘Api dalam Sekam’ yang muncul di tengah turbulensi politik 1998.
‘Api dalam Sekam’ merefleksikan ketegangan sosial-politik jelang akhir Orde Baru, sedangkan ‘Jarum dalam Jerami’ adalah refleksi perjalanan bangsa setelah Reformasi.
Tarian Jarum dalam Jerami karya Hartati. Foto: Bernie Ng
Hartati melihat, meski 25 tahun lebih telah berlalu sejak Reformasi, rakyat Indonesia masih terjebak euforia, dan kini malah bingung sendiri akibat maraknya hoaks. Kondisi ini ia ibaratkan seperti ‘jarum dalam jerami’—ada bahaya yang tersembunyi, tapi nyata.

Dari Nusantara untuk Dunia

Tari “Jarum dalam Jerami” dipentaskan di berbagai panggung, dari nasional hingga internasional. Dimulai dari Kampung Adat Nagari Sijunjung, Sumatera Barat; lalu ke Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat; sampai akhirnya ke Esplanade Singapura pada 2025.
Memperkenalkan seni Nusantara ke dunia juga dilakukan Mira. Bersama Dharma Wanita di KBRI Wina, misalnya, ia mendirikan sanggar Gema Puspa Nusantara yang hingga kini masih aktif. Mira begitu bangga tiap tari Indonesia disambut antusias oleh penonton mancanegara.
Mira menyaksikan sendiri betapa gamelan Jawa dan tarian Nusantara mampu memikat hati banyak orang Eropa. Baginya, misi budaya bukan hanya untuk menjaga nama Indonesia tetap dikenal dunia, tapi juga pintu untuk menarik datang wisatawan asing guna merasakan langsung kekayaan budaya Nusantara.
Pertunjukan tari oleh Sanggar Seni Laut Biru Polewali Mandar di GIK, 10 November 2024. Foto: Indonesia Karya
Mira bersyukur upayanya memperkenalkan tarian tradisional Indonesia ke kancah internasional mendapat dukungan dari Bakti Budaya Djarum Foundation. Demikian pula sanggar Mira di Pesanggrahan.
“Hingga saat ini, Gema Citra Nusantara selalu mendapat support luar biasa dari Bakti Budaya Djarum Foundation,” kata Mira.
Menurutnya, Bakti Budaya Djarum Foundation menjadi wadah bagi seniman untuk menyalurkan ide dan aspirasi, dan itu patut disyukuri karena membuat jagat seni dapat terus berkembang di tanah air.

Ruang Berkarya Budaya Nusantara

Bakti Budaya Djarum Foundation (BBDF) menaruh perhatian kuat dalam pelestarian budaya Indonesia. Sejak 1992, yayasan ini meluncurkan berbagai program yang tak hanya menjaga seni tradisional tetap hidup, tapi juga menyebarkan dan mengenalkannya kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda.
Indonesia Menari, salah satu program Bakti Budaya Djarum Foundation. Foto: Djarum Foundation
Program Director BBDF Renitasari Adrian mengatakan, ada lebih dari 5.000 kegiatan budaya yang telah mereka dukung. Selain itu, tak kurang dari 2.000 seniman pun didukung agar karya mereka bisa dipentaskan, dinikmati, dan diapresiasi publik.
“Termasuk kelompok-kelompok seniman panggung yang aktif berproduksi seperti Teater Koma, Titimangsa, Wayang Orang Barata, Teater Abnon, Teater Keliling, Teater Populer, Jakarta Movin’, dan beberapa seniman teater lain,” ujar Renita.
BBDF juga memiliki program pelatihan rutin Ruang Kreatif Intensif Musikal Budaya (RK IMB) berupa kelas pembelajaran musikal gratis bagi seniman panggung; juga menggelar workshop untuk seniman-seniman muda berbakat.
Workshop tersebut istimewa karena para seniman muda Indonesia akan digembleng oleh pengajar-pengajar seni terbaik di Indonesia, dan dikirim ke West End di London untuk mendapatkan pelatihan singkat lanjutan.
Seniman-seniman muda tersebut diharapkan dapat mengasah kedisiplinan dan menimba pengalaman sehingga memiliki kemampuan sesuai standar global, dan dapat menghasilkan karya bertaraf internasional.
Pertunjukan teater musik Migrasi Otak di GIK. Foto: Indonesia Kaya
Untuk memperkuat upaya pelestarian budaya Nusantara, BBDF pada 2013 meresmikan Galeri Indonesia Kaya (GIK) di Jakarta sebagai galeri seni, tempat pertunjukan, sekaligus ruang pendidikan dan hiburan (edutainment).
GIK yang memiliki luas 635 meter persegi di lantai 8 West Mall Grand Indonesia merupakan ruang publik yang didedikasikan untuk masa depan seni Indonesia, agar budaya Nusantara tidak kehilangan tempat di kalangan generasi muda, dan agar masyarakat umum tidak kehilangan keiindonesiaan mereka.
Konsep GIK yang memadukan kesenian dan teknologi tercermin dalam desainnya yang unik. Pameran interaktif di dalamnya mengajak pengunjung untuk menjelajah dan merasakan langsung kekayaan budaya Indonesia, mulai dari alat musik dan mainan tradisional, pakaian adat, cerita rakyat, sampai kuliner, kesenian, tradisi, dan pariwisata dari berbagai daerah.
Semua informasi itu dikemas secara interaktif dan apik agar pengunjung dapat mempelajari budaya Indonesia dengan cara yang lebih modern, menyenangkan, dan gratis.
Galeri Indonesia Kaya (GIK) di Grand Indonesia, Jakarta. Foto: Bakti Budaya Djarum Foundation
GIK—yang dilengkapi auditorium raksasa berkapasitas 150 orang—juga menyuguhkan berbagai pertunjukan seni budaya, baik tarian, musik, teater, juga sastra. Auditorium ini dapat digunakan para seniman untuk berlatih dan mementaskan pertunjukan, memutar film, atau diskusi dan workshop tanpa pungutan biaya.
Tiap akhir pekan, para seniman Indonesia memeriahkan pentas budaya di GIK dengan karya mereka. Sineas Garin Nugroho pernah menyebut keberadaan GIK sebagai kerja luar biasa dalam dunia seni, dan menjadi jembatan antara masyarakat dengan pekerja seni.
Gema Citra Nusantara juga menjadi salah satu dari sekian banyak komunitas yang kerap tampil di GIK.
Gelar tari Cantiknya Indonesiaku oleh Gema Citra Nusantara di GIK. Foto: Indonesia Karya

Kolaborasi, Kunci Tradisi Lestari

Semua upaya kolaboratif yang terutama membidik anak-anak muda tersebut mulai menampakkan hasil. Menurut Renita, “Persentase kehadiran penonton muda pada setiap pertunjukan meningkat. Tiket juga sold out karena pertunjukan budaya selalu dinantikan oleh para penikmat seni.”
Ke depannya, BBDF berharap makin banyak seniman muda yang konsisten menapaki panggung seni; makin bertambah pula penonton pertunjukan seni dari segala usia dan segala kalangan; sehingga banyak sponsor tertarik mendukung panggung budaya dan menumbuhkan ekosistem seni yang sehat.
Pada akhirnya, ujar Renita, “Semoga konten dan budaya lokal bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.”
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendukung penuh kolaborasi swasta, pemerintah, dan pegiat seni untuk memajukan budaya Nusantara.
“Kami sangat menghargai peran swasta seperti yang dilakukan Djarum Foundation dalam mendukung berbagai kegiatan kebudayaan dan melestarikan budaya sesuai amanat UU Pemajuan Kebudayaan. Kita perlu semakin banyak pihak swasta yang mempunyai kepedulian terhadap kebudayaan,” ujar Fadli, Senin (25/8).
Ia melanjutkan, pemajuan kebudayaan memang tanggung jawab semua pihak, dari pusat sampai daerah; dari pemerintah sampai korporasi, termasuk para pegiat budaya itu sendiri.
Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha menjelaskan, melestarikan budaya butuh keterlibatan semua pihak karena membangun budaya tidak seperti membangun infrastruktur fisik.
“[Kalau pembangunan fisik], kita bikin planning (perencanaan), lakukan feasibility study (uji kelayakan), kucurkan dana, dan dalam dua tahun kelihatan fisiknya. Tapi membangun budaya itu intangible (tak berwujud). Kita mungkin baru bisa merasakan manfaatnya dalam 5–10 tahun,” kata Giring kepada kumparan.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Wamen Kebudayaan Giring Ganesha. Foto: Jonathan Devin/kumparan
Dalam jangka panjang, ujar Giring, daerah-daerah yang kebudayaannya dipelihara, dibina, diberdayakan, dan dimanfaatkan akan merasakan imbas positifnya di sektor pariwisata dan industri kreatif yang berujung pada rasa sukacita warganya.
“Oleh karena itu kami mengapresiasi apa yang sudah dilakukan Bakti Budaya Djarum Foundation. Semoga bisa menjadi percontohan untuk semua pihak swasta, karena kebudayaan berdampak luar biasa bagi peningkatan ekonomi kreatif, pariwisata, dan kebahagiaan masyarakat,” ucap Giring.
Sejalan dengan visi Djarum Foundation, kerja sama berbagai pihak untuk merawat dan melestarikan tradisi diharapkan dapat terjalin masif di berbagai daerah sehingga kekayaan budaya Nusantara akan menopang bangsa menuju Indonesia digdaya seutuhnya.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Trending Now