Mikroplastik di Jakarta Meningkat 5 Kali Lipat, BRIN Soroti TPA Open Dumping
24 Oktober 2025 12:21 WIB
·
waktu baca 3 menitDiperbarui 20 November 2025 14:46 WIB

Mikroplastik di Jakarta Meningkat 5 Kali Lipat, BRIN Soroti TPA Open Dumping
BRIN menyebut, dalam rentang waktu 7 tahun, kandungan mikroplastik Muara Angke meningkat 5 kali lipat.kumparanNEWS

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat peningkatan signifikan jumlah mikroplastik di Jakarta. Profesor Riset BRIN Muhammad Reza Cordova, menyebut dalam rentang tujuh tahun, kandungan mikroplastik di Muara Angke meningkat lima kali lipat.
“Sebenarnya dulu sudah pernah kami informasikan, kami melakukan kajian mikroplastik di Muara Angke di titik yang sama itu meningkat lima kali lipat dari tahun 2015 ke 2022,” ujar Reza saat media briefing bersama Pemprov DKI Jakarta di Balai Kota, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (24/10).
Hal ini dipengaruhi oleh aktivitas manusia dan sistem pengelolaan sampah yang belum sepenuhnya tertangani. Khususnya di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang masih menerapkan open dumping.
Open dumping atau pembuangan terbuka merupakan cara pembuangan sederhana di mana sampah hanya dihamparkan pada suatu lokasi, dibiarkan terbuka tanpa pengamanan dan ditinggalkan setelah lokasi tersebut penuh.
Reza menjelaskan, pengelolaan sampah di Jakarta sebenarnya sudah cukup baik, dengan lebih dari 95 persen sampah dikumpulkan dan diangkut dari sumbernya.
Namun, hasil penelitian BRIN menunjukkan adanya hubungan antara mikroplastik di udara dengan TPA terbuka.
“Kami juga sebenarnya menemukan bahwa ada hubungan positif antara mikroplastik yang ditemukan di udara dengan TPA, terutama TPA-TPA yang open dumping. Semakin dia ber-open dumping, semakin tinggi pula mikroplastik yang dihasilkan,” ujar Reza.
Ia menjelaskan, air lindi dari TPA terbuka turut berkontribusi meningkatkan jumlah mikro dan mesoplastik di lingkungan.
“Karena dari hasil riset kami yang ada, dari air lindi saja itu meningkatkan mikro dan meso plastik, ukuran yang sedikit lebih besar itu 3 sampai 9 kali lipat di badan air,” jelasnya.
Reza menambahkan, kondisi tersebut dapat memperburuk kualitas udara dan air, terutama saat musim kemarau.
“Jadi kan open dumping terkena langsung sinar matahari dan itu bisa melepaskan mikroplastiknya dan mungkin bisa jadi, saya tadi baru tahu juga ternyata 15 kilo, berarti kemungkinan turun akan lebih banyak,” ujarnya.
BRIN mencatat tren peningkatan jumlah mikroplastik berbanding lurus dengan jumlah penduduk dan aktivitas perkotaan.
“Memang kami dapatkan semakin banyak penduduknya, semakin banyak aktivitasnya, semakin tinggi pula mikroplastik yang ditemukan. Baik itu yang ada di udara maupun yang ada di air, termasuk yang ada di biota,” kata Reza.
Menurut Reza, fenomena ini menjadi alarm penting karena konsumsi plastik masyarakat juga terus meningkat.
“Kita ketahui sekarang bahwa konsumsi plastik masyarakat kita sehari-hari semakin bertambah. Kenapa? Karena kita butuh memang higienis dan lain-lain,” tuturnya.
Hasil penelitian BRIN sebelumnya juga mengungkap air hujan di Jakarta mengandung partikel mikroplastik berbahaya yang berasal dari aktivitas manusia di perkotaan. Temuan ini menjadi peringatan bahwa polusi plastik kini tidak hanya mencemari tanah dan laut, tetapi juga atmosfer.
Penelitian menunjukkan adanya mikroplastik dalam setiap sampel air hujan di Ibu Kota. Partikel-partikel plastik mikroskopis tersebut terbentuk dari degradasi limbah plastik yang melayang di udara akibat aktivitas manusia.
Untuk menekan jumlah mikroplastik di lingkungan, BRIN mendorong pengembangan plastik ramah lingkungan.
“Kami mendorong juga teman-teman di BRIN dan perguruan tinggi untuk plastik packaging-nya itu diganti menjadi produk plastik yang betul-betul bio-waste. Jadi memang berbasis natural, supaya cepat hilang,” kata Reza.
“Kami juga masih melakukan penelitian, bagaimana sih menghancurkan dalam tanda petik menggunakan mikroba. Tapi itu prosesnya masih panjang dan mudah-mudahan ke depan bisa ada jawabannya,” tandasnya.
