Polda Metro Selidiki Identitas Pasien Aborsi Ilegal di Apartemen Jaktim

17 Desember 2025 19:39 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Polda Metro Selidiki Identitas Pasien Aborsi Ilegal di Apartemen Jaktim
Polda Metro Jaya tengah menyelidiki 361 nama pasien yang terdata dalam kasus praktik aborsi ilegal yang dibongkar di sebuah apartemen di Jakarta Timur.
kumparanNEWS
Konferensi pers aborsi illegal di Polda Metro Jaya, Rabu (17/12/2025). Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Konferensi pers aborsi illegal di Polda Metro Jaya, Rabu (17/12/2025). Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan
Polda Metro Jaya tengah menyelidiki 361 nama pasien yang terdata dalam kasus praktik aborsi ilegal yang dibongkar di sebuah apartemen di Jakarta Timur.
Nama-nama tersebut ditemukan dari hasil olah data handphone milik admin jaringan aborsi ilegal itu.
“Kemudian kami melakukan olah data yang ada di handphone-nya admin, dari olah data tersebut kami menemukan nama-nama pasien sebanyak 361 pasien,” ujar Dirkrimsus Polda Metro Jaya Kombes Pol. Edy Suranta Sitepu, saat konferensi pers di Polda Metro Jaya, Rabu (17/12).
Meski demikian, Edy menegaskan, kepolisian masih perlu memastikan apakah seluruh nama tersebut benar-benar melakukan aborsi di praktik ilegal tersebut.
Tersangka praktik aborsi illegal di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu (17/12/2025). Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan
“Tentu ini masih kami lakukan pendalaman apakah 361 ini benar melakukan aborsi di praktik aborsi ilegal tersebut atau tidak, ini sedang berproses. Namun dari keterangan tersangka, walaupun keterangan tersangka sudah menyatakan itu adalah pasien aborsi, tapi kami perlu memastikan dengan memanggil para pasien yang ada di database tersebut,” jelasnya.
Saat pengungkapan kasus, polisi mendapati adanya pasien yang sedang berada di lokasi praktik. Terkait kemungkinan adanya pasien dari kalangan pelajar atau kelompok tertentu lainnya, Edy menyebut hal tersebut masih dalam pendalaman.
“Ini semua masih kita dalami, ya. Kami masih melakukan pemeriksaan beberapa pasien,” ujarnya.
Ditreskrimsus Polda Metro Jaya menunjukkan barang bukti praktik tindak pidana aborsi ilegal dalam konferensi pers di Gedung Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, Rabu (17/12/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Polisi memastikan akan memanggil satu per satu pasien yang terdata untuk memastikan fakta dan peran masing-masing dalam kasus ini.
“Tentu nanti ke depan akan kita ungkap, ya, tetapi yang jelas, kami akan melakukan pendalaman, akan melakukan pemanggilan terhadap pasien-pasien yang terdata di dalam database mereka, yang ada 361 tadi,” pungkas Edy.
Dalam kasus ini, polisi juga mengungkap modus operandi yang digunakan para pelaku untuk menjaring pasien. Mereka memanfaatkan website yang dibuat seolah-olah sebagai klinik resmi.
“Tentu modus yang mereka lakukan adalah mereka membuat website, kemudian dihubungkan dengan admin, kemudian di website tersebut, seolah-olah praktik ataupun klinik-klinik tersebut seolah-olah itu berizin dan dikelola oleh seorang dokter yang spesialis, yaitu spesialis obgyn, sehingga masyarakat ataupun orang-orang ketika melihat daripada website tersebut itu orang percaya,” kata Edy.
Ditreskrimsus Polda Metro Jaya menunjukkan barang bukti praktik tindak pidana aborsi ilegal dalam konferensi pers di Gedung Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, Rabu (17/12/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Selain itu, lokasi praktik aborsi ilegal ini diketahui berpindah-pindah untuk menghindari aparat penegak hukum.
“Mereka tempatnya itu bisa saya katakan juga berpindah-pindah, ya, karena ada di, pernah di Bekasi, ya, pernah juga di Jakarta Timur, dan mungkin juga tempat-tempat lainnya sedang kita dalami,” ujarnya.
Para pelaku biasanya menyewa apartemen dalam waktu singkat, tergantung jumlah pasien yang akan dilayani.
“Tetapi yang jelas, mereka tempatnya berpindah-pindah, dan biasanya mereka menyewa apartemen, dan itu sewa harian atau mingguan saja. Jadi tidak menyewa apartemen itu dalam jangka waktu yang lama, tetapi mungkin 1 hari, 2 hari, tergantung dari banyaknya pasien,” kata Edy.
Trending Now