Ramai Pengusaha Wisata Demo di Gedung Sate: Study Tour Dilarang, Omzet Turun 60%

21 Juli 2025 14:59 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ramai Pengusaha Wisata Demo di Gedung Sate: Study Tour Dilarang, Omzet Turun 60%
“Penurunan 60 persen dari Rp 80 juta per bulan. Sekitar Rp 30 juta. Dengan angka itu, pengusaha tidak bisa untuk membayar cicilan pihak leasing, pihak perbankan,” ujar Herdi Sudardja.
kumparanNEWS
Massa pekerja dan pelaku usaha pariwisata demo "aksi damai" atas penolakan larangan kegiatan study tour, di depan Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (21/7/2025). Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Massa pekerja dan pelaku usaha pariwisata demo "aksi damai" atas penolakan larangan kegiatan study tour, di depan Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (21/7/2025). Foto: Dok. Istimewa
Massa pekerja dan para pelaku usaha pariwisata di Jawa Barat melakukan demo "aksi damai" di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, pada Senin (21/7). Mereka meminta kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi untuk mencabut Surat Edaran (SE) 43/PK.03.04/KESRA tentang pelarangan kegiatan study tour.
Di lokasi, beberapa armada bus terlihat berjajar. Jalan di depan Gedung Sate turut ditutup untuk sementara waktu. Akibatnya, terjadi kemacetan dari Jalan Diponegoro hingga Jalan Cilamaya.
Koordinator Aksi Solidaritas para pekerja pariwisata Jawa Barat, Herdi Sudardja, mengatakan pihaknya sudah mengajukan surat permohonan kepada Dedi Mulyadi untuk mencabut kebijakan pelarangan study tour, namun hingga kini surat tersebut tidak mendapatkan respons sehingga dia berharap bisa bertemu langsung.
“Kita ketemu dengan Gubernur Jabar. Karena kita sudah melakukan beberapa upaya, termasuk audiensi, termasuk para pengusaha dari sektor transformasi pariwisata Jabar, sudah melayangkan surat yang saya dapat info ke Gubernur pada bulan Mei 2025. Saat itu tidak direspons oleh yang bersangkutan oleh Gubernur,” kata Herdi di lokasi.

Pendapatan Pariwisata Menurun

Massa pekerja dan pelaku usaha pariwisata demo "aksi damai" atas penolakan larangan kegiatan study tour, di depan Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (21/7/2025). Foto: Dok. Istimewa
Menurutnya, kebijakan ini membuat geliat di sektor pariwisata terdampak. Bahkan pendapatan bulanan perusahaan pariwisata diakuinya turun hingga 60 persen.
Selain itu, ia mengkhawatirkan kondisi ini bisa berimbas kepada para pelaku usaha pariwisata. Sebab kondisi kini jauh lebih memperhatikan daripada zaman pandemi COVID-19.
Padahal di Jawa Barat, katanya, penyumbang terbesar penumpang adalah wisatawan lokal, bukan mancanegara.
“Karena tidak ada order bagaimana pengusaha bisa bertahan? Bahkan saya katakan ini lebih daripada resesi waktu kita COVID-19. COVID-19 jelas, berhenti. Beban perusahaan, para pengusaha juga banyak dihentikan. Beban-bebannya termasuk dari pihak pembiaya,” ucapnya.

13 Ribu Pelaku Usaha Unjuk Rasa

Anggota Asosiasi Jip Wisata Lereng Merapi (AJWLM) bersama para pelaku wisata lainnya demo di Gedung Sate Bandung soal kebijakan Pemprov Jabar yang larang study tour, Senin (21/7/2025). Foto: Dok. AJWLM
Aksi damai ini juga dihadiri kurang lebih 13 ribu pekerja dari sektor pariwisata di Jawa Barat dan sekitarnya, termasuk Asosiasi Jip Wisata Lereng Merapi (AJWLM).
“Kalau total saya bilang tadi, yang bekerja di sektor ini di Jawa Barat sekitar 8.000. Itu yang formal. Yang informal itu sekitar 5.000. Yang berarti ada 13.000. Yang informal itu saya katakan, karena bekerja di sektor transportasi itu rata-rata informal,” ujar Herdi.
Gedung Sate. Foto: Dok. Humas Pemprov Jabar
Gedung Sate. Foto: Dok. Humas Pemprov Jabar
Massa pekerja dan pelaku usaha pariwisata demo "aksi damai" atas penolakan larangan kegiatan study tour, di depan Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (21/7/2025). Foto: Dok. Istimewa
Massa pekerja dan pelaku usaha pariwisata demo "aksi damai" atas penolakan larangan kegiatan study tour, di depan Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (21/7/2025). Foto: Dok. Istimewa
Trending Now