Nenek di Pati Hidup Sebatang Kara, Tak Mau Ikut Anak yang Serumah Mertua
12 Januari 2026 11:03 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
Nenek di Pati Hidup Sebatang Kara, Tak Mau Ikut Anak yang Serumah Mertua
Sudah lebih dari 10 tahun lamanya, Mbah Srinah hidup dalam kondisi serba kekurangan tanpa pendampingan keluarga.kumparanNEWS

Rumah reyot di tengah perkebunan pisang menjadi saksi bisu perjuangan Mbah Srinah (68 tahun) bertahan dari kerasnya kemiskinan. Warga Desa Tunjungrejo, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati itu harus menjalani hari-harinya sendirian sambil berharap belas kasihan warga.
Sudah lebih dari 10 tahun lamanya, Mbah Srinah hidup dalam kondisi serba kekurangan tanpa pendampingan keluarga. Dia terpaksa tinggal di rumah berukuran sekitar 3 x 4 meter yang terlihat jauh dari kata layak.
Dinding rumah berbahan kalsiboard tampak berjamur dan pecah di sejumlah titik. Begitu pun dengan atap asbes yang terlihat bocor di sana-sini. Tidak adanya kamar mandi dan sanitasi yang layak membuat kondisi hunian itu tampak kumuh dan sangat memprihatinkan.
Rumah tersebut disekat menjadi dua ruangan sempit dengan lantai tanah. Bagian dalam digunakan sebagai kamar tidur yang kasurnya baru saja mendapat bantuan dari warga. Satu ruangan lainnya digunakan sebagai wadah perabotan yang digeletakkan begitu saja. Sementara teras rumah terpaksa difungsikan sebagai dapur.
Suami Meninggal, Warga Bantu
Ironisnya, rumah yang ditempati Mbah Srinah bukanlah miliknya. Bangunan tersebut berdiri di atas tanah milik warga setempat dan dibangun atas dasar rasa iba serta kepedulian masyarakat dan Pemerintah Desa (Pemdes) Tunjungrejo.
Mbah Srinah mengaku tinggal sebatang kara setelah suaminya meninggal kurang lebih tiga tahun lalu. Hari-harinya terasa sepi karena dua anaknya memilih tinggal jauh dari ibunya, yakni di Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, dan Kabupaten Jepara. Mereka hanya sesekali menengoknya.
βAnak-anak mpon do omah-omah. Wes dadi wong, mboke seng gak dadi wong (anak-anak sudah berumah tangga. Sudah jadi orang, ibuknya yang nggak jadi orang),β bebernya dengan suara bergetar, Jumat (9/1/2026).
Anak-anak Serumah dengan Mertua
Meski sang anak pernah memintanya untuk ikut serta, Mbah Srinah lebih memilih tinggal di rumah tersebut. Dia mengaku tidak enak bila ikut anaknya yang sudah berumah tangga karena anak-anaknya tinggal serumah dengan mertua.
βMboten krasan ah. Morotuane kumpul. Mundak ditukari mengken (tidak betah ah. Mertuanya tinggal serumah, takut diajak berantem nanti),β katanya.
Bantuan dari Pemerintah
Selain makan dari bantuan warga, Mbah Srinah juga kadang pergi ke pasar atau warung untuk membeli makanan sendiri. Uang yang dibelanjakan berasal dari Program Keluarga Harapan (PKH), bantuan sosial (bansos) lain, serta dari warga.
βMangan kadang luru dewe, seringe dikei tonggo. (Makan cari sendiri, seringnya diberi tetangga),β ujar Mbah Srinah.
Perangkat Desa Tunjungrejo, Muh Sulthon, menjelaskan pihak desa selalu membantu kehidupan Mbah Srinah dengan mengupayakan berbagai bantuan, seperti PKH dan Bantuan Pangan Nontunai (BPNT). Pihak desa juga berupaya terus mendampingi Mbah Srinah agar kehidupannya tetap terjamin.
βKalau bantuan yang dari desa itu terkait kalau ada sembako. Untuk yang rutin didapatkan itu bantuan sosial dari Dinas Sosial, baik PKH dan BPNT,β katanya.
Menurutnya, bantuan tersebut rutin diberikan untuk menunjang kehidupan sehari-hari Mbah Srinah. Pihak desa juga lebih sering memberikannya dalam bentuk uang agar Mbah Srinah memiliki pegangan dan bisa membelanjakannya sendiri.
βKalau bantuan dari pemerintah itu siklusnya per bulan, tapi disalurkan tiga bulan sekali. Selain itu juga ada bantuan dari warga berupa makan sehari-hari atau bantuan lain,β katanya.
Selain itu, warga juga secara swadaya membangunkan rumah. Namun, karena tanah tersebut bukan milik pribadi, pihak desa tidak bisa mengusulkan bantuan bedah rumah.
βKendalanya untuk rumah tinggalnya, karena itu pekarangan bukan miliknya, kami belum bisa membuatkan bangunan permanen. Jadi bangunan seadanya seperti itu,β ungkapnya.
