Pemicu Keracunan Massal MBG di Bandung Barat: Nitrit Berlebih di Melon dan Lotek
3 Oktober 2025 17:59 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
Pemicu Keracunan Massal MBG di Bandung Barat: Nitrit Berlebih di Melon dan Lotek
BGN menjelaskan, konsumsi nitrit berlebih dapat memicu gangguan pencernaan.kumparanNEWS

Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkapkan hasil investigasi terkait kasus keracunan makanan bergizi gratis (MBG) yang terjadi di Kabupaten Bandung Barat.
Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya senyawa nitrit yang melebihi kadar wajar pada beberapa sampel makanan.
โKami berkesimpulan, senyawa nitrit menjadi penyebabnya,โ kata Ketua Tim Investigasi Independen BGN, Karimah Muhammad, dalam keterangannya, Jumat (3/10).
BGN menjelaskan, merujuk pada standar US Environmental Protection Agency (EPA), kadar maksimum nitrit yang boleh dikonsumsi dalam minuman adalah 1 mg/L.
Sementara Otoritas Kesehatan Kanada menetapkan batas 3 mg/L. Adapun hasil uji sampel menunjukkan kadar nitrit sebesar 3,91 mg/L pada melon dan 3,54 mg/L pada lotek yang menjadi menu MBG.
โDitemukan kadar nitrit yang sangat tinggi di buah melon dan lotek dari sampel sisa sekolah,โ tuturnya.
โJadi kalau merujuk standar EPA, maka kadar nitrit dalam sampel sisa makanan di sekolah hampir 4 kali lipat dari batas maksimum,โ lanjutnya.
Menurut BGN, senyawa nitrit memang secara alami terdapat pada buah-buahan dan sayuran. Namun, kadarnya bisa meningkat akibat kerja bakteri yang mengubah senyawa nitrat menjadi nitrit.
BGN menuturkan, konsumsi nitrit berlebih dapat memicu gangguan pencernaan.
โPola gejala yang ditunjukkan para korban sejalan dengan gejala keracunan nitrit, di mana yang mendominasi adalah efek di saluran pencernaan bagian atas, misalnya mual, muntah, atau nyeri lambung sebanyak 36%. Bukan di saluran pencernaan bagian bawah, misalnya diare,โ ujarnya.
Terkait jumlah korban, BGN menegaskan data 1.333 siswa yang tercatat mengalami keracunan muncul karena adanya imbauan agar siswa memeriksakan diri ke puskesmas maupun rumah sakit. Dari hasil investigasi BGN, hanya sebagian kecil korban yang harus dirawat inap.
โFakta ini didapatkan karena data pasien rawat inap korban keracunan MBG sebanyak 7%. Sisanya, 93%, langsung diizinkan pulang. Artinya setelah siswa dicek tensi, SpO2, ditanya keluhannya, diobservasi oleh para tenaga kesehatan, diberi obat minum, dan langsung diizinkan pulang ke rumah masing-masing,โ kata dia.
BGN membantah adanya siswa yang mengalami kejang akibat keracunan MBG.
โHal itu dibuktikan dengan tidak ada satu pun obat antikejang yang dikeluarkan puskesmas dan RSUD, misalnya diazepam, carbamazepin, gabapentin, atau pregabalin,โ tegasnya.
