Rela Antre Hampir Setengah Jam Demi Semangkuk Bubur Ayam Usai CFD di HI
19 Oktober 2025 12:06 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
Rela Antre Hampir Setengah Jam Demi Semangkuk Bubur Ayam Usai CFD di HI
Bubur ayam jadi salah satu kudapan yang dicari oleh warga yang selesai olahraga di CFD Sudirman-Thamrin.kumparanNEWS

Minggu pagi (19/10), trotoar di Jalan Blora, Menteng, Jakarta Pusat, dipenuhi antrean yang mengular. Di antara para pelari dan pejalan kaki yang tengah mengikuti car free day (CFD) di Bundaran HI, ada satu titik yang mencuri perhatian: sebuah ruko sederhana bertuliskan Bubur Ayam Sunda.
Deretan orang tampak menunggu giliran, sebagian menenteng mangkuk kosong yang baru saja dibagikan.
Di balik gerobak, tangan para penjual bergerak cepat, memorsikan bubur panas ke mangkuk-mangkuk besar. Tak lama, satu porsi sudah berpindah tangan ke pelanggan berikutnya.
Warung ini bukan pemain baru. Berdiri sejak sekitar tahun 1999, Bubur Ayam Sunda dulunya menempati area kantin di dalam Stasiun Sudirman.
Namun setelah dilakukan peremajaan dan penertiban kawasan, mereka pindah ke deretan toko-toko persis di seberang stasiun, tepat di Jalan Blora. Lokasi baru ini ternyata justru membuatnya makin dikenal luas, terutama di hari Minggu saat CFD berlangsung.
βIya, pokoknya tiap hari buka. Dari jam 05.30 pagi sampai 21.30 malam,β ujar Yusuf (29), salah satu pekerja di warung tersebut saat ditemui kumparan.
βKalau lagi CFD gini ya, hari Minggunya, sampai jam 13.30 siang aja,β sambungnya.
Menurut Yusuf, antrean dan pemasukan pada hari CFD bisa tiga kali lipat lebih ramai dibanding hari biasa.
βSehari, habis dua dandang gede lah, gitu. 8 liter, 8 liter. Sekitaran 16 liter berarti,β ujar Yusuf.
Harga Murah Meriah
Menu andalannya sederhana: bubur ayam khas Sunda tanpa kuah, disajikan lengkap dengan topping ayam suwir, cakwe, kacang, dan seledri. Semangkuk besar bubur ini dibanderol Rp 18.000. Di meja pelanggan, tersedia aneka sate pendamping seperti sate usus dan sate ati ampela.
kumparan mencoba bubur tersebut setelah antre kurang lebih 20 menit. Rasanya sudah gurih tanpa tambahan kecap atau sambal. Teksturnya lembut dan porsinya besar, cukup untuk membuat perut kenyang bahkan bagi yang baru selesai berolahraga di CFD.
Selain bubur, warung ini juga menyediakan menu lain seperti mie ayam dan soto ayam, namun tetap saja bubur ayamnya yang paling diburu.
Tak sedikit pengunjung yang datang karena penasaran melihat antrean panjang itu. Salah satunya Ruby (26), warga Bogor yang pagi itu rela berdiri selama hampir 20 menit.
βAduh, saya 20 menit ngantre. Tukang bubur doang bisa sepanjang itu antreannya,β ujarnya sambil tertawa.
Meski begitu, rasa penasaran Ruby terbayar.
βYa, rasanya seperti kayak bubur biasanya, ya, tapi mungkin yang beda karena ukurannya aja, ya, besar, ya. Tapi rasanya mah, ya, sama aja,β katanya.
Ia menilai harga Rp 18.000 sepadan dengan porsi yang didapat. βKan harganya juga Rp 18.000, ya, jadi, ya, worth it-lah,β tuturnya.
Ruby mengaku baru pertama kali mencoba karena sering melihat warung itu ramai di media sosial.
βBaru nyobain tadi karena emang itu, kan, dibanding tukang bubur yang lain yang ada di Jakarta, itu rame. Jadi, saya kepo tuh pengin lihat. Karena, kan, orang biasanya, kan, kalau yang lagi viral-viral mah disamperin, ya,β ceritanya.
Penasaran Karena Viral
Cerita serupa datang dari Taufiq (25), pengunjung lain yang juga datang karena viral di media sosial.
βSaya pernah, tapi bukan, bukan yang libur. Waktu itu pagi banget gitu, pas baru buka, nah itu enggak ngantre. Kalau sekarang, ternyata kalau udah agak siangan tuh ternyata ngantre banget gitu,β katanya.
Ia mengaku baru kedua kalinya datang ke tempat ini.
βSaya pertamanya ke sini karena viral, ya, di media sosial, di IG. Saya lihat di IG, terus saya penasaran, nih, gitu. Waktu itu terus pagi-pagi banget saya datang, oh, ternyata baru buka sekitar jam 06.00 WIB waktu itu, pertama kali. Dan ini yang kedua kalinya saya coba, ternyata ngantri banget, ya,β ucapnya.
Bagi Taufiq, rasa bubur ini memang tidak jauh berbeda dengan bubur lainnya, tapi ada beberapa hal yang membuatnya layak ditunggu.
βRasa bubur seperti pada umumnya sebetulnya, cuma yang spesial memang di sini porsinya banyak dan kalau bisa dibilang, ya, enaklah gitu daripada bubur-bubur yang biasa di pinggir-pinggir jalan,β jelas Taufiq.
βWorth it banget karena itu, kan, banyak, ya. Apalagi tempatnya bersih kayak gitu. Kalau di pinggir-pinggir jalan, kita, kan khawatirannya, kebersihannya kurang kayak gitu. Kalau ini, kan, udah di rumahan gitu, udah ada tokonya,β tambahnya.
