Perjalanan Tiga Generasi Peternak Sapi di Cikoko yang Kembangkan Biogas
21 Agustus 2025 11:05 WIB
·
waktu baca 3 menit
Perjalanan Tiga Generasi Peternak Sapi di Cikoko yang Kembangkan Biogas
Sejak pertama kali ada di tahun 1945, keluarga Burhan sudah memikirkan cara untuk mengolah limbah sapi. Kalau dulu hanya sebatas pupuk, kini bisa diolah menjadi energi.kumparanNEWS

Kandang sapi di tengah permukiman padat di Cikoko, Pancoran, Jakarta Selatan, bukanlah hal baru bagi warga setempat. Sejak 1945, keluarga Burhan (44) sudah menekuni peternakan di lokasi tersebut. Dari kakek, ayah, hingga kini diwariskan kepada Burhan, usaha itu terus berlanjut.
“Dari bapak saya itu tahun 1968 itu udah ada kandang. Kalau dihitung lagi dari kakek saya itu tahun 1945 aja udah ada,” ujar Burhan saat ditemui kumparan di peternakan miliknya, Selasa (19/8).
Peternakan ini sudah lebih dulu ada dibanding rumah-rumah warga yang belakangan membangun tempat tinggal di sekitarnya. Itulah mengapa sebagian besar warga asli Cikoko tak mempermasalahkan keberadaan sapi milik Burhan.
“Kalau tetangga asli penduduk Cikoko, ya nggak ada keluhan sih masalah sapi di sini, soalnya kan duluan sapi dibandingin warga,” kata Burhan.
Sejak masa ayahnya, keluarga Burhan sudah mulai memikirkan cara memanfaatkan limbah kotoran sapi. Pada awalnya, pengolahan hanya sebatas pengumpulan limbah padat untuk dijadikan pupuk. Pupuk cair yang dihasilkan kala itu belum dimanfaatkan.
“Dari orang tua ya sebenarnya kita udah ngejalanin dengan limbah-limbah kotoran sapi itu kita kumpulin, dibuat pupuk. Cuma kan kalau waktu awal yang dari bapak saya itu idenya cuma sampai pengumpulan limbah padatnya aja,” kenang Burhan.
“Sedangkan pupuk cairnya itu nggak dimanfaatin. Nah, kalau yang sekarang ini kan pupuk cairnya itu dimanfaatin juga sebagai pupuk cair. Terus yang padatnya itu kita olah gitu,” tambahnya.
Ide untuk memunculkan kembali produk biogas pun mulai muncul seiring dukungan pemerintah. Satu tungku biodigester pernah dipasang pada masa ayahnya, meski kemudian terbengkalai karena tidak ada pemeliharaan yang memadai.
“Sudah ada dari zaman bapak saya itu ada satu, cuma satu tungku, cuma udah dibongkar. Semenjak pengajuan yang baru ini kan. Kalau yang ini kan yang baru ini tahun 2023,” jelas Burhan.
Pemasangan dua tungku baru pada 2023 itu didukung oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) serta pemerintah setempat. Gas dari biodigester ini kini tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan peternakan sendiri, tetapi juga disalurkan ke sekitar 20 rumah warga, membantu mereka mengurangi ketergantungan pada LPG.
“Kalau untuk sementara ini kan cuma dimanfaatin untuk gas aja. Untuk kompor. Iya ke warga-warga,” ujar Burhan.
Meskipun sistem berjalan lancar, Burhan mengakui ada tantangan dalam perawatannya. Setiap hari, ia harus mengecek saluran masuk biodigester agar limbah padat tidak menyumbat proses fermentasi. Selain itu, warga yang menggunakan biogas harus rutin membersihkan lubang kompor agar gas bisa keluar dengan baik.
“Tantangannya ya itu. Perawatannya aja sih. Agak ribet ya. Jadi kita sebelum kerja itu kita harus kontrol dari inletnya itu gitu,” ungkapnya.
Kini, dari kakek hingga Burhan, tiga generasi keluarga ini telah berhasil mengubah limbah kotoran sapi menjadi energi alternatif yang bermanfaat bagi masyarakat.
Dari sekadar peternak sapi, mereka tumbuh menjadi pelopor pemanfaatan biogas di tengah kota, menegaskan bahwa inovasi bisa lahir dari tradisi keluarga yang berkelanjutan.
