Muhammadiyah Luncurkan Kalender Hijriah Global Tunggal: Lebaran Akan Sering Beda
25 Juni 2025 13:49 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
Muhammadiyah Luncurkan Kalender Hijriah Global Tunggal: Lebaran Akan Sering Beda
"Bakal sering. Ada atau tidak ada KHGT ini akan selalu berbeda. Kenapa? Karena semuanya (pemerintah pakai) kalender lokal. Maka kalau ingin tidak berbeda, kalender global," kata Haedar.kumparanNEWS

Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan perbedaan hari Lebaran di Indonesia tetap bakal terjadi meski Muhammadiyah meluncurkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
"Bakal sering. Ada atau tidak ada KHGT ini akan selalu berbeda. Kenapa? Karena semuanya (pemerintah pakai) kalender lokal. Maka kalau ingin tidak berbeda, kalender global," kata Haedar ditemui di Kampus Universitas βAisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Rabu (25/6).
Haedar bilang perbedaan-perbedaan ini bukan karena Muhammadiyah. Di berbagai negara perbedaan ini juga terjadi.
"Jadi perbedaan itu akan selalu terjadi selama kita tidak punya kesepakatan tentang satu kalender. Persis seperti masehi lah. Dan kita perlu belajar. Umat Islam enggak apa-apa belajar. Maka kita akan berbeda terus. Nanti perbedaan pandangan, perbedaan metode dan lain sebagainya," jelasnya.
Haedar mengatakan KHGT bukti umat Islam makin maju peradabannya berbasis sains dan syariah. Memberikan kepastian tentang hari dan tanggal.
"Kita ingin menciptakan kemaslahatan dan menghindari kesulitan. Dengan Kalender Hijriah Global Tunggal ini kita akan lebih memudahkan bagi umat Islam maupun dunia dalam hal waktu ibadah maupun urusan muamalah lainnya," jelasnya.
1 Tahun Penyusunan
KHGT berlandaskan tiga prinsip utama yakni, keseragaman hari dan tanggal di seluruh dunia untuk memulai bulan baru, penggunaan hisab (perhitungan astronomi) sebagai metode penentuan waktu, yang memungkinkan peramalan jadwal penanggalan jauh ke depan, dan kesatuan matlak, yaitu anggapan bahwa seluruh permukaan bumi merupakan satu zona waktu untuk kalender Islam.
Haedar bilang penyusunannya membutuhkan waktu 1 tahun.
"Penyusunan konsep ini sudah 1 tahun yang lalu. Sejak Muhammadiyah menggelar Munas Tarjih di Pekalongan tahun 2024," katanya.
Temui Prabowo, Ajak Ormas Islam Hijrah ke KHGT
Haedar juga berencana bertemu dengan Kementerian Agama hingga Presiden Prabowo Subianto.
Bisa dibilang ini menjadi langkah awal Muhammadiyah untuk mengajak organisasi masyarakat umat Islam dalam negeri maupun luar negeri untuk berhijrah dari kalender lokal ke KHGT.
"Kita akan bertemu dengan Kementerian Agama kemudian berbagai pihak yang istilahnya kita mengajak dan kemudian saya yakin pemerintah itu kan bisa bisa dalam posisi wasit dalam hal urusan agama. Karena kalau masuk pada perbedaan nanti kan susah, kalau pemerintah menentukan satu pandangan kan nanti akan bermasalah," kata Haedar.
Haedar bilang Muhammadiyah secara intens akan berdialog dengan pemerintah.
"Bahkan nanti kalau sudah ada titik temu dengan berbagai kalangan kami juga akan bertemu Presiden, misalkan. Itu hal yang akan terus kami lakukan," bebernya.
Muhammadiyah mengajak umat Islam berhijrah dari kalender lokal ke KHGT. Sehingga hari raya akan satu hari satu tanggal.
"Diperlukan kalender yang sama yang seragam untuk seluruh dunia Islam," katanya.
"Dengan globalisasi yang disertai kalender global yang sama yang tunggal itu, semuanya akan menjadi mudah. Satu tidak ada lagi perbedaan mengenai penetapan hari raya Idul Fitri, Idul Adha, Ramadan, dan lain sebagainya. Maupun untuk keperluan sehari-hari," ujar Haedar.
Termasuk NU?
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Hamim Ilyas, mengatakan Muhammadiyah akan terus berdialog terhadap ormas Islam lain terkait peluncuran Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) oleh Muhammadiyah. Ini agar KHGT bisa diterima oleh ormas Islam lain di Indonesia.
Lalu apakah pendekatan ini juga dilakukan ke Nahdlatul Ulama (NU)?
"(Ke NU) belum. Karena mereka (NU) sudah jelas, ketika mendengar mereka sudah menolak. Ada 30 alasan untuk menolak," kata Hamim Ilyas.
"Dan kita sudah merespons juga 30 alasan itu. Kalau saya nggak salah," jelasnya.
Selama ini, NU konsisten menggunakan rukyatul hilal untuk kalender Hijriah. Sementara KHGT ini menggunakan metode hisab hakiki.
"Sehingga isbat itu, bisa sekali isbat bisa untuk 500 tahun bahkan untuk selama-lamanya itu bisa. Kita mengidealkan seperti itu," katanya.
Hamim mengatakan sebelumnya Majelis Tarjih membentuk tim kalender untuk menyusun KHGT ini.
"Kita untuk sementara ini (kalender) 25 tahun ke depan. Setelah 25 tahun ke depan, akan ada peluncuran lagi. Sebetulnya bisa (100 tahun ke depan) cuma ini Kalender Hijriah Global Tunggal ini masih dalam masa pertumbuhan bisa jadi nanti ada evaluasi. Sehingga kita untuk hati-hati 25 [tahun] ke depan," bebernya.
Di Indonesia baru Muhammadiyah yang menggunakan KHGT. Namun di negara lain banyak yang sudah memakai seperti Turki dan Pakistan.
"Dari Malaysia tertarik untuk mengundang kita. Untuk belajar dengan kita," bebernya.
Hamim berharap KHGT ini bisa diterima oleh semua pihak. "Ini perjuangan yang panjang. Kan kalender masehi pun juga melalui proses yang lama untuk bisa satu itu," katanya.
Peluncuran KHGT adalah hasil kajian yang telah diputuskan pada Musyawarah Nasional (Munas) ke-32 pada Februari 2024. Keputusan ini mengadopsi hasil Muktamar Turki 2016 yang dianggap memenuhi syariat Islam dan berbasis ilmiah.
