Miris Kondisi JPO di Koja, Jakut: Besi Pagar Banyak Hilang, Lantai Licin
10 Desember 2025 17:51 WIB
·
waktu baca 3 menit
Miris Kondisi JPO di Koja, Jakut: Besi Pagar Banyak Hilang, Lantai Licin
Kondisi JPO itu memprihatinkan, lantainya licin hingga pagar tangganya banyak yang hilang.kumparanNEWS

Di dekat Pasar Ular, Koja, Jakarta Utara, sebuah jembatan penyeberangan orang (JPO) yang terhubung dengan Halte TransJakarta Koja kondisinya memprihatinkan.
Padahal jembatan tersebut masih aktif digunakan pejalan kaki, mulai dari pelajar, pekerja hingga lansia untuk menyeberang Jalan Yos Sudarso yang banyak dilalui truk dan kontainer.
JPO dengan lantai berbahan beton dilapisi aspal itu, pagar besinya banyak yang hilang. Hilangnya pagar itu membuat beberapa bagian tampak bolong.
Rahmat (55), tukang ojek yang mangkal setiap hari di bawah JPO, mengatakan kerusakan itu bukan hal baru.
“Ini mah udah lama. Pada bolong udah lama ya,” ujarnya sambil menunjuk salah satu bagian pagar yang hilang, saat ditemui kumparan di lokasi, Rabu (10/12).
Ia menambahkan, perbaikan sempat dilakukan, tetapi tidak tuntas.
“Karena tukang las datang dibenerin, sampai ke atas dibenerin. Saya lihat sendiri, terus kabur aja tuh. Udah lama nggak nongol-nongol lagi,” katanya.
Ros (43), rekan Rahmat sesama ojek pangkalan, juga mengaku tidak tahu pasti penyebab hilangnya besi-besi itu.
“Enggak tau, hilang sendiri aja gitu bolong. Besi banyak di sini, ngobrol aja bisa hilang,” tuturnya.
Tangga Licin, Banyak Pengguna Terjatuh
Selain besi-besi yang hilang, kondisi tangga JPO juga memprihatinkan. Aspal pada lantainya banyak yang berlubang, kasar dan tidak rata.
“Banyak juga kepeleset di sini. Jatuh, licin, pas hujan,” kata Ros.
Ia menambahkan, kejadian itu dialami oleh siapa saja.
“Sering, waktu itu nenek-nenek. Siapa aja di sini. Pakai sepeda juga sering nyungsep, licin. Kadang nuntun sepedanya,” ungkapnya.
Lubang-lubang kecil di lantai JPO serta gulungan kabel yang dibiarkan berserakan di sudut-sudut juga makin menambah potensi bahaya.
Pegangan Berkarat dan Bau
Masalah JPO yang digunakan oleh pelanggan TransJakarta ini tidak sampai situ saja. Pegangan tangga JPO itu juga nampak tidak terurus. Besinya menghitam, berkarat, dan penuh coretan. Beberapa bagian terasa rapuh jika digenggam.
Firgia (23), pengguna TransJakarta yang sudah empat tahun melewati JPO tersebut, mengaku kondisi itu tidak pernah berubah.
“Dan ini tuh enggak ada perubahan, kayak gini terus keadaan buat JPO-nya. Terus buat pegangannya tuh kadang udah rapuh gitu,” katanya.
Ia bahkan menyebut pegangan tersebut memiliki aroma yang mengganggu.
“Ini tuh kotor berkarat yang besi bau gitu loh kadang, bau amis. Iya, jadi kita males pegangan, kalau enggak pegangan licin. Gimana dong,” tuturnya.
Menurutnya, selama empat tahun terakhir, ia tak pernah melihat ada perbaikan berarti.
“Enggak ada perbaikan apa-apa sih. Aku enggak ngelihat dicat pun sama sekali, dicat enggak, apapun diganti enggak. Dalam 4 tahun ini saya enggak pernah lihat,” jelas Firgia.
JPO Masih Ramai, tapi Rawan
Meski kondisinya memprihatinkan, JPO Koja tetap menjadi jalur favorit pengguna. Lokasinya strategis dan dinilai lebih aman daripada menyeberang langsung di jalan besar.
“Masih, sampai malam. Banyak, ramai. Namanya jalanan bebas lah. Daripada ke sono bahaya kan mau nyebrang. Iya kan, mending lewat sini,” kata Ros.
Ia menambahkan, pada malam hari penerangan cukup baik sehingga pengguna tetap ramai lewat. Namun, kawasan sekitar JPO ini juga rawan penjambretan.
“Kalau di pinggir situ apalagi kalau main HP, jambret. Makanya mending saya bilangin jangan dimainin pinggir jalan situ HP-nya, jambretnya banyak,” ujar Ros.
Berharap Ada Perbaikan
Baik pengguna maupun warga sekitar sepakat, JPO Koja seharusnya bisa memberikan rasa aman dan nyaman bagi pejalan kaki. Kondisinya kini dirasa tidak layak untuk fasilitas publik yang digunakan masyarakat dari berbagai usia.
“Harapan saya ini kan kita tuh transportasi umum marak banget ya. Jadi banyak yang pakai dari anak kecil sampai usia lanjut, bisa diperbaikin untuk jalannya, pegangan ininya, jadi kita lebih nyaman juga. Jadi kan kadang antre juga turunnya, naiknya gitu,” tutur Firgia.
Hal serupa juga disampaikan Rahmat. “Ya kalau dibenerin mah ya itu tambah bagus lah. Yang penting pemandangannya enak dilihat, bagus,” kata Rahmat.
