Pasar Santa dan Riuh Vinyl di Era Streaming
25 Mei 2025 15:07 WIB
·
waktu baca 3 menit
Pasar Santa dan Riuh Vinyl di Era Streaming
Mendengar cerita penjual Vinyl dan Gen Z yang kembali ke musik analog di era digitalisasi musik.kumparanNEWS

Hujan yang mengguyur kawasan Jakarta Selatan pada Jumat (23/5) sore membuat suasana Pasar Santa terlihat lengang. Di lantai dua, beberapa orang terlihat menelusuri lapak-lapak thrift, mencicipi kopi hingga membuka-buka rak penuh piringan hitam (Vinyl).
Sejak beralih fungi dari sekadar pasar tradisional, Pasar Santa dikenal sebagai salah satu pusat subkultur di Jakarta. Di antara toko makanan, bar kopi, dan studio tato, terdapat sekitar lima toko vinyl yang berjejer rapih.
“Awalnya gue cuma jualan di Facebook, zaman itu belum ada marketplace. Jadi ya COD, bazar, gitu. Baru akhirnya nemu spot di sini dan buka toko.” kata Samson (39), pemilik Laidback Blues Store, salah satu toko vinyl pertama yang buka di Santa pada 2013, kepada kumparan.
Laidback Blues tak menjual rilisan sembarangan. Katalog toko ini didominasi jazz, soul, funk, dan rilisan vintage luar negeri.
“Lo enggak bakal nemu Taylor Swift di sini,” kata Samson sambil tertawa. “Gue kurasi sendiri—rilisan-rilisan yang sound-nya masih analog banget.”
Menurut Samson, gelombang Vinyl Revival (Kebangkitan Vinyl) yang mulai terasa sejak awal 2010-an ikut menghidupkan pasar lokal. Sementara itu, tokonya makin populer usai Ed Sheeran belanja di tokonya saat menggelar konser di Indonesia pada 2 Maret 2024 lalu.
“Dulu mah jual apa aja laku. Demand lebih besar dari supply,” kenang dia.
Kini, meski pasar semakin kompetitif dan tren digital makin dominan, Samson percaya pengalaman mendengarkan Vinyl masih punya tempat.
“Orang sekarang cari me time. Dengerin musik bukan sekadar play dan skip. Ada proses, ada sentuhan. Ada album yang lo buka, liat liriknya, tahu siapa yang mastering. Itu yang enggak lo dapet dari Spotify,” jelasnya.
Beberapa meter dari Laidback Blues, ada Kamar Gelap Records. Berbeda dari toko Samson, koleksi mereka lebih beragam—dari jazz Jepang, punk, reggae, hingga musik lawas Indonesia. Penjaganya, Septian (25), justru baru mulai mengenal vinyl pada 2021.
“Awalnya koleksi CD. Begitu kerja dan punya penghasilan sendiri, mulai coba vinyl. Ternyata suaranya lebih detail, lebih berasa,” kata Septian.
Septian adalah Gen Z yang lahir di era digital dan streaming. Namun, kini dia sudah terbiasa mengoperasikan turntable dan bisa membedakan groove rilisan analog dan digital.
“Ada sensasi yang beda pas mindahin jarum, nyalain turntable, terus naikin volume. Itu yang enggak bisa diduplikat digital,” lanjutnya.
Menurut Septian, tren penjualan sempat melonjak pada 2022, dipicu gelombang TikTok dan pengaruh influencer.
“Sekarang sih cenderung stabil. Yang datang juga beragam, dari anak muda sampai kolektor om-om. Belakangan malah banyak yang dari Malaysia, Singapura, Jepang, dan China,” ujarnya.
Meski jumlah pembeli tak sebanyak pengunjung thrift atau coffee shop, toko-toko vinyl di Santa tetap hidup. Mereka hidup dari para pencinta rilisan fisik yang menghargai kejernihan suara, sampul artistik, dan sensasi mengangkat tonearm secara perlahan.
“Gue enggak bilang vinyl lebih baik dari digital, dua-duanya punya tempat. Tapi vinyl itu ada rohnya,” ungkap Samson.
Mereka yang memilih mendengarkan vinyl adalah mereka yang merasakan kejenuhan digital (digital fatigue). Hal ini menyebabkan orang-orang mulai memiliki keinginan untuk pengalaman yang lebih taktilitas, nyata, dan bisa dirasakan secara fisik.
Dosen Antropologi Sosial UI, Irfan Nugraha, mengamini hal itu. Dia juga merupakan penikmat vinyl dan punya perspektif tersendiri tentangnya.
"Menurut saya, vinyl mula-mula menawarkan tactility—suatu kualitas yang bisa disentuh, dirasakan, secara ragawi. Saya sendiri koleksi vinyl, awalnya karena kangen aja, tapi lama-lama sebagai alternatif dari streaming yang ada," jelas Irfan kepada kumparan, Kamis (22/5).
"Kenapa? Karena tactility tadi, kalau streaming sensasi ragawi saya terbatas antara scrolling layar atau kalau lagi pakai headset untuk atur volume. Tapi, kalau vinyl saya bisa rasakan tekstur piringan hitam, wangi khas terutama dari vinyl tua, dan bahkan suara gemeresek ketika vinyl diputar," pungkasnya.
