Pimpinan Komisi IX Soroti 1,9 Juta Warga DKI Kena ISPA, Singgung Kasus COVID-19
21 Oktober 2025 16:45 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
Pimpinan Komisi IX Soroti 1,9 Juta Warga DKI Kena ISPA, Singgung Kasus COVID-19
Berdasarkan data Dinas Kesehatan DKI Jakarta hingga Oktober 2025, total kasus ISPA mencapai 1.966.308.kumparanNEWS

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini menyoroti peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di DKI Jakarta yang dilaporkan mendekati dua juta kasus sejak Juli hingga Oktober 2025.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan DKI Jakarta hingga Oktober 2025, total kasus ISPA mencapai 1.966.308. Peningkatan ISPA terjadi sejak Juli 2025.
Selain itu sejumlah puskesmas melaporkan pasien dengan keluhan batuk-pilek yang tak kunjung reda, sakit tenggorokan, hingga sesak napas ringan.
Selain di DKI Jakarta, lonjakan kasus ISPA juga terjadi di sejumlah daerah. Di antaranya di Bandung, Semarang, Surabaya, hingga Tabanan, Bali.
Yahya menegaskan, lonjakan keluhan ini perlu menjadi perhatian serius karena tingginya jumlah kasus dan juga kemiripannya dengan gejala Covid-19 yang berpotensi menimbulkan kekhawatiran masyarakat.
"Peningkatan kasus ISPA harus dipandang sebagai peringatan dini atas lemahnya sistem pencegahan penyakit menular berbasis komunitas, terutama di wilayah perkotaan dengan kepadatan tinggi dan tingkat polusi udara yang meningkat," kata Yahya Zaini kepada wartawan, Selasa (21/10).
"Meskipun Kementerian Kesehatan menyebut situasi masih dalam kendali, peningkatan tren sejak pertengahan tahun menunjukkan adanya faktor risiko yang perlu segera diantisipasi," sambungnya.
Pemicu ISPA Melonjak
Ada beberapa faktor utama yang diidentifikasi sebagai penyebab lonjakan ini antara lain karena kualitas udara yang memburuk, di mana polusi dan partikel-halus di udara turut memperparah kondisi saluran pernapasan.
Lonjakan ISPA juga disebut terjadi karena pola cuaca ekstrem dan musim peralihan, serta penularan massal yang mudah. Karena sifat ISPA yang menular melalui udara dan kontak dekat, kecepatan penularan menjadi tantangan.
Hal ini lantaran ISPA merupakan penyakit yang sangat mudah menular melalui udara, droplet dan aerosol.
Minta Kemenkes Waspada
Politikus Golkar ini mendorong ada langkah-langkah pencegahan untuk mengantisipasi kasus ISPA semakin melonjak.
โDi tengah kondisi cuaca yang tidak menentu, kualitas udara yang menurun, serta imunitas masyarakat yang cenderung melemah akibat kelelahan dan stres, potensi penyebarannya bisa meningkat secara eksponensial," kata Legislator dari Dapil Jawa Timur VIII itu.
"Karena itu, pendekatan pencegahan harus diperkuat, bukan hanya pengobatan," imbuh Yahya.
Pimpinan Komisi Kesehatan DPR ini mendesak Kementerian Kesehatan memperkuat sistem kewaspadaan dini (SKDR) hingga ke tingkat puskesmas dan fasilitas kesehatan primer. Menurut Yahya, perlu ada deteksi dini dan pelaporan kasus ISPA agar akurat.
"Kemenkes harus meningkatkan pengawasan kualitas udara, bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan pemerintah daerah, karena faktor polusi memiliki korelasi kuat dengan peningkatan kasus ISPA," tuturnya.
Yahya mendorong pemerintah melakukan edukasi publik secara masif mengenai langkah pencegahan ISPA secara sederhana. Mulai dari penggunaan masker, menjaga kebersihan tangan, ventilasi ruangan yang baik, hingga memeriksakan diri jika mengalami gejala berat.
"Dan memastikan ketersediaan obat dan fasilitas layanan kesehatan primer, terutama di wilayah padat penduduk yang paling rentan terhadap penularan penyakit saluran pernapasan," ungkap Yahya.
Yahya menekankan, peningkatan kasus ISPA tidak boleh dianggap sebagai siklus musiman semata. Ia menyebut, pandemi Covid-19 harus menjadi pelajaran penting bahwa penyakit dengan gejala mirip flu bisa berkembang menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang lebih besar.
