Profil Syaikhona Kholil, Guru Pendiri NU yang Jadi Pahlawan Nasional
10 November 2025 15:50 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
Profil Syaikhona Kholil, Guru Pendiri NU yang Jadi Pahlawan Nasional
Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada ulama kharismatik, Syaikhoona Kholil, di Istana Negara, Senin (11/10). kumparanNEWS

Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada ulama kharismatik, Syaikhona Kholil, di Istana Negara, Senin (11/10).
Seperti apa profil sang ulama?
Dikutip dari berbagai sumber, Syaikhona Kholil. Pria yang akrab disapa Mbah Kholil itu lahir pada hari Ahad Pahing, tanggal 11 Jumadil Akhir 1235 H bertepatan dengan tanggal 14 Maret 1820 M. Ia masih keturunan dari salah satu Wali Songo yakni Sunan Gunung Jati.
Sekitar tahun 1850-an, ketika usianya menjelang 30 tahun, Mbah Kholil muda belajar kepada Kyai Muhammad Nur di Pondok Pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur.
Dari Langitan pindah ke Pondok Pesantren Cangaan, Bangil, Pasuruan. Kemudian pindah lagi ke Pondok Pesantren Keboncandi.
Selama belajar di Pondok Pesantren ini beliau belajar ulang kepada K.H. Nur Hasan yang menetap di Sidogiri.
Selama nyantri di Sidogiri, Mbah Kholil tinggal di Keboncandi agar bisa nyambi menjadi buruh batik. Hasil dari pekerjaannya itu, Mbah Kholil memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Saat menjadi santri, Mbah Kholil mampu menghafal beberapa matan kitab, seperti nadzom Alfiyah ibn Malik. Selain itu beliau juga seorang Hafidz Qurβan.
Pada tahun 1859, Mbah Kholil memutuskan untuk pergi ke Makkah. Namun sebelum berangkat, Mbah Kholil menikah dengan Nyai Asyik, anak perempuan Lodra Putih.
Sewaktu di Makkah, Mbah Kholil belajar dengan Syeikh Nawawi Al Bantani, Syeikh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syeikh Mustafa bin Muhammad Al Afifi Al Makki, dan Syeikh Abdul Hamid bin Mahmud Asy-Syarwani.
Selain belajar, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Mbah Kholil bekerja mengambil upah sebagai penyalin kitab kitab yang diperlukan oleh para pelajar.
Mbah Kholil terkenal sebagai ahli nahwu, fiqih, tarikat, dan ilmu-ilmu lainnya. Untuk mengembangkan pengetahuan keislaman yang telah diperolehnya Mbah Kholil mendirikan Pondok Pesantren di Cangkebuan yang kemudian Pesantren itu diserahkan kepada menantunya, yaitu Kyai Muntaha.
Mbah Kholil mendirikan pesantren lagi di daerah Kademangan, sebelah barat alun-alun Kabupaten Bangkalan.
Oleh karena pindah-pindah dan banyak mengajar di sejumlah pesantren, Mbah Kholil dikenal sebagai gurunya para kiai seantero Jawa. Salah satu muridnya adalah pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy'ari.
Kiai Hasyim belajar gramatika Arab secara mendalam di Kademangan, pesantren asuhan Kiai Kholil. Sebaliknya, Kiai Kholil belajar hadis kepada Kiai Hasyim di Tebuireng.
Dalam catatan, Mbah Kholil wafat pada tahun 1929.
