Prabowo Setuju Operasi Besar Normalisasi Sungai Berlumpur di Sumatera

1 Januari 2026 17:14 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Prabowo Setuju Operasi Besar Normalisasi Sungai Berlumpur di Sumatera
Presiden Prabowo Subianto menyetujui rencana dilakukannya operasi besar untuk menormalisasikan aliran sungai di daerah yang terdampak bencana Sumatera.
kumparanNEWS
Kondisi jalanan dan rumah warga di sekitar Sungai Muara Pisang, Nagari Maninjau, Sumatera Barat pascabanjir pada Kamis (1/1). Foto: Abid Raihan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kondisi jalanan dan rumah warga di sekitar Sungai Muara Pisang, Nagari Maninjau, Sumatera Barat pascabanjir pada Kamis (1/1). Foto: Abid Raihan/kumparan
Presiden Prabowo Subianto menyetujui rencana dilakukannya operasi besar untuk menormalisasikan aliran sungai di daerah yang terdampak bencana Sumatera.
Sungai-sungai tersebut harus dikeruk karena mengalami pendangkalan imbas pasir dan lumpur yang mengendap usai terbawa arus banjir.
"Saya kira itu usul yang baik. Itu juga yang diusulkan Gubernur kepada saya sebenarnya. Jadi kuala-kuala (muara sungai) itu yang kita akan normalisasi, kita bongkar itu ya. Beliau sudah berapa saat yang lalu sudah sampaikan, saya sudah setuju," kata Prabowo dalam rapat koordinasi di Aceh Tamiang, Kamis (1/1).
Presiden Prabowo memimpin rapat koordinasi saat tinjau Pembangunan Rumah Hunian Danantara, Aceh Tamiang, 1 Januari 2026. Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden
Prabowo bilang, ada beberapa pihak swasta juga yang tertarik untuk membeli endapan lumpur tersebut. Sehingga, ini perlu dicari cara untuk bisa mengambil lumpur itu.
"Ada perusahaan-perusahaan besar yang punya keahlian di bidang ini, ya. Dredging (pengerukan) untuk pelabuhan dan sebagainya ya," ungkap Prabowo.
"Dan nanti juga bermanfaat itu. Kalau bisa lumpurnya kalau ada yang mau, kalau ada swasta mau beli ya monggo, silakan. Langsung dinikmati oleh daerah-daerah," sambung dia.
Suasana Jembatan Bailey Sungai Garoga di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Rabu (31/12/2025). Foto: YouTube/Sekretariat Presiden
Usulan ini datang dari Menhan Sjafrie Sjamsoeddin. Sjafrie mengatakan, kuala-kuala ini banyak yang bermuara di laut. Bila sungai bisa dilalui kapal-kapal TNI, pergerakan logistik hingga alat berat bisa lebih mudah dan efisien.
Kuala-kuala bisa dibersihkan dari berbagai kayu yang menumpuk. Lalu, lumpur-lumpur bisa disedot agar kedalaman sungai bisa kembali seperti sebelum diterjang bencana.
"Dan ini saya sudah bicara dengan Wapang, Angkatan Darat, kita harus upayakan ini besar-besaran. Tidak hanya Tamiang, tapi di Bireuen juga harus kita kerjakan. Jadi di Aceh kita lakukan itu, kita lihat lagi kalau ada di Sibolga umpamanya," jelas Sjafrie.
"Jadi, dari laut kita sudah lakukan pendalaman sampai ke sungai. Sehingga kapal tidak perlu lagi taruh itu alat berat, digendong pakai jalur darat, tapi dia langsung ke titik terdekat. Ini usul kami, Bapak Presiden," tambah dia.
Menteri Pertahanan Jenderal (Purn.) Sjafrie Sjamsoeddin, mengikuti rapat koordinasi dengan presiden Prabowo di Aceh Tamiang, 1 Januari 2026. Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden
Sjafrie menegaskan telah dibentuk Satuan Tugas (Satgas) Kuala. Satgas ini akan terdiri dari dua komposisi, yakni bertugas untuk pendalaman sungai dan pemanfaatan air.
"Setelah saya koordinasi dengan Wakil Panglima dan KSAD. Hari ini sudah kita bentuk Satgas Kuala," ujar Sjafrie.
"Di dua komposisi kapal ini, akan kita naikkan water treatment system sehingga air yang ada di kuala kita ambil, kita olah, sehingga menjadi air jernih," jelasnya.
Dia mengungkapkan, Satgas Kuala akan mulai efektif bertugas mulai 2 pekan ke depan. Sasaran pertamanya adalah Kuala Simpang di Aceh Tamiang
"Kita akan hari ini, siang ini terbentuk satgas dua Minggu kemudian kami akan operasional mulai dari Kuala Simpang," ungkapnya.
Mendagri Tito Karnavian, mengikuti rapat koordinasi dengan presiden Prabowo di Aceh Tamiang, 1 Januari 2026. Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden
Ide itu direspons oleh Mendagri Tito Karnavian. Tito mengatakan, ada perusahaan yang punya alat penyedot lumpur yang bisa dipakai. Bila ini teralisasi, pengerjaan pengerukan kuala atau sungai di daerah bencana bisa lebih baik.
"Kami juga berkomunikasi dengan teman-teman yang di biasa nambang-nambang itu, Pak. Jadi untuk sungai-sungai terutama di kuala-kuala ini sedemikian besar, lebar, dan masif sedimennya. Sehingga kalau menggunakan alat bekhoe atau ekskavator itu lambat pasti, Pak," kata Tito.
"Saran kami kapal-kapal yang untuk dredging itu, tambang yang banyak di Bangka Belitung gitu, Pak. Itu daya sedotnya luar biasa, mereka cepat sekali, Pak. Demikian, Bapak. Makasih, Pak," tambah Tito.
Trending Now