Nazwa Pamit Wawancara Kerja ke Medan: Tiba-tiba di Thailand, Tewas di Kamboja
20 Agustus 2025 12:45 WIB
·
waktu baca 4 menit
Nazwa Pamit Wawancara Kerja ke Medan: Tiba-tiba di Thailand, Tewas di Kamboja
Seorang remaja asal Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumut, bernama Nazwa Aliya (19), dikabarkan meninggal dunia di Kamboja pada Selasa (12/8) lalu.kumparanNEWS

Seorang remaja asal Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumut, bernama Nazwa Aliya (19), dikabarkan meninggal dunia di Kamboja pada Selasa (12/8) lalu.
Padahal awalnya dia hanya izin ke ibunya untuk berangkat wawancara kerja di salah satu bank swasta di Kota Medan.
Ibu Nazwa, Lanniari Hasibuan (53), menceritakan, mulanya Nazwa mengaku ikut interview pada Selasa (27/5) lalu. Kemudian, dia meminta izin ke ibunya untuk mengikuti interview kedua pada Kamis (29/5). Lanniari pun mengizinkan.
“Yasudah 29 Mei paginya pergi, pagi sekali perginya. Makanya saya nggak tampak, dia keluar jam setengah 5, jam 5 pagi gitu,” kata Lanniari pada Rabu (20/8).
“Saya saat itu nggak bisa bangun karena capek banget, saya bangun saya tengok Hp dia bilang SMS (WhatsApp), Mak pergi dulu ya doain ya terus kunci di jendela ya kata dia,” sambungnya.
Mendapat pesan itu, Lanniari merasa janggal, dia pun menelepon Nazwa.
“Sudah gitu waktu saya telepon katanya jangan telepon, SMS aja sedang ujian kata dia,” jelasnya.
Karena khawatir, Lanniari terus-terusan menelepon Nazwa. Namun, kata dia, tiba-tiba Nazwa mengirimkan foto suasana bandara di Thailand.
“Siangnya saya telepon sama juga kata dia, WA aja, sorenya saya telepon nggak angkat, sampai sejam tuh nggak diangkat. Karena khawatir kan saya, jadi saya telepon nggak angkat dia tunjukkin gambar airport Thailand, saya pingsan saya jerit, pingsan, tetangga dateng,” sambungnya.
Usai itu, kata Lanniari, ia kembali menghubungi Nazwa. Menurutnya, Nazwa plin-plan dalam memberi kabar ke sang ibu.
Sebab, awalnya Nazwa mengaku berangkat bersama 4 orang. Kemudian, ia ternyata berangkat hanya sendirian.
“Saya bilang betul ini (lagi di Thailand)? Bukan bohong? Betul katanya waktu di airport saya tanya juga dengan siapa pergi mula dia bilang 4 orang. Memang dari rumah dia bilang ujian (wawancara kerja) itu 4 orang, sudah gitu berubah jadi satu orang,” kata dia.
Suruh lari
Lanniari menuturkan, ia punya firasat tak enak soal perginya Nazwa ke Thailand. Ia pun meminta agar Nazwa kabur.
“Udah gitu di habis bandara itu saya suruh suruh lari tapi dia bilang aman, aman,” kata dia.
“Saya rasa janggal karena macam ada yang mengawasi dia, jadi saya suruh lari, aman kata dia, jangan takut Mamak,” sambungnya.
Kata Lanniari, Nazwa juga mengaku akan bertemu dengan pria bernama Chris di Thailand. Chris adalah teman dari Lanniari saat berada di Malaysia.
“Ya dia bilang besok Pak Chris ada di Kamboja, saya denger dia mau buka perusahaan baru. Di Malaysia sudah tutup, Chris itu teman saya juga dulu. Jadi saya tanya dia apakah Nazwa ada kontak, katanya ada, katanya di Thailand,” kata dia.
“Dia suruh saya bergabung dengan mereka katanya, saya nggak tahu pasti yang betul Chris pergi jemput atau Nazwa yang ke Kamboja entah siapa yang bawa,” jelasnya.
Lanniari tak mengetahui mengapa keduanya bisa saling berkomunikasi.
Dikirimi Foto Jenazah Nazwa
Lanniari pun berusaha menghubungi eks bosnya di Malaysia yang punya jabatan di pemerintahan untuk membantunya.
Kata dia, eks bosnya itu meminta bantuan orang kenalannya di Imigrasi untuk menghalangi biro perjalanan Nazwa ke Kamboja.
“Tiba-tiba saya dapat SMS dari Hp dia ngapain kau halang-halangan aku pergi, ngapain kau panggil gangster. Di situ saya sudah rasa heran apakah ini anak saya bahasanya gini, sampai situ saya rasa aneh terus lah, ternyata terlepas juga (sampai ke Kamboja),” kata dia.
“Tapi dia SMS ke abang saya dia bilang saya ganggu perjalanan ke sana panggil gangsters. Padahal bukan panggil gangster, bos saya cuma kontak kawannya supaya menghalangi dia supaya nggak ke Kamboja,” jelasnya.
Lanniari mengatakan, anaknya itu akhirnya berangkat ke Kamboja. Ia bahkan tak mendapat kabar dari Nazwa dan Chris karena nomornya diblokir.
“Tanggal 12 Agustus ini, Chris kirim gambar sudah ditutup kain biru jenazah anak saya Nazwa sudah meninggal (dikirim ke abang saya). Katanya overdosis (paracetamol). Dari RS katanya dispepsia,” jelasnya.
Bingung Biaya Pemulangan Jenazah Rp 138 Juta
Lanniari pun mengaku bingung untuk memulangkan jasad anaknya itu. Ia dimintai KBRI uang Rp 138 juta untuk pemulangan jasad Nazwa ke RI.
Lanniari mengaku tak menyanggupi itu karena keluarganya tak mampu. Sementara, kata dia, bila ingin dimakamkan di Kamboja, ia juga harus mengeluarkan uang senilai Rp 50-60 juta untuk biaya pemakaman
“Kalau kasus macam ini pemerintah (seharusnya) ambil berat (peran). Karena yang membagi dia masuk Thailand itu, macemana apanya itu Imigrasi bisa loloskan (bagaimana imigrasi meloloskan),” kata dia.
“Minta bantuan pemerintah mempermudah kepulangan Nazwa. Saya memang tak berkemampuan,” jelasnya.
kumparan sudah menghubungi kepala BP2MI Sumut Harold Hamonangan untuk mengkonfirmasi hal tersebut, namun belum direspons.
