Momen Terakhir WNI yang Tewas Dalam Kebakaran Apartemen di Hong Kong
6 Desember 2025 8:45 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
Momen Terakhir WNI yang Tewas Dalam Kebakaran Apartemen di Hong Kong
Keluarga korban bercerita soal momen terakhir mereka berbincang dengan korban.kumparanNEWS

Kebakaran apartemen Wang Fuk Court di Distrik Tai Po, Hong Kong, pada Rabu, 26 November 2025, membawa duka bagi Indonesia. Terdapat 140 orang WNI yang tinggal dan bekerja di apartemen tersebut sebagai tenaga kerja migran di sektor domestik.
Data Kementerian Luar Negeri (Kemlu) per 4 Desember 2025, 9 WNI tewas dalam insiden tersebut, satu WNI terluka, dan 129 WNI selamat.
Erawati (34) merupakan salah satu korban meninggal dunia dalam kebakaran tersebut. Menurut kakak kandung Erawati, Suyono (44), sang adik sempat melakukan video call dengan ayahnya dan suaminya pada Rabu (26/11). Ketika itu api sudah melumat apartemen tempatnya bekerja.
"Adik itu tinggal di lantai 8, dia bilang katanya asap sudah masuk, tapi belum pekat, cuma dia bilang sudah nggak kuat, karena banyak asap, dia kelihatan menggendong bayi majikannya," ucap Suyono, menceritakan kisah tragis adiknya, saat ditemui di rumahnya di Dampit, Kabupaten Malang, Jatim.
Dalam panggilan video itu Erawati menyampaikan permohonan maaf ke suaminya, anaknya yang masih berusia 6 tahun, Wakidi sang ayah, dan pihak keluarga. Di percakapan itu Erawati juga sempat mengatakan, berusaha menyelamatkan diri, bayi, dan orang tua dari majikannya, tapi tidak bisa karena kepungan asap mulai masuk ke lantai 8 tempatnya berada.
Menurut Suyono, Erawati berkomunikasi lewat panggilan video selama 30 menit. Begitu melihat kondisi Erawati yang dalam bahaya, ayahnya memanggil Suyono yang tinggal tak jauh dari rumah tinggal Suyitno, suami Erawati. Tangis histeris pun pecah dari Suyitno dan keluarga yang melihat kondisi Erawati.
"Saya hubungi lagi waktu itu sambungan teleponnya putus, kami hubungi lagi bisa masuk, tapi nggak ada respons," tutur Suyono.
Korban meninggal dunia lainnya ialah Siti Khotimah (40). Ia merupakan warga Desa Palaan, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang.
Suami almarhumah, Sutiyono (43), tampak masih syok dan tak bisa berkata banyak. Tubuhnya lemas sambil memegangi ponsel, berharap ada kabar baik mengenai, Siti Khotimah.
Sutiyono mengaku ikhlas menerima kepergian istrinya. βDapat info meninggal hari Sabtu jam 1 kurang seperempat [siang] langsung dari KJRI, iya, meninggal karena kebakaran itu,β kata Sutiyono.
Menurutnya, almarhumah bekerja di lantai 11 Apartemen Wang Fuk Court sebagai asisten rumah tangga (ART). Ia terakhir kali berkomunikasi dengan istrinya pada Rabu siang (26/11) melalui sambungan video dan sempat membalas pesan WhatsApp-nya.
βSempat WA, hubungan langsung (video call), tapi menghilang. Akhirnya hilang, nggak ada pesan terakhir, langsung putus, nggak nyambung lagi. Waktu itu cuma ngobrol-ngobrol biasa. Tahu-tahu baru dikabari sama KJRI jadi korban,β tuturnya.
Kendala Pemulangan Jenazah
Meski Erawati dan Siti Khotimah telah dipastikan meninggal dunia dalam kebakaran tersebut, namun jenazahnya belum bisa dipulangkan ke Indonesia. Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono mengungkapkan adanya kendala dalam proses pemulangan jenazah.
Ia menjelaskan, prosedur pemulangan jenazah dari wilayah tersebut memang membutuhkan waktu, bahkan di luar situasi darurat.
βMemang ada kendala peraturan setempat mengenai pemulangan. Tapi kita juga akan berusaha untuk mencari jalan-jalan supaya bisa cepat,β kata Sugiono kepada wartawan di Gedung Pancasila, Kemlu, Jakarta pada Jumat (5/12).
"Karena dalam proses, dalam situasi normal juga pemulangan jenazah dari Hong Kong itu agak sedikit lama prosedurnya,β sambungnya.
Sugiono menyampaikan rasa duka cita mendalam atas jatuhnya korban jiwa dalam insiden tersebut.
Ia menjelaskan bahwa meskipun ada hambatan regulasi, pemerintah terus berupaya mencari solusi agar jenazah dapat segera dipulangkan ke Tanah Air.
"Ya kita, saya mengucapkan berduka cita juga atas WNI-WNI kita yang meninggal di sana,β ucap dia.
