Polisi Soal Motif Ormas Lakukan Premanisme: Ekonomi hingga Ajang Eksistensi
26 Mei 2025 16:19 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
Polisi Soal Motif Ormas Lakukan Premanisme: Ekonomi hingga Ajang Eksistensi
Ormas ini bisa mendapatkan keuntungan hingga jutaan rupiah perhari, ini dilakukan dengan menduduki lahan parkir atau mengutip uang dari para pedagang pasar.kumparanNEWS

Polisi mendalami motif premanisme yang dilakukan sejumlah ormas yang ada di sejumlah wilayah, dalam hal ini, Tangsel hingga Bekasi. Kebanyakan ingin meraup keuntungan dari aktivitas tersebut.
"Kami melihat tentunya tadi Bapak Direktur menyampaikan motif ekonomi ada motif untuk kepentingan pribadi dan juga ada indikasi pamer eksistensi antar ormas untuk penguasaan-penguasaan lahan sehingga mereka bisa meraup keuntungan dari model-model aksi tersebut," kata Wadirkrimum Polda Metro Jaya, AKBP Putu Kholis Aryana, dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Senin (26/5).
Salah satu kasusnya, pendudukan lokasi lahan parkir di RSUD Tangsel. Parkiran tersebut diduduki secara ilegal oleh ormas Pemuda Pancasila (PP) sejak 8 tahun lalu.
Mereka lalu menerapkan tarif parkir, Rp 3 ribu untuk motor dan Rp 5 ribu untuk mobil. Polisi menghitung, dalam sehari ada 600 motor dan 170 ribu kendaraan yang parkir.
Jadi, mereka bisa meraup Rp 2,7 juta dalam sehari atau lebih dari Rp 1 miliar setahun. Jika dihitung sejak mereka menguasai pada 2017, polisi memperkirakan mereka bisa meraup duit lebih dari Rp 7 miliar.
Uang itu digunakan untuk membiayai kantor PP, hingga memberi iuran untuk ketua DPC PP Tangsel.
"Hasil parkir tersebut dibagi mulai dari anggota PP, untuk memberi akomodasi kantor Kemudian memberikan iuran kepada organisasi Kemudian memberikan iuran, memberikan jatah kepada ketua PP Per harinya," kata Dirkrimum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Wira Satya Triputra.
Atas aksi ormas itu, polisi menghitung bahwa Pemda Tangsel juga mengalami kerugian yang cukup besar. Sebab, mereka telah menunjuk vendor untuk mengelola lahan parkir itu.
Tapi, setiap pekerjaan vendor selalu mendapat intimidasi dari ormas terkait.
"Dari inspektorat daerah itu kurang lebih harusnya bisa disetor ke kas daerah sekitar Rp 5 miliar. Ini sebagai tambahan Ini kasus yang terjadi di Tangerang Selatan," kata Wira.
Sementara kasus lain, di Pasar SGC Bekasi, sebuah ormas berinisial T memeras sekitar 150 pedagang pasar setiap malam. Mereka mengutip uang tersebut sejak tahun 2020, dan menurut hitungan polisi, mereka bisa mengumpulkan uang rata-rata Rp 4 juta hingga Rp 4,2 juta sehari.
"Di mana dalam pembagiannya, untuk ketua umum mendapatkan pembagian antara Rp 1.2 juta sampai dengan Rp 1.6 juta. Ini untuk ketua umumnya. Kemudian untuk pengurus dan anggota mendapatkan Rp 50 ribu sampai dengan Rp 200 ribu per hari," tutup Wira.
