Ramai Dosen Unissula Diduga Marahi Dokter soal Persalinan Istrinya

9 September 2025 13:26 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ramai Dosen Unissula Diduga Marahi Dokter soal Persalinan Istrinya
Ramai di media sosial dugaan kekerasan yang dilakukan seorang dosen Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang terhadap dokter di Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung Semarang.
kumparanNEWS
Ilustrasi Unissula Semarang. Foto: Unissula Semarang
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Unissula Semarang. Foto: Unissula Semarang
Ramai di media sosial dugaan kekerasan yang dilakukan seorang dosen Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang terhadap dokter di Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung Semarang.
Dalam video yang beredar terlihat, seorang pria yang diduga MDS, dosen di Unissula, sedang marah kepada dokter Astra, dokter anestesi, dan bahkan melakukan ancaman.
Ia diduga tak terima karena pihak rumah sakit tidak menuruti keinginannya agar sang istri melahirkan secara normal.
Saat dikonfirmasi, Dewan Pengawas RSI Sultan Agung Farhat Suryaningrat membantah adanya kekerasan terhadap dokter di rumah sakit RSI itu.
"Tidak ada cakaran, tidak ada kontak fisik. Ini hanya miskomunikasi akibat kepanikan seorang ayah," ujar Farhat kepada wartawan, Selasa (9/9).
Ia menjelaskan, masalah ini bermula ketika istri MDS menjalani proses persalinan dengan kondisi berisiko tinggi. Dokter lalu merekomendasikan operasi caesar. Namun, keluarga pasien bersikeras menginginkan persalinan normal.
"Setelah bayi lahir, kondisi sempat menegangkan karena ibunya membutuhkan penanganan tambahan. Dalam situasi itu, keluarga pasien panik dan meluapkan emosi di ruang perawatan," jelas dia.
Saat ini, lanjut dia, bayi dan istri MDS juga dalam kondisi sehat dan selamat. Perkara ini juga sudah diselesaikan secara internal namun MDS akan tetap dikenakan sanksi.
"Pasien lahir normal, ibunya sehat, bayinya sehat. Intinya sudah diselesaikan secara internal. Tetap ada punishmentnya," tegas Farhat.
Sementara itu, Ketua IDI Kota Semarang Sigid Kirana Lintang menambahkan, pihaknya telah membentuk tim untuk melakukan pendampingan apabila dokter Astra mengajukan laporan resmi.
"Selama ini kami hanya mengetahui kasus ini dari media sosial. Jadi, kebenarannya seperti apa dan bentuk penganiayaannya seperti apa. Namun, sebagai organisasi profesi, kami juga punya kewajiban untuk memberikan pendampingan kepada dokter yang menjadi korban," kata Sigid.
โ€” โ€” โ€”
#JagaIndonesiaLewatFakta kumparan mengajak masyarakat lebih kritis, berperan aktif, bijak, dan berpegang pada fakta dalam menghadapi isu bangsa, dari politik, ekonomi, hingga budaya. Dengan fakta, kita jaga Indonesia bersama.
Trending Now