Pemerintah Bicara Kendala Repatriasi Fosil Koleksi Eugene Dubois dari Belanda

2 Oktober 2025 19:15 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemerintah Bicara Kendala Repatriasi Fosil Koleksi Eugene Dubois dari Belanda
Pemerintah Indonesia akan segera memulangkan fosil koleksi Eugene Dubois yang kini berada di Belanda. Ada sekitar lebih dari 28 ribu fosil bersejarah dari koleksi Dubois.
kumparanNEWS
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon memberi sambutan di podium dalam taklimat media bertajuk Pengembalian Fosil Koleksi Eugene Dubois di Museum Nasional, Jakarta Pusat, Kamis (2/10/2025). Foto: Fadhil Pramudya/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon memberi sambutan di podium dalam taklimat media bertajuk Pengembalian Fosil Koleksi Eugene Dubois di Museum Nasional, Jakarta Pusat, Kamis (2/10/2025). Foto: Fadhil Pramudya/kumparan
Pemerintah Indonesia akan segera memulangkan fosil koleksi Eugene Dubois yang kini berada di Belanda. Ada sekitar lebih dari 28 ribu fosil bersejarah dari koleksi Dubois yang akan dikembalikan ke Tanah Air.
Pemulangan atau repatriasi fosil tersebut dinilai penting, terutama dalam upaya mempertahankan hak dan kedaulatan Indonesia di bidang budaya. Permintaan repatriasi itu bahkan berulang kali disuarakan oleh Indonesia sejak 1930-an, 1951, dan 1970-an.
Setelah perjalanan panjang 'merantau' di Eropa, puluhan ribu fosil koleksi Dubois itu bakal segera kembali ke tanah asalnya.
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menyebut bahwa salah satu kendala pemulangan fosil koleksi tersebut adalah faktor keamanan dalam transportasi.
"Kemudian, saya kira faktor keamanan di dalam transportasi dan lain-lain ini menjadi salah satu pikiran utama juga. Dan memang ini juga bukan pertama kali," ujar Fadli Zon dalam diskusi media bertajuk 'Pengembalian Fosil Koleksi Eugene Dubois', di Museum Nasional, Jakarta Pusat, Kamis (2/10).
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Tim Repatriasi Cagar Budaya, Ismunandar, juga menyinggung hambatan yang ada di tim repatriasi dalam proses pemulangan fosil koleksi tersebut.
Ia menyebut, salah satu kendalanya yakni terkait pembuktian bahwa fosil tersebut diambil Belanda secara tidak sah dari Indonesia.
"Jadi sebetulnya kan Belanda-nya itu akan memulangkan apa saja dari Indonesia asal kita bisa membuktikan bahwa barang itu diambil ilegal dari Indonesia, tidak atas voluntary dari pihak Indonesia," kata Ismunandar.
Terkait hal itu, lanjut dia, ada problem lain yang menghambat proses pembuktiannya. Yakni, pencatatan perolehan fosil itu semuanya dilakukan oleh Belanda.
"Nah, cuma kadang-kadang masalahnya itu kan catatan ya. Catatan itu semua dari sisi Belanda, dari sisi kolonial," ungkapnya.
"Nah sayangnya begitu itu, kan kita enggak punya catatan tertulis ya. Yang punya catatan tertulis dari sisi Belanda-nya," imbuh dia.
Dalam kesempatan itu, Fadli Zon juga menegaskan bahwa Belanda betul-betul menjaga dan merawat fosil-fosil tersebut secara baik dan dengan teknologi canggih.
Untuk itu, sambungnya, Indonesia juga dipastikan sudah siap dan tidak kalah dari Belanda untuk menjaga koleksi Dubois.
"Mereka juga memang termasuk sangat serius di dalam merawat dan memperlakukan artefak fosil-fosil tersebut. Jadi kita juga akan melakukan tentu saja hal yang sama," tegasnya.
Fadli pun menekankan bahwa pemerintah Indonesia akan berkomitmen melakukan perawatan fosil koleksi Dubois tersebut agar tidak rusak.
"Pemerintah Indonesia menyadari sepenuhnya tanggung jawab besar yang kini berada di pundak kita menyambut pulang warisan yang tak ternilai ini tentu bukan akhir dari perjalanan," ucap dia.
"Melainkan penegasan komitmen kita dan dengan penuh keyakinan kita nyatakan Indonesia berkomitmen penuh untuk yang pertama merawat, kita menyediakan fasilitas preservasi, konservasi, dan keamanan yang baik," terangnya.
Tak hanya itu, pemerintah juga berkomitmen dalam melakukan penelitian lebih lanjut, serta mendorong dan memfasilitasi penelitian kolaboratif yang lebih luas bagi peneliti di Indonesia.
"Indonesia juga terbuka bagi Ilmuwan dunia untuk datang mempelajari dan menggali lebih dalam misteri yang tersimpan dalam koleksi ini," ujarnya.
Kemudian, lanjut Fadli, terhadap fosil koleksi Dubois itu, pemerintah juga menegaskan komitmennya untuk melakukan edukasi bagi seluruh masyarakat Indonesia.
"Kami akan terus salah satu pemanfaatannya sebagai materi edukasi yang menarik dan berharga dan melalui museum, buku-buku pelajaran, platform digital, berbagai program publik," ucap Fadli.
"Kementerian Kebudayaan akan memastikan bahwa setiap anak Indonesia tahu bahwa Tanah Air-nya adalah rumah paling awal dari peradaban manusia," lanjut dia.
Sebelumnya, pihak pemerintah Belanda juga membenarkan adanya wacana untuk pengembalian artefak tulang “Manusia Jawa” atau fosil pertama dari spesies Homo erectus yang diyakini sebagai nenek moyang manusia.
"Atas permintaan Indonesia, Belanda mentransfer lebih dari 28 ribu fosil dari koleksi Dubois ... Koleksi ini merupakan sumber penting dalam penelitian tentang evolusi manusia," kata pemerintah Belanda dalam keterangannya, dikutip dari Reuters.
Keputusan Belanda itu diambil berdasarkan saran dari Komite Koleksi Kolonial independen dan Menteri Kebudayaan Belanda Gouke Moes yang menyerahkan surat kepada Menteri Kebudayaan Indonesia, Fadli Zon.
Artefak yang berasal dari Indonesia itu saat ini berada di Universitas Leiden dan tidak pernah disebut sebagai milik Belanda.
Adapun Komite Koleksi Kolonial Belanda telah menguatkan posisi Indonesia terkait repatriasi ribuan fosil tersebut dengan beberapa argumen kunci.
Pertama, berdasarkan keputusan Gubernur Jenderal tahun 1889, status kepemilikan awal fosil-fosil ini jelas berada di bawah Pemerintah Hindia Belanda, bukan negara Belanda. Kedua, penggalian pada masa kolonial dilakukan dalam sistem tenaga kerja paksa.
Kemudian, adanya dampak negatif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia lantaran ketidakhadiran ribuan artefak ini telah menghambat penelitian ilmiah di Indonesia selama puluhan tahun.
"Komite berpendapat bahwa kondisi di mana fosil-fosil tersebut diperoleh membuat masuk akal bahwa fosil tersebut diambil tanpa seizin penduduk dan bahwa penduduk dirugikan oleh hal ini," tambahnya.
Ini merupakan kali keenam Belanda mengembalikan artefak berdasarkan rekomendasi Komite tersebut.
Memulangkan benda tersebut ke Indonesia juga sempat mendapat penolakan dengan alasan bahwa Indonesia tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk merawat karya-karya tersebut.
Namun, dalam beberapa waktu terakhir, sudah banyak artefak yang dikembalikan ke negara asal atau bekas jajahannya.
Adapun koleksi Dubois merupakan hasil temuan Eugene Dubois, seorang paleoantropolog Belanda yang melakukan penelitian di Sumatera hingga Jawa pada 1891-1892. Temuan berbagai fosil ini mencakup fosil-fosil Pithecanthropus erectus—sekarang Homo erectus—yang sering disebut sebagai 'Manusia Jawa' atau 'Java Man'.
Fosil yang ditemukan di Trinil, Ngawi, Jawa Timur, pada 1891 ini meliputi atap tengkorak, geraham, dan tulang paha. Temuan ini dianggap sebagai bukti fosil pertama Homo erectus, yang menggeser teori evolusi yang sebelumnya berpusat di Afrika.
Repatriasi koleksi Eugene Dubois ini sekaligus meneguhkan komitmen pemerintah Indonesia dalam melindungi dan mengelola warisan budaya bangsa dan mempromosikan kerja sama ilmiah internasional yang setara dan saling menghormati.
Trending Now