PM Qatar: Gencatan Senjata Gaza Tak Lengkap Tanpa Penarikan Penuh Pasukan Israel

6 Desember 2025 19:51 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
PM Qatar: Gencatan Senjata Gaza Tak Lengkap Tanpa Penarikan Penuh Pasukan Israel
PM Qatar menyatakan gencatan senjata tidak lengkap tanpa penarikan penuh pasukan Israel dari Jalur Gaza.
kumparanNEWS
Sejumlah warga Palestina mengevakuasi jenazah dari puing-puing rumah yang hancur akibat serangan Israel di Kota Gaza, Rabu (29/10/2025). Foto: OMAR AL-QATTAA/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah warga Palestina mengevakuasi jenazah dari puing-puing rumah yang hancur akibat serangan Israel di Kota Gaza, Rabu (29/10/2025). Foto: OMAR AL-QATTAA/AFP
Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani menyatakan gencatan senjata tidak lengkap tanpa penarikan penuh pasukan Israel dari Jalur Gaza.
"Sekarang kita berada di momen yang kritis. Gencatan senjata tidak akan lengkap kecuali ada penarikan penuh pasukan Israel, (dan) adanya stabilitas di Gaza," katanya di Forum Doha, konferensi diplomatik tahunan yang digelar di Doha, dikutip dari AFP, Sabtu (6/12).
Qatar bersama AS dan Mesir membantu mengamankan gencatan senjata di Gaza. Gencatan senjata antara Hamas dan Israel Gaza mulai berlaku pada 10 Oktober.
Berdasarkan kesepakatan gencatan senjata fase kedua yang belum dimulai, Israel harus menarik mundur pasukannya dari Gaza, otoritas sementara akan mengambil alih pemerintahan, dan pasukan stabilisasi internasional (ISF) akan ditempatkan di Gaza. Negara Arab dan Muslim ragu-ragu untuk bergabung dalam pasukan stabilisasi yang baru.
Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al-Thani berpidato mengenai Israel dan Hamas telah menyetujui gencatan senjata di Gaza mulai 19 Januari 2025. Foto: Karim Jaafar / AFP
Dalam forum itu, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan mengatakan perundingan mengenai pasukan itu sedang berlangsung dan masih ada pertanyaan kritis mengenai struktur komandonya dan negara mana yang akan terlibat.
"Namun, tujuan utamanya adalah harus memisahkan warga Palestina dan warga Israel. Ini harus menjadi tujuan utama kita, kemudian kita dapat mengatasi isu lainnya yang tersisa," kata Fidan.
Berdasarkan proposal damai yang diusulkan Presiden AS Donald Trump, Hamas harus melucuti senjata dan anggota yang telah menyerahkan senjata diizinkan meninggalkan Gaza. Hamas telah berulang kali menolak proposal itu.
Turki menyatakan keinginannya untuk bergabung dalam pasukan stabilisasi, tapi upaya itu dipandang negatif oleh Israel. Sebab, Israel menilai Turki terlalu dekat dengan Hamas.
Dua truk yang membawa bantuan untuk Gaza melintas di Deir el-Balah, wilayah tengah Jalur Gaza, Rabu (15/10/2025). Foto: Bashar Taleb/AFP
"Saya rasa satu-satunya cara yang layak untuk mengakhiri perang ini adalah terlibat secara aktif dan tegas dalam perundingan damai," ujar Fidan.
Lebih lanjut, PM Qatar mengatakan pihaknya bersama Turki, Mesir dan AS bersatu untuk mendorong kemajuan fase gencatan senjata selanjutnya.
"Dan fase selanjutnya juga bersifat sementara dari perspektif kami. Jika kita hanya menyelesaikan apa yang terjadi dalam dua tahun terakhir, ini tidak cukup," ujarnya.
PM Qatar menyatakan diperlukan solusi jangka panjang yang berkeadilan bagi kedua belah pihak.
Trending Now