Netanyahu Ingin Warga Gaza Pindah ke Negara Tetangga: Masa Depan Lebih Baik
10 Juli 2025 14:58 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
Netanyahu Ingin Warga Gaza Pindah ke Negara Tetangga: Masa Depan Lebih Baik
Netanyahu ingin warga Gaza direlokasi ke negara tetangga karena ingin memberikan masa depan yang lebih baik. kumparanNEWS

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengungkapkan rencana yang menurutnya akan menciptakan perdamaian di Palestina. Senada dengan lawan diskusinya, Presiden AS Donald Trump ingin warga Gaza pindah ke negara tetangga.
Mengutip Aljazeera, mereka saling bertukar ide kontroversial soal masa depan Gaza dalam pertemuan makan malam yang berlangsung di Washington DC pada Senin (7/7) lalu.
"Jika mereka ingin tinggal, mereka boleh tinggal, tetapi jika mereka ingin pergi, mereka seharusnya bisa pergi. Seharusnya ini bukan penjara. Seharusnya ini tempat terbuka dan memberi orang pilihan bebas," kata Netanyahu, dikutip dari Aljazeera, Kamis (10/7).
Netanyahu mengeklaim idenya itu dapat memberikan masa depan yang lebih baik bagi warga Palestina.
"Kami bekerja sama dengan Amerika Serikat secara erat untuk menemukan negara-negara yang akan berupaya mewujudkan apa yang selalu mereka katakan, bahwa mereka ingin memberikan masa depan yang lebih baik bagi Palestina. Saya rasa kami hampir menemukan beberapa negara," tambahnya.
Netanyahu tak menyebut negara tetangga yang dimaksud. Adapun negara-negara tetangga di sekitar Gaza dan Israel antara lain Mesir, Yordania,Suriah, dan Lebanon. Mereka selama ini telah menampung banyak warga Palestina yang mengungsi akibat agresi Israel sejak puluhan tahun lalu.
Rencana Trump: Bangun Pesisir Mewah
Sebelumnya, Trump menyinggung rencana serupa. Ia menyebutnya jalur Gaza nantinya akan dibuat menjadi kawasan pesisir--'Riviera of the Middle East'--mewah usai merelokasi warga aslinya dari sana.
βSesuatu yang baik akan terjadi,β sesumbar sekutu Netanyahu ini.
Pertemuan Netanyahu dan Trump merupakan upaya Israel untuk menindaklanjuti rencana perdamaian permanen dengan Palestina yang diusung AS.
Sementara di Qatar, perwakilan Israel bernegosiasi dengan perwakilan Hamas soal gencatan senjata selama 60 hari untuk bertukar sandera dan membuka keran bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Gencatan senjata itu diharapkan menjadi gerbang untuk mengakhiri perang yang semakin intens sejak 7 Oktober 2023.
Adapun Hamas selama ini menginginkan gencatan senjata permanen dengan ditariknya semua tentara Israel dari Gaza. Sedangkan Israel menginginkan gencatan senjata temporer dengan tetap menempatkan militernya di Gaza.
