Saat Rakyat AS Marah Akibat Komentar Menkes soal Autisme Merusak Keluarga
3 Juni 2025 13:34 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
Saat Rakyat AS Marah Akibat Komentar Menkes soal Autisme Merusak Keluarga
Orang tua di AS membagikan kisah mereka merawat anak yang mengidap autisme.kumparanNEWS

Pengidap autisme di Amerika Serikat jadi perhatian usai Menkes Robert F. Kennedy Jr. menyebut autisme menghancurkan keluarga. RFK Jr. bahkan berjanji akan melakukan penelitian menyeluruh demi mengidentifikasi faktor lingkungan yang mungkin jadi penyebab autisme.
Komentar RFK Jr menuai kontroversi hingga kecaman. Orang tua di AS kemudian membagikan kisah mereka menjalani hidup bersama anggota keluarga yang mengidap autisme. Kelly Van Den Berghe, ibu asal Massachusetts, memiliki putra bernama Daniel (18) yang didiagnosis mengidap autisme.
Daniel tidak bisa berbicara meski dibantu dengan tablet untuk berkomunikasi. Dia juga sering memukul dirinya sendiri, yang berisiko patah tulang atau gegar otak.
Sekitar 10 tahun lalu, dokter merekomendasikan Daniel dirawat di fasilitas perawatan penuh waktu demi keamanannya. Butuh waktu bertahun-tahun sampai akhirnya Van Den Berghe setuju anaknya dirawat di fasilitas kesehatan.
"Saya yakin jika anak saya bisa memberi tahu kami, dia tidak menginginkan autisme karena autisme tidak mempengaruhinya secara positif. Jadi bagi saya, memiliki seseorang yang akhirnya mengakui anak saya adalah hal yang luar biasa," kata Van Den Berghe, sebagaimana diberitakan AP, Selasa (3/6).
Orang tua lainnya, Eileen Lamb, mengungkap kesulitan yang dia dan anaknya hadapi karena autisme. 10 tahun lalu dia menyadari bahwa anak sulungnya, Charlie, mengidap autisme.
Kehidupan mereka di Austin, Texas, menjadi hal yang menakutkan tak hanya bagi Charlie, tapi juga adiknya yang mengidap autisme, Jude (9), dan adik bungsunya Billie (2).
Di usia 12 tahun, Charlie masih harus diawasi, khususnya karena punya kebiasaan makan benda yang bukan makanan. Di malam hari, Lamb harus mengawasi Charlie dengan kamera video, pendeteksi gerakan, dan tempat tidur pengaman untuk memastikan anaknya tidak membenturkan kepala atau mencoba makan tembok.
Di blognya, Lamb membagikan kiat-kiat terapi hingga berbagai kenangan keluarga bersama anak-anaknya. Lamb menyebut Charlie mungkin tidak bisa bermain baseball atau berkencan seperti yang dikatakan RFK Jr. Tapi dia tidak mau hanya melihat keterbatasan anaknya.
"Saya paham maksud pernyataannya (RFK Jr). Tapi saya rasa itu bukan cara untuk mengukur nilai kehidupan anak-anak kita. Apa yang kita nyatakan penting," kata Lamb.
Orang tua lainnya, Copeland, tak sepakat dengan deskripsi autisme yang disampaikan RFK Jr karena putranya yang berusia 21 tahun mengidap autisme. Namun, dia yakin RFK Jr. tak punya pengalaman dengan autisme berdasarkan pernyataannya itu.
"Saya tidak menghargai mereka yang menampilkan diri sebagai ahli padahal mereka tidak tahu apa-apa," katanya.
JFK Jr. menyebut autisme sebagai penyakit yang dapat dicegah. Namun, para orang tua heran karena sudah ada jawaban yang jelas tentang penyebab autisme: genetik. Ilmuwan juga telah menyimpulkan bahwa faktor signifikan autisme adalah genetik.
Seorang ibu yang juga ahli patologi wicara di North Carolina, Ashley Seliquini, menyebut genetik berperan ketika dia dan putrinya yang berusia 5 tahun didiagnosis autisme. Dia dan putrinya kadang kehilangan kemampuan berbicara. Putrinya juga tidak terlalu suka dengan suara keras.
"Anda melihatnya di keluarga. Kadang orang tua tidak sadar kalau mereka juga autis. Setelah anak mereka dapat diagnosa, mereka baru sadar 'Ya ampun, saya autis juga'," katanya.
Hal lain yang jadi perhatian orang tua adalah saat JFK Jr. dan Presiden Donald Trump menyebut vaksin mungkin jadi penyebab meningkatnya pengidap autisme di AS, meski peneliti menyatakan sebaliknya.
Lamb berharap tidak perlu lagi ada penelitian yang meneliti soal hubungan vaksin dan autisme. Menurutnya, peneliti sudah dengan tegas menyatakan tak ada hubungan antara vaksin dan autisme.
Sebaliknya, dia berharap pemerintah lebih fokus mencari cara mendukung rumah tangga yang anggota keluarganya mengidap autisme.
"Ini tak hanya soal apa penyebabnya, tapi juga bagaimana kita membantu mereka," kata Lamb.
