
Peneliti AS Bicara Penyerangan di SMAN 72: Kekerasan Dilakukan demi Pengakuan
17 November 2025 20:31 WIB
·
waktu baca 8 menit
Peneliti AS Bicara Penyerangan di SMAN 72: Kekerasan Dilakukan demi Pengakuan
Ledakan bom di SMAN 72 menyingkap kode-kode yang ditinggalkan terduga pelaku. Apa maksud kode-kode tersebut? Mengapa ada paradoks antara ideologi dan identitas pelaku? Simak wawancara berikut. kumparanNEWS
Ledakan bom mengguncang masjid SMAN 72 saat khotbah salat Jum'at sedang berlangsung. Insiden pada Jumat, (7/11), itu melukai sekitar 96 orang dan menyisakan trauma bagi sejumlah siswa.
Tragedi ini menyeret seorang siswa kelas XII SMAN 72 berinisial FN sebagai terduga pelaku. Aksi teror itu disebut-sebut berlatar balas dendam atas perundungan yang dialaminya. Namun, di balik motif yang tampak sederhana itu, tersingkap pula sebuah teka-teki yang jauh lebih kompleks.
Teka-teki itu terungkap dari kode-kode yang ditinggalkan FN, baik di coretan meja maupun senjata mainan yang ditentengnya saat kejadian.
Terdapat tulisan seperti ‘Natural Selection’ yang identik dengan kaus salah satu penembak siswa SMA Columbine, Amerika Serikat (AS), pada April 1999; lalu Brenton Tarrant (penyerang masjid di Selandia Baru pada 2019); Luca Traini (ekstremis penembak migran di Italia pada 2018); hingga ‘14 Words’ yang merupakan kode supremasi kulit putih.
Pertanyaan besar pun muncul: Bagaimana seorang remaja Indonesia bisa mengadopsi ideologi asing yang sama sekali tidak relevan dengan identitasnya, hanya untuk meluapkan amarah di sekolahnya sendiri?
Demi membedah fenomena ini, kumparan berbincang dengan David Riedman melalui sambungan Zoom pada Jumat (14/11).
Riedman yang memperoleh gelar PhD di bidang Artificial Intelligence dari Capitol Technology University merupakan peneliti dan pendiri K-12 School Shooting Database—platform asal Amerika Serikat yang telah melacak dan menganalisis sekitar 3.258 kasus serangan sekolah sejak 1966. Simak wawancara kumparan dengan Riedman berikut ini:
Pelaku ledakan SMAN 72 Jakarta diduga korban perundungan yang ingin balas dendam. Seberapa sering perundungan menjadi faktor pendorong utama bagi para pelaku, termasuk dalam konteks serangan sekolah di AS?
Di Amerika Serikat, perundungan terkadang disebut sebagai alasan penembakan di sekolah, tetapi perundungan itu sendiri sangat marak terjadi. Dalam berbagai survei, sekitar 30–40% siswa melaporkan pernah dirundung.
Hal yang signifikan dalam kasus penembakan di sekolah adalah seorang, biasanya remaja, sedang memiliki masalah dalam hidupnya. Mereka (pelaku) berpikir sekolah atau orang-orang di sekolah adalah penyebab dari semua masalah itu.
Mereka menyalahkan pihak-pihak tersebut atas semua masalah mereka, dan kemudian rasa menyalahkan berubah menjadi keinginan melakukan kekerasan untuk balas dendam atau dikenal.
(Data K-12 School Shooting Database menyebut terdapat 31 kasus penyerangan sekolah yang berlatarbelakang perundungan).
Dari ribuan kasus yang sudah Anda teliti, apa saja tanda-tanda peringatan paling umum sebelum insiden penembakan atau pengemboman sekolah terjadi?
Penembakan (ledakan) di Jakarta dan kasus-kasus penyerangan sekolah dalam 5 tahun terakhir di AS, para pelaku remaja hampir selalu terlibat dengan kelompok-kelompok online yang menyebarkan pesan berbasis kebencian dan pesan nasionalis kulit putih, serta mengagungkan serangan oleh para pelaku penembakan sekolah sebelumnya.
Dan itu terbukti di sini, di [SMAN 72] Jakarta, dengan senapan [mainan] yang bertuliskan nama-nama dan merujuk ‘Natural Selection’ yang merupakan tulisan pada kaus yang dikenakan [pelaku] saat serangan [SMA] Columbine, ‘14 Words’ yang merupakan pesan supremasi kulit putih yang digunakan di AS, [nama pelaku] serangan Christchurch di sebuah masjid pada 2019, yang mana ini [polanya] sangat mirip.
Jadi tanda-tanda peringatannya adalah jika seorang remaja terlibat dalam obrolan atau komunitas ini, memposting informasi yang mengagungkan penembakan massal atau mengagungkan rasisme terorganisir semacam ini, dan jika mereka mulai mengutarakan keinginan melakukan kekerasan yang terkait dengan sekolah mereka sendiri. Itulah tanda-tanda penting yang patut diwaspadai.
Tetapi anehnya terduga pelaku merupakan WNI yang memiliki kulit sawo matang, bukan kulit putih. Mengapa orang non-kulit putih bisa teradikalisasi oleh ideologi supremasi kulit putih dll?
Hal yang membingungkan juga terjadi di AS ketika Anda melihat beberapa kasus terkini di mana pelakunya adalah siswa Afrika-Amerika (kulit hitam) atau [keturunan] Latin yang menyebarkan pesan dari kelompok-kelompok berbasis kebencian dan nasionalis kulit putih.
[Fenomena] itu terjadi ketika seseorang menjadi bagian dari subkultur [komunitas kekerasan] online. Jika mereka tidak merasa didengar atau diperhatikan di dunia nyata, tetapi mereka diterima di komunitas online yang berisi orang-orang yang sebenarnya tidak mereka kenal, keanggotaan mereka di komunitas online itu bisa menjadi lebih kuat daripada fakta dan realitas dalam hidup mereka.
Jadi, misalnya, seorang anak di Indonesia atau anak Afrika-Amerika di Amerika Serikat, mereka menemukan begitu banyak dukungan dan rasa memiliki di dalam komunitas berbasis kebencian. Sehingga cara untuk mendapatkan lebih banyak pengakuan dan lebih banyak prestise adalah dengan melakukan serangan atas nama komunitas itu.
Jadi, itu [ideologi] sebenarnya tidak ada hubungannya dengan fakta siapa Anda, apa etnis, agama, atau warna kulit Anda.
Berarti pelaku hanya ‘meminjam’ metode kekerasannya tanpa memahami utuh ideologinya?
Ya, banyak dari pelaku penembakan sekolah, [mayoritas] remaja, tidak [berpikir] seperti teroris yang menggunakan kekerasan untuk tujuan tertentu yang dipahami oleh seluruh kelompok, yang bertujuan mengubah lanskap politik atau menginginkan perubahan sosial.
Anak-anak yang melakukan penembakan di sekolah, mereka tidak punya tujuan apa pun. Mereka tidak memiliki ideologi yang coba mereka usung. Mereka berbuat kekerasan atas nama orang lain, karena mereka berharap orang lain akan mengingat dan mengagungkan mereka di masa depan.
Dari hasil analisa Anda, seberapa sering kasus penyerangan sekolah di dunia meniru atau copycat dari insiden-insiden di AS sebelumnya?
Hampir setiap serangan yang direncanakan di sebuah sekolah di AS sejak 1999 memiliki semacam hubungan dengan [tragedi] SMA Columbine. Bisa berupa simbol-simbol yang terkait dengan Columbine, kata-kata, nama panggilan, jenis senjata, maupun cara pelaku berpakaian.
Jadi ada peniruan yang sangat simbolis di mana potongan-potongan dari [tragedi] Columbine dimasukkan ke dalam hampir setiap penembakan. Tak hanya di AS, tetapi juga di Brasil dan Eropa, kemudian juga di Indonesia di mana Anda melihat [kode] ‘Natural Selection’ sebagai salah satu teks terbesar di senapannya. [Kode] itu dipakai di kaus Eric Harris di kasus penembakan SMA Columbine pada 1999.
(Eric Harris merupakan salah satu pelaku penembakan SMA Columbine. Aksi sadis itu dilakukan Haris bersama Dylan Klebold. Peristiwa tersebut merenggut nyawa 12 siswa dan 1 guru. Harris dan Klebold lalu mengakhiri hidup setelah melakukan aksinya).
Mengapa para pelaku penyerangan sekolah menggunakan tragedi Columbine sebagai inspirasi kekerasan mereka?
Ada banyak teori, tetapi tragedi Columbine adalah penembakan sekolah besar pertama yang mendapat sorotan media secara terus-menerus di AS. Banyak dari liputan itu, termasuk video para penembak, video dari kamera keamanan sekolah, maupun video para korban. Jadi tragedi itu menjadi kasus penembakan pertama di mana Anda bisa melihat persis apa yang terjadi, Anda bisa melihat video dan jurnal yang dibuat oleh para pelaku.
Ini menciptakan sebuah pedoman dari semacam literatur terkait penembakan sekolah untuk dijadikan acuan…Penembakan Columbine terhubung dengan begitu banyak jenis topik yang berbeda, seseorang dapat menarik bagian mana pun yang mereka sukai, menggunakannya sebagai motivasi, dan memberikan penghormatan pada serangan mereka.
Terduga pengebom SMAN 72 dilaporkan aktif dalam sebuah grup online yang diduga bernama True Crime Community. Menurut analisa Anda, seberapa cepat dan berbahaya proses radikalisasi online bagi para remaja?
Ada banyak persilangan antara kaum nasionalis kulit putih, pesan-pesan anti-semitisme secara umum, konten Groypers, dan konten True Crime Community. Itu semua bukanlah kelompok dengan keanggotaan, mereka adalah semacam tagar dan serangkaian ide yang orang-orang ciptakan menjadi grup online di sekitarnya. True Crime Community telah terhubung dengan delapan penembakan sekolah terakhir di Amerika Serikat.
Di dalam True Crime Community, tiga faktor utamanya adalah berbagi cerita dan fan art, serta video yang mengagungkan pelaku penembakan massal dan penembakan sekolah sebelumnya, berbagi konten sadis (gore)...dan kemudian juga berbagi meme yang sangat ironis terkait konten itu.
Banyak dari meme itu didasarkan pada [serangan] Columbine atau gambar-gambar pelaku penembakan sekolah lainnya, dan itu dilakukan dengan kode-kode khusus…tidak terlihat seperti ajakan untuk melakukan kekerasan atau pengagungan kekerasan, tetapi sebenarnya memang begitu.
Mengapa mereka menggunakan meme yang seharusnya sebatas lelucon menjadi kode kekerasan?
Meme-meme itu terlihat sangat polos bagi seseorang yang tidak mengerti pesan atau simbol di baliknya. Jadi itu adalah cara [anggota komunitas] untuk menyebarkan pesan [kekerasan] di berbagai platform media sosial dan sangat mudah untuk menganggapnya hanya sebagai lelucon.
Karena hanya orang-orang dengan pengetahuan mendalam tentang komunitas itu yang mengerti pesannya. Bagi orang lain, itu mungkin terlihat seperti meme biasa dan itulah mengapa banyak orang tidak akan menyadari bahwa ada masalah.
Bagaimana dengan motif penyerangan sekolah berdasarkan hasil analisis Anda sejauh ini, termasuk kasus peledakan di SMAN 72. Apakah ada motif tertentu dari pelaku ketika berbuat kekerasan?
Penembakan di sekolah hampir selalu terjadi karena adanya persepsi ketidakadilan (grievance). Seorang anak merasa ada sesuatu yang salah dalam hidupnya dan sekolah adalah alasannya.
Jika mereka terlibat dalam komunitas online yang mengagungkan kekerasan dan mengagungkan penembakan massal, jika mereka tidak merasa diakui, jika mereka tidak merasa memiliki, jika mereka merasa sedang dirundung atau tidak punya kesempatan, seseorang yang mengalami itu pada akhirnya bisa berpikir bahwa kekerasan adalah satu-satunya jawaban untuk masalah mereka.
Begitu seorang siswa berpikir kekerasan adalah satu-satunya jawaban, maka pada akhirnya itu bisa mengarah pada penembakan, pengeboman, atau jenis-jenis kekerasan massal lainnya. Jadi hal yang sangat penting adalah mengenali siswa yang sedang memiliki masalah, menyadari tanda-tanda radikalisasi, dan jika seseorang berbicara tentang atau tertarik pada kekerasan, saat itulah mereka membutuhkan bantuan.
Apa yang harus dilakukan sekolah dan lingkungan sekitar untuk mendeteksi tanda-tanda awal siswa yang merencanakan kekerasan, terutama ketika ancaman itu datang dari radikalisasi secara online yang sulit dideteksi?
Sangat sulit bagi orang dewasa untuk mengetahui kapan siswa memiliki masalah atau kapan siswa terlibat dengan komunitas online seperti True Crime Community atau Groypers yang mempromosikan kekerasan massal. Orang yang paling mungkin tahu ada masalah adalah teman sekelas siswa tersebut.
Teman-teman mereka mungkin tahu bahwa perilaku mereka (pelaku) telah berubah, teman-teman mereka mungkin tahu bahwa mereka (pelaku) terlibat dalam obrolan pribadi atau mereka berbagi dan terlibat dengan konten ini.
Mungkin mereka (pelaku) telah mengirim beberapa teman mereka meme yang memiliki pesan-pesan khusus penembakan sekolah di dalamnya atau informasi tentang Columbine. Mungkin mereka (pelaku) tiba-tiba sangat tertarik pada senjata dan kekerasan massal, padahal sebelumnya tidak.
Jadi sekolah perlu memiliki cara agar teman sekelas merasa nyaman memberitahu orang dewasa bahwa ada masalah dengan salah satu teman mereka.