Mu'ti: Branding Kopi Swiss Bagus, Padahal Petaninya Orang Lampung

8 Desember 2025 12:51 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mu'ti: Branding Kopi Swiss Bagus, Padahal Petaninya Orang Lampung
Mendikdasmen Abdul Mu'ti mengkritik lemahnya branding produk pertanian Indonesia, terutama kopi, dibanding negara-negara Eropa.
kumparanNEWS
Mendikdasmen Abdul Mu'ti dalam Simposium Penyelarasan dan Revitalisasi Vokasi Bidang Ketahanan Pangan di Millennium Hotel Sirih, Jakarta Pusat pada Senin (8/12/2025). Foto: Amira Nada/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Mendikdasmen Abdul Mu'ti dalam Simposium Penyelarasan dan Revitalisasi Vokasi Bidang Ketahanan Pangan di Millennium Hotel Sirih, Jakarta Pusat pada Senin (8/12/2025). Foto: Amira Nada/kumparan
Mendikdasmen Abdul Mu'ti mengkritik lemahnya branding produk pertanian Indonesia, terutama kopi, dibanding negara-negara Eropa.
Ia mencontohkan kasus anak yang tinggal di kebun kopi di Lampung, namun hanya memiliki satu SMK dengan jurusan perkopian. Di sisi lain, negara lain justru menikmati citra kuat sebagai produsen kopi.
โ€œSementara yang punya branding kopi itu adalah Swiss. Kopi Swiss itu produknya diambil dari Lampung, dari Aceh, dan sebagainya,โ€ kata Mu'ti dalam sambutannya di Simposium Penyelarasan dan Revitalisasi Vokasi Bidang ketahanan Pangan di Millenium Hotel, Jakarta Pusat, Senin (8/12).
Menurut dia, Swiss tidak memiliki perkebunan kopi, teh, maupun coklat. Namun negara tersebut dikenal sebagai produsen produk-produk itu.
Pelaku usaha Raya Sadianor mengaduk biji kopi di industri rumahan Indu Kuh Coffe, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (6/11/2024). Foto: Auliya Rahman/ANTARA FOTO
Mu'ti juga menyinggung Belgia yang tidak memiliki perkebunan cokelat, tetapi terkenal dengan industri cokelatnya. Sementara Indonesia, memiliki bahan baku melimpah namun belum mampu mengembangkan sektor produksinya.
โ€œCokelat kita itu luar biasa, tumbuh di mana-mana, tapi pertanian cokelatnya tidak cukup berkembang. Problem kita, saya pernah baca di media nasional, mayoritas petani kita berusia di atas 50 tahun,โ€ katanya.
Ia menilai, SMK berbasis pertanian harus diperkuat agar generasi muda memahami potensi di sekitar mereka dan mencapai kedaulatan pangan.
โ€œSehingga dalam konteks ini, simposium ini, selain kita berbicara bagaimana pengembangan SMK pertanian, harus ada upaya kita membangun gerakan. Ekosistem ini perlu kita bangun bersama agar kita bisa punya kedaulatan pangan,โ€ pungkas Mu'ti.
Trending Now