Panen Tak Lagi Sepi Pembeli, Cerita Petani di Martapura Terbantu MBG
3 Desember 2025 20:31 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
Panen Tak Lagi Sepi Pembeli, Cerita Petani di Martapura Terbantu MBG
Program ini juga menggerakkan ekonomi lokal karena pasokan bahan pangan diprioritaskan dari petani sekitar.kumparanNEWS

Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh para siswa sekolah. Program ini juga menggerakkan ekonomi lokal karena pasokan bahan pangan diprioritaskan dari petani sekitar.
Keberadaan Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bahkan menjadi berkah tersendiri bagi para petani.
Seperti yang dirasakan Suprianto (51), warga Desa Tungkaran, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Setiap tiga hari sekali, buah semangka hasil kebunnya dibeli oleh Dapur SPPG.
βSetiap 3 hari sekali, sekali ambil biasanya sebanyak 3 kuintal,β ujar Suprianto, Jumat (21/11/2025).
Menurut Suprianto, sejak adanya Dapur SPPG, dirinya tidak lagi takut hasil panen tidak laku terjual. Bahkan, saat ini permintaan dari dapur SPPG tidak semuanya bisa ia penuhi karena keterbatasan produksi.
βSaat ini cuma bisa memasok ke 3 dapur SPPG. Karena keterbatasan ketersediaan juga,β ungkapnya.
Harga Lebih Tinggi dari Tengkulak
Selain memastikan pasar yang stabil, harga jual panen ke Dapur SPPG juga lebih tinggi dibanding harga beli dari tengkulak. Meski Suprianto tidak menyebutkan detail harga, ia merasakan selisih yang cukup membantu pendapatannya.
βTapi yang dibeli oleh Dapur SPPG juga tidak sembarang, mereka bisanya mengambil yang satu biji itu beratnya 3 kilogram,β ungkapnya.
Suprianto berharap program makan bergizi gratis ini terus berlanjut, sebab manfaatnya sangat besar bagi petani kecil seperti dirinya.
β Kita berharapnya selamanya ada MBG ini,β harapnya.
Program ini membawa dampak yang cukup besar bagi para petani seperti Suprianto. Dengan adanya kebutuhan rutin dari dapur SPPG, seperti sayur dan buah, petani jadi punya pasar yang jelas dan stabil.
Mereka tidak lagi cemas panennya tidak laku atau terpaksa menjual murah ke tengkulak. Karena permintaan datang terus-menerus, petani bisa mengatur pola tanam lebih rapi, menjaga kualitas hasil panen, dan tentu saja mendapatkan pendapatan yang lebih layak.
