Pesan Terakhir Suami saat Banjir Lembah Anai: Anak Selamatkan, Saya di Sini Saja

29 November 2025 23:31 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pesan Terakhir Suami saat Banjir Lembah Anai: Anak Selamatkan, Saya di Sini Saja
Ratna kehilangan suami dan kakaknya dalam banjir Lembah Anai. Ia mengenang pesan terakhir sang suami agar menyelamatkan anak-anak sebelum air bah menghantam rumah mereka.
kumparanNEWS
Ratna Wati, korban selamat namun suaminya meninggal akibat banjir bandang. Foto: Dok. kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ratna Wati, korban selamat namun suaminya meninggal akibat banjir bandang. Foto: Dok. kumparan
Air mata Ratna Wati (32) tak terbendung usai ia salat di musala posko pengungsian Kantor Lurah Silaing Bawah, Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, Sabtu (29/11).
Ia memandang anak perempuan bungsunya yang masih berusia tiga tahun. Lirih ia berkata "Nanti kita berkumpul di surga, nak,".
Ia kena musibah, rumahnya disapu banjir, begitu pula dengan suaminya Reki Saputra (38) dan kakaknya Maryulis (50) yang turut hanyut.
Sehabis zuhur, siang itu, keduanya baru saja dimakamkan. Reki dan Maryulis, jadi korban keganasan banjir bandang yang menerjang Silaiang Bawah, tepatnya di gapura perbatasan Kota Padang Panjang.
"Semoga saya bisa melewati ujian ini," kata Ratna kepada kumparan.
"Sudah tiga hari berturut-turut air mata saya berlinang. Tapi saya mencoba kuat, demi anak-anak dan mentalnya," tambahnya.
Ratna adalah sosok seorang ibu empat orang anak. Usia anak-anaknya terbilang masih belia, 12 tahun, 10 tahun, enam tahun dan si kecil tiga tahun.
Lumpur dan batu besar memenuhi Lembah Anai usai Banjir bandang, Sabtu (29/11). Foto: Irwanda/STR/kumparan
Baru beberapa hari sang ayah tiada, anak-anak Ratna selalu bertanya. Mereka benar-benar kehilangan sosok ayah.
"Sejak mendapat musibah ini, anak saya kehilangan sosok seorang ayah. Kalau rumah dan barang berharga bisa ikhlas, tapi kalau suami, saya harus mencoba menguatkan hati," rintihnya.

Malam Perjumpaan Terakhir

Ratna masih tidak menyangka, Rabu (26/11) malam atau sehari sebelum kejadian bencana, menjadi momen terakhir ia bertemu suami tercinta. Ia mengenang Reki, yang tergesa-gesa pulang dari tempatnya bekerja.
Begitu sampai, Reki meminta Ratna untuk mengemasi barang dan membawa anak-anak mereka pergi.
"Suami saya menyuruh mengungsi malam itu. Karena cuaca sudah tidak aman," ucapnya.
"Bawa semuanya ke atas mobil, orang tua, kakak. Anak-anak selamatkan, saya di sini saja, di rumah, memantau air (sungai)," kata Ratna mengulang kalimat suaminya meminta menjauh dari rumah.
Longsor menerjang kawasan jalan lintas nasional di Lembah Anai tepatnya di gerbang masuk Kota Padang Panjang, Sumatera Barat (Sumbar), Kamis (27/11/2025). Foto: Polres Padang Panjang
Ratna bersama orang tua, anak-anaknya lalu menumpangi mobil almarhumah kakaknya. Ia lalu mengungsi ke rumah saudara. Sesampai di sana, ia mencoba menghubungi suami, namun terkendala jaringan.
Komunikasi Ratna dengan suami baru bisa pagi esok harinya, Kamis (27/11). Ratna masih ingat, pukul 08.10 WIB, untuk terakhir kalinya ia mendengar suara suaminya.
Ketika itu, Ratna meminta menjemput almarhumah kakaknya karena mobil mogok di dekat Water Park Mifan, Padang Panjang. Kakaknya ingin kembali ke rumah rencana memasak makanan untuk bersama.
"Dijemput pakai sepeda motor. Kakak ke rumahnya, suami saya juga ke rumah kami. Rumah saya dengan kakak berseberangan jalan," jelasnya.
Menjelang siang, Ratna risau. Hujan deras masih turun, sementara suami dan kakaknya tak ada kabar.
"Siang itu, lalu saya mendapat kabar berita dari keponakan, kondisi di gapura sudah parah dan videonya sudah beredar," ungkapnya.
Lumpur dan batu besar memenuhi Lembah Anai usai Banjir bandang, Sabtu (29/11). Foto: Irwanda/STR/kumparan

Kabar Buruk Datang Bersamaan

Beberapa jam setelah musibah itu datang, jasad Reki langsung ditemukan sudah tidak bernyawa. Tubuhnya terseret beberapa kilometer dari titik rumahnya.
Kabar yang ditakutinya itu datang hingga nyaris membuatnya pingsan. Ditambah banyak orang-orang yang mengirimkan foto seseorang yang mirip dengan suaminya ditemukan meninggal.
"Saya tidak sanggup melihatnya ketika itu," ujarnya.
Jenazah Reki dievakuasi dan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Padang. Ratna pada saat itu tidak bisa langsung berjumpa jasad suami, karena kondisi jalan Padang-Bukittinggi yang putus total.
"Dua hari jenazah suami saya di rumah sakit. Kemudian, ketemu juga jasad kakak saya dalam kondisi meninggal. Sehingga mereka berdua di sana (rumah sakit)," tuturnya.
Setelah diidentifikasi, jasad Reki dan Maryulis diserahkan ke keluarga. Dalam satu ambulans, mereka pulang dengan tenang ke kampung halaman.
Kini, Ratna hanya bisa mengenang, sosok ayah sekaligus suami yang teladan dan penuh tanggung jawab ke keluarga sudah tiada.
"Saya bisa sabar. Di posko pengungsian ini banyak orang untuk menguatkan hati saya, tapi sebenarnya hati saya hancur," kata dia menahan tangis.
Trending Now