Rumah Fitri, Siswi SMP yang Hidup Sendirian di Banjar, Direnovasi Pemkab

16 Desember 2025 15:58 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rumah Fitri, Siswi SMP yang Hidup Sendirian di Banjar, Direnovasi Pemkab
Rumah remaja yang hidup sebatang kara, Fitri (15), warga Desa Sungai Tabuk Keramat, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, akhirnya direnovasi.
kumparanNEWS
Rumah peninggalan nenek Fitri di atas rawa. Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Rumah peninggalan nenek Fitri di atas rawa. Foto: kumparan
Rumah remaja yang hidup sebatang kara, Fitri (15), di Desa Sungai Tabuk Keramat, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, akhirnya direnovasi.
Perbaikan atau pembangunan ulang rumah yang berada di atas rawa itu dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Banjar melalui Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup (DPRKPLH) dengan total anggaran sebesar Rp 26 juta.
β€œIya ini baru kita memulai membangun rumahnya. Semoga bisa cepat selesai,” ujar Kepala DPRKPLH Kabupaten Banjar, Ahmad Bayhaqie, Selasa (16/12/2025).
Bayhaqie menambahkan, pembangunan ulang rumah Fitri tergolong cukup rumit lantaran lahan tempat rumah tersebut berdiri dalam kondisi terendam air.
β€œBahan kayu ulin, dan kita berharap air tidak semakin meninggi. Karena beberapa hari terakhir cuaca sering hujan,” ungkapnya.
Proses renovasi rumah Fitri. Foto: Istimewa
Selain bedah rumah, berbagai bantuan juga telah diterima oleh Fitri melalui perangkat desa, seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan bantuan sosial untuk anak yatim piatu.
Sementara itu, Fitri sangat bersyukur rumah miliknya dibangun ulang agar lebih layak untuk dihuni. Selama ini, rumah yang ditempatinya sangat sederhana, dengan kondisi beberapa bagian seperti dinding yang mulai lapuk hingga atap yang bocor.
β€œAlhamdulillah, saya sangat bersyukur dan berterimakasih,” ucap Fitri.
Fitri saat ditemui di rumahnya di Banjar, Kalsel. Foto: kumparan
Dia berharap proses pembangunan tersebut dapat selesai dengan cepat.
Fitri tinggal seorang diri sejak sang nenek meninggal dunia tiga tahun silam. Sedangkan orang tua Fitri tak diketahui keberadaannya sejak dia kecil.
Fitri saat ditemui di rumahnya di Banjar, Kalsel. Foto: kumparan
Sejak saat itu, Fitri harus berjuang sendiri untuk bertahan hidup. Bahkan, ia bekerja sebagai pembungkus roti dengan upah Rp 20 ribu/hari dan kerap diminta tolong membeli bumbu-bumbu makanan dengan upah Rp 7 ribu-Rp 10 ribu.
Meski diakui Fitri banyak pihak yang ingin mengadopsinya, bahkan menawarkan untuk tinggal di panti asuhan, remaja itu memilih tetap bertahan di rumahnya.
Trending Now