Pemilu Lawan Kotak Kosong di Tanzania Ricuh, Warga Tolak Kemenangan Petahana
31 Oktober 2025 19:17 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
Pemilu Lawan Kotak Kosong di Tanzania Ricuh, Warga Tolak Kemenangan Petahana
Pemilu lawan kotak kosong di Tanzania berakhir ricuh karena warga tak terima dengan hasil pemilu.kumparanNEWS

Pemilu lawan kotak kosong di Tanzania berakhir ricuh karena warga tidak terima dengan hasil. Presiden petahana, Samia Suluhu Hassan, memenangkan pemilu usai kandidat presiden khususnya dari dua partai oposisi utama dilarang mencalonkan diri.
Dikutip dari AFP, Jumat (31/10), Hassan berasal dari partai Chama Cha Mapinduzi (CCM) yang telah berkuasa sejak 1961. Demi memperkuat posisinya dan membungkam kritik, para penantangnya dijebloskan ke penjara atau dilarang mencalonkan diri.
Tidak terima dengan hasil ini, masyarakat turun ke jalan di Dar es Salaam dan kota-kota lain. Mereka merobek poster Hassan, menyerang kantor polisi dan tempat pemungutan suara. Aparat pun memutuskan mematikan internet dan memberlakukan jam malam.
Tak hanya itu, jurnalis asing dilarang meliput pemilu. Pemblokiran komunikasi juga membuat liputan di lapangan semakin sulit.
Saksi mata di kota Sinza dan ibu kota Dodoma mengatakan demonstrasi masih berlangsung pada Kamis (30/10) malam dan massa membakar ban. Ada laporan banyaknya jumlah korban tewas, tapi jumlahnya masih belum bisa dikonfirmasi. Sejumlah rumah sakit dan klinik kesehatan dilaporkan terlalu takut untuk memberikan informasi kepada jurnalis.
Situs media lokal juga tidak diperbaharui sejak Rabu (29/10). Hassan juga tak kunjung berkomentar terkait kerusuhan ini.
Satu-satunya pernyataan resmi datang dari Panglima Angkatan Darat Jacob Mkunda. Dia menyebut demonstran sebagai penjahat.
Di Zanzibar, partai CCM yang berkuasa telah mendeklarasikan kemenangan. Namun, hasilnya ditolak oleh partai oposisi ACT-Wazalendo.
"Mereka telah merampas hak suara rakyat Zanzibar. Saty-satunya solusi untuk menegakkan keadilan adalah lewat pemilu ulang," kata ACT-Wazalendo.
Pejabat senior partai mengatakan kotak suara telah diisi. Warga juga diperbolehkan memberikan suara berkali-kali tanpa KTP, dan pemantau pemilu diusir dari ruang perhitungan suara.
"Tidak pernah ada pemilu yang kredibel sejak 1995," kata seorang warga Tanzania berusia 70 tahun.
"Kami takut bicara karena mereka bisa saja datang ke rumah dan menangkap kami," kata warga yang lain.
