PM Jepang Akui Ingin Bangun Hubungan Konstruktif dan Stabil dengan China
21 November 2025 14:12 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
PM Jepang Akui Ingin Bangun Hubungan Konstruktif dan Stabil dengan China
PM Jepang Sanae Takaichi menyatakan posisi pemerintah soal Taiwan tetap tidak berubah.kumparanNEWS

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi akhirnya memberikan komentar terkait ketegangan hubungan negaranya dengan China pasca-komentarnya terkait Taiwan.
Takaichi menyatakan menginginkan hubungan konstruktif dengan China. Apalagi, soal ini sudah dibicarakan dengan Presiden China Xi Jinping dalam pertemuan singkat di sela KTT APEC di Korsel.
"Pada akhir bulan lalu, saya dan Presiden Xi menegaskan arah umum untuk memajukan hubungan strategis dan saling menguntungkan secara komprehensif, serta membangun hubungan yang konstruktif dan stabil," kata Takaichi kepada wartawan, dikutip dari AFP, Jumat (21/11).
Takaichi kemudian menjelaskan posisi Jepang terkait Taiwan tetap tidak berubah. Yang dimaksud Takaichi adalah soal pernyataannya yang menyebut serangan China terhadap Taiwan akan mengancam keselamatan Jepang dan dapat memicu reaksi militer.
"Posisi pemerintah tentang Taiwan tetap tidak berubah," ungkapnya.
"Pemerintah akan secara komprehensif mengevaluasi seluruh informasi berdasarkan keadaan spesifik dan konkret yang muncul," lanjutnya.
Hubungan Memanas, China Tunda Gelar Pertemuan Trilateral Menteri Kebudayaan dengan Jepang dan Korsel
Ketegangan yang terjadi antara Jepang dan China tidak hanya berdampak pada pariwisata, ekonomi dan hiburan, tapi juga pada kerja sama di tingkat menteri. Kantor berita Kyodo melaporkan China memutuskan menunda pertemuan trilateral menteri kebudayaan dengan Jepang dan Korsel.
"Tidak mungkin menyelenggarakan pertemuan yang dijadwalkan pada Senin mendatang di Makau karena pernyataan Takaichi yang keliru," kata jubir Kemlu China Mao Ning.
Mao mengatakan, pernyataan Takaichi merusak fondasi dan atmosfer kerja sama tiga arah.
Keputusan China menunda pertemuan ini dikritik oleh Sekretaris Kabinet Minoru Kihara. Ia menyebut keputusan yang disampaikan jubir Kemlu China Mao Ning memperburuk pertukaran antarmasyarakat dan bertentangan dengan tujuan bersama Tokyo dan Beijing untuk membangun hubungan yang konstruktif dan stabil.
Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korsel telah diberi tahu oleh China dua hari sebelumnya bahwa pertemuan ditunda. Sementara Kihara mengatakan tidak ada pengumuman resmi terkait penundaan itu.
