Pendiri Telegram Bongkar Ulah Prancis di Pemilu Rumania
19 Mei 2025 19:01 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
Pendiri Telegram Bongkar Ulah Prancis di Pemilu Rumania
Pendiri Telegram, Pavel Durov, menuduh kepala intelijen Prancis memintanya melarang akun pemilih konservatif pemilu Rumania.kumparanNEWS

Pendiri Telegram, Pavel Durov, menuduh kepala badan intelijen asing Prancis, Nicolas Lerner, memintanya melarang akun pemilih konservatif pada pemilu Rumania.
Saat ini, Durov berada di bawah pengawasan pengadilan Prancis. Ia bersembunyi di hotel mewah Crillon di Paris setelah penyelidikan atas tuduhan kejahatan terorganisir di Telegram.
Menurut Durov, di sana lah Lerner yang memimpin badan intelijen asing DGSE mendekatinya.
"Musim semi ini di Salon des Batailles di Hotel de Crillon, kepala intelijen Prancis Nicolas Lerner meminta saya melarang suara-suara konservatif di Rumania jelang pemilu. Saya menolak," kata Durov dalam unggahannya di X pada Minggu (18/5).
"Kami tidak memblokir pengunjuk rasa di Rusia, Belarusia, atau Iran. Kami tidak akan memulainya di Eropa," kata Durov lagi dikutip dari Reuters, Senin (19/5).
Sementara lewat Telegram, Durov menyatakan tidak akan membatasi kebebasan berpendapat pengguna di Rumania atau memblokir saluran politik mereka. Tulisannya diakhiri dengan emoji baguette yang menyiratkan yang memintanya adalah Prancis.
Dibantah Prancis
Pernyataan Durov itu dibantah oleh Prancis. DGSE dalam pernyataannya mengakui pejabatnya bertemu dengan Durov beberapa kali dalam beberapa tahun untuk mengingatkannya secara tegas tentang tanggung jawab perusahaan dan tanggung jawab pribadinya dalam mencegah ancaman terorisme dan pornografi anak.
"Namun, kami dengan tegas membantah tuduhan terkait permintaan melarang akun yang terkait dengan proses pemilihan apa pun yang diajukan dalam kesempatan tersebut," kata DGSE.
Pemilu Rumania
Pemilu Rumania berlangsung pada Minggu (18/5). Hasilnya, wali kota Bucharest yang Uni Eropa-sentris, Nicusor Dan, memenangi pemilihan presiden dan mengalahkan George Simion, rivalnya yang berhaluan kanan garis keras dan nasionalis.
Dan yang berhaluan tengah memperoleh suara 54%. Sementara Simion yang merupakan pengagum Presiden Donald Trump memperoleh suara 46%.
"Ini merupakan kemenangan ribuan orang yang percaya bahwa Rumania bisa berubah ke arah yang benar," kata Dan di hadapan pendukungnya.
Menurut laporan AFP, jumlah pemilih mencapai 65%. Saat pemungutan suara putaran pertama pada 4 Mei, jumlah pemilih hanya mencapai 53%. Saat itu, Simion memperoleh suara terbanyak.
"Mobilisasi ini belum pernah terjadi sebelumnya. Belum pernah ada pemilihan yang sangat menentukan, dengan implikasi geopolitik yang jelas," kata pengamat politik Sergiu Miscoiu.
Presiden Rumania memiliki pengaruh signifikan dalam kebijakan luar negeri, termasuk memegang hak veto di KTT Uni Eropa.
