Pram Resmikan Remodeling Panti Sosial di Tebet Jaksel, Warga Dibina Satu Tahun
25 September 2025 18:20 WIB
·
waktu baca 3 menit
Pram Resmikan Remodeling Panti Sosial di Tebet Jaksel, Warga Dibina Satu Tahun
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meresmikan remodeling gedung Panti Sosial Bina Remaja Taruna Jaya 1, Tebet, Jakarta Selatan, pada Kamis (25/9).kumparanNEWS

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meresmikan remodeling gedung Panti Sosial Bina Remaja Taruna Jaya 1, Tebet, Jakarta Selatan, pada Kamis (25/9).
Panti yang berada di bawah naungan Dinas Sosial (Dinsos) DKI Jakarta ini dapat menampung ratusan warga binaan dan memberikan pelatihan keterampilan selama satu tahun.
“Ternyata pantinya ini bagus sekali dan mudah-mudahan bisa dirawat dengan baik. Maka dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, pada hari ini, remodeling gedung Panti Sosial Bina Remaja Taruna Jaya 1, saya nyatakan diresmikan,” kata Pramono dilanjut menandatangani prasasti peresmian.
Pramono menuturkan, panti tersebut merupakan salah satu dari 22 panti yang dikelola Dinsos DKI Jakarta. Panti tersebut juga bekerja sama dengan Korea Selatan.
Ia mengaku terkesan dengan fasilitas dan berbagai pelatihan yang disediakan, mulai dari memasak, salon, refleksi kaki, reparasi ponsel, hingga pembuatan mebel.
“Dan salah satu alumni dari panti ini menjadi juara satu di Ghuangzou kemarin. Jadi kalau melihat hal ini, maka ini menjadi tantangan bagi panti-panti yang lain di Jakarta,” ujar Pramono.
“Saya mendorong Kepala Dinas untuk bisa melakukan remodeling yang seperti ini yang bisa langsung dirasakan oleh warga binaan,” lanjutnya.
Panti ini memiliki kapasitas sekitar 100 orang di lahan seluas 6.000 meter persegi. Menurut Pramono, program pembinaan dijalankan selama setahun agar warga binaan dapat mengembangkan keterampilan sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri.
“Jadi sebenarnya, mereka ini dipersiapkan di sini selama 1 tahun. Tapi kalau kemudian belum terserap di pasar untuk bekerja, biasanya diberikan perpanjangan. Tetapi rata-rata karena memang fasilitasnya untuk bekerja baik, dan juga di panti ini dilatih dengan baik dan mereka kemudian diserap oleh pasar, rata-rata mereka 1 tahun,” jelasnya.
Kepala Dinas Sosial DKI Jakarta Iqbal Akbarudin menambahkan, warga binaan di panti berasal dari beragam latar belakang, mulai dari pengemis, anak jalanan, hingga orang dengan gangguan psikologis.
“Beragam sih, beragam. Kadang ada yang stres di rumah, orang yang lebih parah ya, yang bawa senjata tajam segala macam. Itu kita juga diusulkanlah untuk diberikan kelengkapan pengamanan juga bagi petugas kami gitu,” ujar Iqbal.
Ia menyebut, penjangkauan juga dilakukan terhadap Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang berasal dari luar Jakarta.
Proses asesmen dilakukan sebelum menentukan apakah warga tersebut dipulangkan ke daerah asal atau dibina sementara di panti.
“Iya, kita lihat kondisinya gitu. Karena kan mereka manusia kan, sama kita ya. Rasa kemanusiaan kita kan juga tinggilah terkait dengan kondisi pada saat kita jangkau,” kata Iqbal.
“Misalnya memang kondisinya agak memprihatinkan, kita berikan asesmen, kita lakukan upaya-upaya biar dia kembali pulih sehat dululah. Setelah itu baru kita koordinasi ke daerah asal,” lanjutnya.
Hingga saat ini, total ada sekitar 7.700 warga binaan yang tersebar di 22 panti milik Dinsos DKI Jakarta. Meski beberapa panti sudah mendekati kapasitas penuh, Iqbal memastikan daya tampung masih mencukupi.
“Beberapa panti sih memang (penuh), tapi masih cukuplah untuk kita ini. Cukuplah insyaAllah,” ujarnya.
Iqbal juga mengungkapkan, jumlah PPKS yang terjaring setiap hari bervariasi tergantung kondisi lapangan.
“Kadang gini, tergantung yang lagi di wilayah gitu ya. Terkait dengan masalah manusia silver lah, atau nggak anak-anak di lampu merah yang jual tisu, yang jual suara, yang bawa anak kecil, ibu-ibu. Nah itu yang memang luar biasa,” tandasnya.
