Rahasia di Tangan Mesin: Apakah AI Bisa Dipercaya Jadi Tempat Curhat?

31 Mei 2025 12:43 WIB
Β·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rahasia di Tangan Mesin: Apakah AI Bisa Dipercaya Jadi Tempat Curhat?
Orang yang memperlakukan AI seperti teman hingga kekasih, terkadang menceritakan rahasia yang paling dalam dan paling gelap. Namun, apakah AI sendiri dapat menyimpan rahasia?
kumparanNEWS
Ilustrasi Artificial Intelligence (AI). Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Artificial Intelligence (AI). Foto: Shutterstock
Selain untuk brainstorming, Artificial Intelligence (AI) kini juga digunakan sebagai tempat curhat. AI dianggap dapat memberikan rasa nyaman lantaran menghibur, memotivasi, hingga menenangkan. Terlebih, AI selalu merespons dengan cepat dan bisa ada setiap saat.
Berdasakan survei "In AI, We Trust" yang dirilis Snapcart pada 24 April 2025, tingkat kepercayaan orang di Indonesia terhadap AI ada di angka 40 persen. Sebanyak 13 persen di antaranya bahkan tergolong sangat percaya terhadap kecerdasan buatan itu. Tidak ada responden (0 persen) yang mengatakan mereka sama sekali tidak mempercayai AI.
Survei Snapcart melibatkan 3.611 responden di Indonesia dari berbagai generasi. Sebanyak 43 persen di antaranya menyebut sering menggunakan AI, sedangkan 41 persennya jarang menggunakan. Hanya 16 persen responden yang mengaku tidak pernah menggunakan AI.
Dalam survei itu, Gen Z (13-28 tahun) adalah generasi yang paling sering menggunakan AI. Angkanya ada di 50 persen. Kemudian diikuti oleh milenial (29-40 tahun) yaitu 29 persen, serta Gen X (45-60 tahun) yang mencapai 23 persen.
Dari total responden, ada 6 persen orang yang pernah ke curhat ke AI. Adapun mereka yang menggunakan AI sebagai terman curhat percaya bahwa bahwa AI lebih baik dalam menyimpan rahasia daripada manusia, termasuk psikolog. Survei Snapcart menunjukkan angkanya mencapai 27 persen.
Nah, orang yang memperlakukan AI seperti teman hingga kekasih, terkadang menceritakan rahasia yang paling dalam dan paling gelap, termasuk detail situasi keuangan mereka. Namun, apakah AI sendiri dapat dipercaya menyimpan semua rahasia kita? Terutama data pribadi kita?

Kita Tidak Pernah Tahu Nasib Data Kita

Menurut Ketua Asosiasi Ilmuwan Data Indonesia (AIDI) Andry Alamsyah, perusahaan AI memang memiliki kebijakan privasi, tetapi itu belum tentu menjamin keamanan data pengguna. Oleh sebab itu, dia menghimbau supaya masyarakat tak asal membagikan informasi pribadi ke AI.
"Apakah AI bisa dipercaya? Untuk kasus-kasus krusial, jangan," ucap Andry saat dihubungi kumparan, Selasa (27/5).
"Kita tidak tahu data yang kita upload di AI, kita nggak tahu mereka (data) akan digunakan apa di belakanganya," tambahnya.
Dosen Universitas Telkom Andry Alamsyah. Foto: Dok. Pribadi
Guru besar Digital Business Strategy Telkom University itu mengatakan, pengolahan, penggunaan, hingga penyebaran data oleh AI masih belum transparan. Terlebih, kata dia, banyak perusahaan AI yang tidak terbuka dan ini merupakan isu sensitif.
"Penggunaan data dalam kondisi sekarang jarang dilaporkan atau tidak ada yang mau terbuka. Karena masih grey area, grey area itu tidak ada peraturan yang jelas. Jadi mereka (perusahaan) bisa melakukan hal-hal yang tidak etis tapi tidak dihukum," ungkap Andry.
Menurut Andry, belum banyak negara yang concern terhadap isu keamanan data pengguna. Katanya, baru beberapa negara saja yang menerapkan peraturan privasi secara ketat seperti Eropa.
"Di Eropa sangat diwanti-wanti namanya privasi sehingga pemerintah tak menganjurkan menggunakan LLM, atau mereka menggunakan LLM versi lokal yang menuruti pemerintah setempat," jelas Andry.
Anak berhadapan dengan artificial intelligence (AI). Foto: Shutterstock
Berdasarkan catatan kumparan, Uni Eropa saat ini menjadi pelopor dalam menerapkan regulasi ketat terhadap kecerdasan buatan (AI) melalui Undang-Undang AI (AI Act) yang disahkan pada Mei 2024 dan mulai berlaku penuh pada 2026 . Regulasi ini mengklasifikasikan sistem AI berdasarkan tingkat risikonya dan menetapkan larangan serta kewajiban yang ketat untuk aplikasi berisiko tinggi, seperti pengawasan biometrik real-time, social scoring, dan predictive policing .
Hingga saat ini di Indonesia belum ada regulasi khusus tentang perlindungan data oleh AI. Akan tetapi, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital sedang menyusun peta jalan (roadmap) AI untuk Indonesia yang ditargetkan rampung bulan Juni mendatang.
Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria. Foto: Dok. Komdigi
Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria mengatakan, peta jalan AI tersebut nantinya akan diperkuat dalam bentuk Peraturan Presiden (Perpres). Ada tiga isu paling mendesak yakni disinformasi generatif, dengan mandat pelabelan konten AI-generated. Kemudian bias sistemik, terutama dalam AI yang digunakan untuk layanan publik. Terakhir soal ketahanan ekonomi dan kedaulatan data.
β€œNantinya akan menjadi dasar kementerian dan lembaga dalam merancang pengembangan dan adopsi teknologi AI, serta pengawasannya. Pemerintah berkomitmen mewujudkan ekosistem kecerdasan buatan (AI) yang inklusif, aman dan beretika,” ujarnya dalam dialog khsus 'Mewujudkan Ekosistem AI yang Inklusif, Aman, dan Beretika' bersama RRI Pro 3, Kamis (29/5).
Komdigi, kata Nezar, akan melihat juga manfaat dari pengembangan AI. Sekaligus juga mengidentifikasi risiko-risiko yang akan muncul atau sudah muncul dari perkembangan dan penggunaan AI tersebut.
β€œPerlu adanya mitigasi yang lebih komferehensif mengenai potensi dampak negatif dari AI. Termasuk juga kemungkinan otomatisasi yang bisa menggantikan peran manusia dalam berbagai bidang pekerjaan,” ungkap Nezar.

Cara AI Menyimpan-Membagikan Data Kita

Guna memahami penggunaan data oleh AI, kumparan mencoba membaca dan membandingkan kebijakan privasi yang dikeluarkan ChatGPT, Gemini, dan DeepSeek.
Kebijakan privasi adalah dokumen resmi yang dikeluarkan guna menjelaskan bagaimana sebuah organisasi atau perusahaan mengumpulkan, menggunakan, mengelola, melindungi, dan membagikan data pribadi pengguna atau pelanggannya.
Ilustrasi Artificial Intelligence (AI). Foto: Shutterstock
Dokumen ini merupakan bagian dari transparansi hukum dan etika untuk memastikan bahwa pengguna memahami hak mereka terkait data yang mereka berikan.
Data pengguna yang disimpan oleh tiga perusahaan AI itu kurang lebih sama. Mulai dari data akun hingga lokasi alamat pengguna layanan. Selain mendapat data dari pengguna langsung, ketiga perusahan tersebut juga memperoleh data dari unggahan dan informasi di internet.
Begini perbandingannya:
Perlu diketahui. platform AI populer ini adalah mesin yang lapar data. Mereka menggunakan model bahasa besar (LLMs) untuk menjawab pertanyaan kita. Sedangkan, LLMs membutuhkan data dalam jumlah besar untuk menciptakan model yang lebih baik.
Di Gemini (General AI milik Google), data turut digunakan untuk mengklasifikasi pasar. Nantinya mesin dapat menentukan iklan yang tepat berdasarkan kebutuhan atau keinginan pemilik akun.
Dalam dokumen juga dijelaskan bahwa perusahaan AI di atas turut membagikan data pengguna mereka ke beberapa pihak, termasuk pemerintah dan penegak hukum. Ketiga perusahaan AI di atas akan membagikan data pengguna akun kepada pemerintah dan penegak hukum berdasarkan hukum yang berlaku.
Ilustrasi Google Gemini Foto: Google
ChatGPT dan Gemini sama-sama mematuhi hukum dan prinsip peraturan GDPR (Uni Eropa) dan CCPA (California). Sedangkan DeepSeek lebih berorientasi dengan hukum dan prinsip peraturan China.
Google memungkinkan pengguna untuk menghapus aktivitas mereka di Gemini melalui fitur Gemini Apps Activity. Pengguna dapat menghapus aktivitas tertentu atau seluruh riwayat, serta mengatur penghapusan otomatis setelah 3, 18, atau 36 bulan. Namun, perlu dicatat bahwa untuk pengguna Google Workspace (akun organisasi), penghapusan aktivitas mungkin tidak sepenuhnya tersedia, tergantung pada kebijakan administrator organisasi .
Sementara itu, OpenAI menyediakan opsi bagi pengguna untuk menghapus data mereka. Pengguna dapat menonaktifkan riwayat obrolan agar data tidak digunakan untuk pelatihan model. Untuk penghapusan data secara permanen, pengguna dapat menghapus akun mereka melalui portal privasi OpenAI. Proses ini biasanya memakan waktu 1–2 minggu. Bila selesai, data pengguna akan dihapus dari server aktif OpenAI
Adapun DeepSeek memungkinkan pengguna untuk meminta penghapusan data pribadi mereka sesuai dengan peraturan privasi seperti GDPR dan CCPA. Pengguna juga dapat mengajukan permintaan melalui formulir yang disediakan.
Trending Now