Saat Bandung dan Subang Dilanda Banjir, Ketinggian Air Tak Biasa
5 Desember 2025 6:17 WIB
ยท
waktu baca 5 menit
Saat Bandung dan Subang Dilanda Banjir, Ketinggian Air Tak Biasa
Warga di Kab. Bandung menyebut ketinggian air kali ini tidak seperti biasanya. kumparanNEWS

Tanggul jebol mengakibatkan banjir di Desa Mekar Rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, Senin (1/12). Jebolnya tanggul itu menyebabkan dua mobil milik warga terseret arus, dan sebanyak 22 keluarga terdampak.
"Ada dua kendaraan mobil yang terbawa hanyut, yaitu mobil Avanza dan mobil Kijang," kata Ketua RT 01 RW 01, Desa Mekar Rahayu, Ratmanto saat ditemui di lokasi, Selasa (2/12).
"Kita ada 22 KK yang terendam banjir di sini sama di bawah," kata dia melanjutkan.
Ratmanto mengatakan, kemarin arus mulai datang sekitar pukul 15.30 WIB setelah hujan sejak pukul 14.00 WIB. Air dengan debit cukup tinggi meluap dari arah Kota Bandung menuju Sungai Citarum sehingga mengakibatkan tanggul jebol.
"Jadi setengah empat itu air meluap dari arah Bandung menuju ke arah Citarum, yang mengakibatkan tembok ini roboh karena debit airnya terlalu besar," ujar Ratmanto.
Banjir juga merendam sembilan kontrakan dan satu gor yang berada di pinggiran sungai.
"Kontrakan sembilan, rumah juga ada yang di bawah. Gor juga terendam banjir dan roboh bentengnya karena arus air dari sini deras," ucap Ratmanto.
Saat ini, mobil Kijang yang terbawa arus itu sudah dievakuasi.
"Alhamdulillah baru saja satu mobil sudah terangkat, mobil kijang," kata Ratmanto.
Selamatkan Ibu yang Sakit Stroke
Susi (45), salah satu warga yang terdampak banjir, kelimpungan ketika banjir datang. Ia harus menyelamatkan sang ibu, seorang lansia yang sakit stroke.
"Bisa jalan tapi kan cuma sedikit, makanya begitu air masuk, udah panik kan, aduh siapa, orang kan otomatis sibuk menyelamatkan diri masing-masing, tapi untungnya masih ada yang sadar, lelaki di sini bantuin ibu saya," kata Susi.
Susi menyebut, biasanya banjir datang tidak setinggi itu. Kemarin, kata dia, tinggi banjir mencapai 1,5 meter.
"Sering banjir, tapi paling sampai semata kaki, kemarin se dada," ucap Susi.
Pilu Ema Jadi Korban Banjir di Bandung: Mesin Jahit Terendam, Tak Ada Pemasukan
Ema (48) sedang termenung di halaman rumahnya saat ditemui pada Selasa (2/12). Situasi banjir yang merendam rumahnya pada Senin (1/12) masih terekam jelas di kepalanya.
Ema merupakan seorang asisten rumah tangga. Warga Desa Mekar Rahayu, Kecamatan Margasih, Kabupaten Bandung, itu dipercaya oleh majikannya untuk mengurus usaha jahit di kontrakan petak yang ditinggalinya. Pendapatannya dihitung setiap pekan bagi hasil dengan sang pemilik.
Namun, kini mesin jahit itu tidak berfungsi karena terendam banjir setinggi 1,5 meter.
"Punya majikan. Ibu teh kerja udah lama, hampir 10 tahunan, jadi udah percaya dia teh. Jadi anaknya teh nitipin mesin gitu, bukan punya ibu sendiri," kata Ema ketika berbincang dengan kumparan.
"Jadi udah dipercaya ibu teh. Sekarang kena dampak ini enggak bisa maju lah. Kan itu servonya mati semua kerendam," lanjutnya.
Ema menyebut, ada tujuh mesin jahit yang rusak terendam banjir. Akibatnya, ia kehilangan pendapatan dan belum bisa bekerja lagi.
"Kerendam, mau dijemur gak ada panas tadi. Dibenerin kayaknya bisa, tapi kan perlu duit. Boro-boro, ada yang ngasih nasi rames tadi juga nggak ada," ucap Ema.
Ema mengatakan, usaha jahit itu merupakan pendapatan utama suaminya sambil ia bekerja sebagai asisten rumah tangga. Total pendapatan yang hilang, kata dia, sekitar Rp 200.000.
"Kalau enggak kerja mah ini, dari kemarin sama sekarang Rp 200.000 lebih hilang," kata Ema.
Sementara itu, ia harus membayar kontrakan dan listrik, serta membiayai anaknya yang masih sekolah.
"Kontrakan ini Rp 500.000, listrik Rp 200.000, belum bekal anak sekolah," kata Ema.
"Jadi ibu dari tadi merenung terus-terusan apalagi ini cuaca kayak gini takut terjadi lagi gitu," kesahnya.
Pikirannya kalut karena ia tidak mempunyai biaya untuk kehidupan sehari-hari selama mesin jahit itu belum bisa digunakan lagi.
"Biarin nanti aja beres-beres, cari duit dulu buat sehari-hari itu, buat makan, belum ada banget, belum ada bantuan," ucap dia.
Banjir Satu Meter Kepung 6 Rumah di Sukarame, Warga Ngaku Pertama Kali Ngungsi
Banjir setinggi pinggul orang dewasa merendam permukiman di Kampung Sukarame, RT 03 RW 16, Desa Cingcin, Kecamatan Soreang, pada Kamis (4/12/2025).
Luapan anak Sungai Citarum membuat warga terpaksa meninggalkan rumah untuk pertama kalinya bahkan videonya viral di media sosial.
Dalam video tersebut memperlihatkan kondisi air yang masuk ke rumah salah satu warga dengan ketinggian air mencapai pinggang orang dewasa.
Pantauan di lokasi, banjir mencapai sekitar satu meter merendam enam rumah warga. Kondisinya gelap gurita lantaran aliran listrik dalam rumah dimatikan demi menghindari risiko korsleting.
Mereka juga sudah meninggalkan rumah dan mengevakuasi diri ke kediaman sanak saudaranya.
Muhamad Firman Ramadhan (23), salah seorang warga Sukarame, mengaku kejadian kali ini jauh di luar kebiasaan.
โSeumur tinggal di sini baru kali pertama sampai segini, biasanya cuma mata kaki ini sudah sampe satu meter,โ ujarnya saat ditemui di lokasi.
Ia juga menjelaskan, setiap hujan deras turun, biasanya luapan anak Sungai Citarum tidak sampai membuat wilayahnya tergenang dan hanya melintas.
Namun baru kali ini wilayahnya tergenang banjir bahkan, terpaksa mengungsi ke rumah saudara.
Banjir Rob Terjang 2 Desa di Subang, Ratusan Rumah Terendam
Bencana banjir rob terjadi di Desa Mayangan dan Desa Legonwetan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, usai hujan dengan intensitas tinggi pada Kamis (4/12).
"Penyebab kejadian banjir rob," kata Pranata Humas Ahli Muda BPBD Jabar, Hadi Rahmat, melalui keterangan yang diterima.
Akibat banjir rob ini, 266 rumah warga di Desa Mayangan dan 487 rumah warga di Desa Legonwetan terendam. Selain itu, pihaknya juga mencatat 1.160 warga terdampak.
"Banjir masih terjadi dan bisa saja lebih tinggi lagi," ucap dia.
